TRIBUNTRENDS.COM - Syamsiah, guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) di SMAN 1 Purwakarta yang akrab disapa Bu Atun, kembali menjadi sorotan publik.
Namanya mencuat setelah sempat viral karena menjadi korban candaan atau ledekan dari sejumlah siswanya.
Di balik peristiwa tersebut, terungkap bahwa ia dikenal sebagai sosok yang sabar dan tetap berdedikasi dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik.
Kehidupan pribadinya juga disebut jauh dari kemewahan dan cenderung sangat sederhana.
Dicukil dari video di akun YouTube Dedi Mulyadi, dalam pertemuan itu, Bu Atun menceritakan rutinitas kesehariannya menuju sekolah.
Alih-alih menggunakan kendaraan pribadi, ia lebih memilih menggunakan angkutan kota (angkot) setiap hari.
Ada alasan mulia di balik pilihan tersebut. Selain karena faktor keamanan, Bu Atun ingin mengamalkan langsung nilai-nilai kerakyatan yang ia ajarkan di kelas.
Ia juga mengaku iba mendengar keluhan para sopir angkot tentang sepinya penumpang.
"Enggak (pakai motor), khawatir naik motor. Dan melatih merakyat juga. Artinya menjiwai seperti apa sih," ungkap Bu Atun saat berbincang dengan Dedi Mulyadi.
Baca juga: Sikap Guru SMAN 1 Purwakarta yang Maafkan Para Siswa yang Mengoloknya Dipuji Wakil Bupati Purwakarta
Meski belum memiliki anak biologis dan tinggal bersama sang kakak, Bu Atun mengaku sangat mencintai profesinya karena ia menganggap seluruh siswa di SMAN 1 Purwakarta sebagai anak kandungnya sendiri.
"Banyak anaknya, di SMA 1," ujar Bu Atun saat ditanya mengenai buah hatinya.
Terkait aksi tidak sopan sembilan siswanya yang viral di media sosial, Bu Atun menegaskan telah memaafkan mereka dengan ikhlas, bahkan sebelum mereka meminta maaf.
Baginya, kesalahan murid adalah bagian dari proses pendidikan akhlak.
"Saya sangat memaafkan, supaya mereka menjadi anak-anak yang berakhlak, memahami kesalahan," tegasnya.
Baca juga: Penyebab 9 Siswa SMAN 1 Purwakarta Mengacungkan Jari Tengah ke Guru, Bagi Kelompok untuk Tugas
Kekaguman Dedi Mulyadi semakin memuncak saat Bu Atun menunjukkan kerendahan hatinya.
Diketahui, Dedi yang terharu mendengar cerita hidup Bu Atun, kemudian memberikan uang tunai sebesar Rp 25 juta.
Namun, alih-alih menggunakan uang tersebut untuk kepentingan pribadi, Bu Atun justru langsung berniat menyumbangkan seluruh uang tersebut ke yayasan anak yatim yang ia bina di depan kediamannya.
"Saya niatkan niat baik bapak menjadi ganda. Rp 25 juta akan saya sumbangkan kepada yayasan yatim yang saya bina. Karena saya punya yayasan yatim di depan saya," ujar Bu Atun.
Mengenai sanksi bersih-bersih lingkungan sekolah yang diberikan kepada para siswanya, Bu Atun setuju selama hal tersebut bertujuan untuk mendidik, bukan karena rasa benci.
"Kalau itu memungkinkan menjadikan anak-anak menjadi lebih baik kenapa tidak? Enggak apa-apa Pak bagus, tapi kasih sayang kita tetap, perlakukan dia sebagaimana dia manusia. Menghukum itu bukan membenci, menghukum itu menyayangi," pungkasnya.
(TribunTrends.com/Kompas.com)