Guru di SMAN 1 Purwakarta yang Dihina Muridnya Kini Viral, Donasikan Uang 25 Juta Pemberian KDM
Talitha Daren April 23, 2026 02:38 PM

TRIBUNTRENDS.COM - Syamsiah, guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) di SMAN 1 Purwakarta yang akrab disapa Bu Atun, kembali menjadi sorotan publik.

Namanya mencuat setelah sempat viral karena menjadi korban candaan atau ledekan dari sejumlah siswanya.

Di balik peristiwa tersebut, terungkap bahwa ia dikenal sebagai sosok yang sabar dan tetap berdedikasi dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik.

Kehidupan pribadinya juga disebut jauh dari kemewahan dan cenderung sangat sederhana.

Momen pertemuan Bu Atun dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, pada Selasa (21/4/2026) turut menarik perhatian publik.

Dalam pertemuan itu, ia memperlihatkan sisi kehidupannya yang rendah hati dan penuh kepedulian sosial.

Dedi Mulyadi mengaku terkesan dengan keteguhan serta keikhlasan Bu Atun dalam menjalani hidupnya.

Sebagai bentuk apresiasi, Dedi Mulyadi memberikan bantuan uang tunai sebesar Rp25 juta kepada sang guru.

Namun, alih-alih digunakan untuk kepentingan pribadi, Bu Atun justru menunjukkan niat berbeda.

Ia berencana menyumbangkan seluruh uang tersebut untuk sebuah yayasan anak yatim yang ia bina di dekat rumahnya.

Sikap tersebut semakin memperkuat citra dirinya sebagai sosok yang mengutamakan kepedulian terhadap sesama.

Baca juga: 9 Murid SMAN 1 Purwakarta yang Menghina Guru Akan Dibawa ke Barak Militer, Terungkap Kondisinya

Pilih naik angkot demi berempati

Dicukil dari video di akun YouTube Dedi Mulyadi, dalam pertemuan itu, Bu Atun menceritakan rutinitas kesehariannya menuju sekolah.

Alih-alih menggunakan kendaraan pribadi, ia lebih memilih menggunakan angkutan kota (angkot) setiap hari.

Ada alasan mulia di balik pilihan tersebut. Selain karena faktor keamanan, Bu Atun ingin mengamalkan langsung nilai-nilai kerakyatan yang ia ajarkan di kelas.

Ia juga mengaku iba mendengar keluhan para sopir angkot tentang sepinya penumpang.

"Enggak (pakai motor), khawatir naik motor. Dan melatih merakyat juga. Artinya menjiwai seperti apa sih," ungkap Bu Atun saat berbincang dengan Dedi Mulyadi.

Baca juga: Sikap Guru SMAN 1 Purwakarta yang Maafkan Para Siswa yang Mengoloknya Dipuji Wakil Bupati Purwakarta

GURU DIOLOK SISWA - Syamsiah alias Bu Atun memutuskan tidak membawa kasus ke jalur hukum meski sempat diolok-olok siswa SMA 1 Purwakarta. (Istimewa/Threads)

Menganggap murid sebagai anak kandung

Meski belum memiliki anak biologis dan tinggal bersama sang kakak, Bu Atun mengaku sangat mencintai profesinya karena ia menganggap seluruh siswa di SMAN 1 Purwakarta sebagai anak kandungnya sendiri.

"Banyak anaknya, di SMA 1," ujar Bu Atun saat ditanya mengenai buah hatinya.

Terkait aksi tidak sopan sembilan siswanya yang viral di media sosial, Bu Atun menegaskan telah memaafkan mereka dengan ikhlas, bahkan sebelum mereka meminta maaf.

Baginya, kesalahan murid adalah bagian dari proses pendidikan akhlak.

"Saya sangat memaafkan, supaya mereka menjadi anak-anak yang berakhlak, memahami kesalahan," tegasnya.

Baca juga: Penyebab 9 Siswa SMAN 1 Purwakarta Mengacungkan Jari Tengah ke Guru, Bagi Kelompok untuk Tugas

SISWA HINA GURU - Video mengolok-olok guru jadi viral, satu kelas di SMAN 1 Purwakarta buat video meminta maaf
SISWA HINA GURU - Video mengolok-olok guru jadi viral, satu kelas di SMAN 1 Purwakarta buat video meminta maaf (Tribun Trends/Instagram @infojawabarat dan via Youtube Banjarmasin Post News Video)

Donasikan Rp 25 juta untuk anak yatim

Kekaguman Dedi Mulyadi semakin memuncak saat Bu Atun menunjukkan kerendahan hatinya.

Diketahui, Dedi yang terharu mendengar cerita hidup Bu Atun, kemudian memberikan uang tunai sebesar Rp 25 juta.

Namun, alih-alih menggunakan uang tersebut untuk kepentingan pribadi, Bu Atun justru langsung berniat menyumbangkan seluruh uang tersebut ke yayasan anak yatim yang ia bina di depan kediamannya.

"Saya niatkan niat baik bapak menjadi ganda. Rp 25 juta akan saya sumbangkan kepada yayasan yatim yang saya bina. Karena saya punya yayasan yatim di depan saya," ujar Bu Atun.

Mengenai sanksi bersih-bersih lingkungan sekolah yang diberikan kepada para siswanya, Bu Atun setuju selama hal tersebut bertujuan untuk mendidik, bukan karena rasa benci.

"Kalau itu memungkinkan menjadikan anak-anak menjadi lebih baik kenapa tidak? Enggak apa-apa Pak bagus, tapi kasih sayang kita tetap, perlakukan dia sebagaimana dia manusia. Menghukum itu bukan membenci, menghukum itu menyayangi," pungkasnya.

(TribunTrends.com/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.