TRIBUNNEWSDEPOK.COM, JAKARTA – Niat hati ingin mengurai kemacetan, apa daya proyek justru tak kunjung usai. Itulah gambaran proyek pembangunan jalan tembus di samping rel kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Meski sudah dimulai sejak tahun 2014 pada era Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), hingga kini di tahun 2026, progres pembangunannya masih belum menunjukkan hasil yang signifikan alias mangkrak.
Warga pun mulai mempertanyakan keseriusan pemerintah merampungkan akses krusial ini.
Baca juga: Penataan Puncak Bogor Terus Berlanjut, Pemkab Bogor akan Rombak Total Simpang Gadog
Jalan tembus sepanjang kurang lebih dua kilometer ini sejatinya dirancang sebagai jalur alternatif strategis yang menghubungkan kawasan Kalibata, Tanjung Barat, Lenteng Agung, hingga tembus ke Depok, Jawa Barat.
Namun, pantauan di lapangan pada Kamis (23/4/2026), kondisi proyek masih terpotong-potong. Alih-alih kelanjutan aspal jalan, justru yang terlihat adalah pengerjaan pemasangan pipa di beberapa titik dekat Halte Kemuning, Jalan Rawajati Timur.
Kondisi jalan yang sudah dilebarkan pun tampak absurd. Jarak 100 meter dari perlintasan kereta, lebar jalan tidak merata—ada bagian yang membentang 6 meter, namun tiba-tiba menyempit jadi 3 meter karena masih terhalang lahan kosong dan rumah warga. Bahkan, dua tiang listrik dibiarkan berdiri berdampingan tepat di tengah jalan.
Pengendara dari arah Kalibata yang ingin ke Depok juga masih harus bersabar melewati perlintasan kereta api sebidang yang rawan macet, terutama saat hujan yang membuat jalanan licin.
"Di sini memang suka macet pas pagi sama sore hari, karena banyak yang lewat sini kalau dari arah Pancoran atau Kalibata ke Lenteng bahkan Depok," ujar Ijal, penjaga di perlintasan sebidang di Pasar Minggu, Kamis (23/4/2026).
Bagi warga sekitar seperti Angga Wijaya (40), rampungnya jalan ini adalah harapan besar untuk memangkas waktu tempuh dan mengurai kemacetan akut di kawasan tersebut.
“Dikerjakan pas 2014, tapi sampai sekarang belum selesai. Berharap tahun ini dilanjutkan di era Pak Pramono," tuturnya.
Nasib Pembebasan Lahan Menggantung
Terhentinya proyek ini tak lepas dari kendala pembebasan lahan permukiman di dekat Stasiun Pasar Minggu, termasuk satu bangunan besar di samping SDN Pejaten Timur 11. Skema "ganti untung" yang sempat dijanjikan pemerintah tampaknya masih jalan di tempat.
"Waktu itu sempat ya, saya lupa tahun berapa, pernah dikumpulkan, tapi sekarang enggak jelas," kata Erni (bukan nama sebenarnya), salah satu warga yang terdampak proyek.
Menanggapi keluhan warga dan lambatnya progres, Kepala Pusat Data dan Informasi Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Siti Dinarwenny, menegaskan bahwa proyek ini tidak dihentikan dan pemerintah tetap berkomitmen menyelesaikannya.
"Terkait progres pembangunan Akses Jalan Sejajar Rel Pasar Minggu, Jakarta Selatan, kami sampaikan bahwa Dinas Bina Marga Provinsi DKI Jakarta berkomitmen untuk merampungkan pembangunan yang telah direncanakan agar dapat memberikan manfaat optimal bagi masyarakat," kata Siti.
Siti menjelaskan bahwa batu sandungan utama saat ini murni karena urusan pembebasan lahan yang masih berproses panjang.
"Saat ini, tahapan pengadaan tanah masih berlangsung di Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Selatan selaku Ketua Tim Pelaksana Pengadaan Tanah," jelasnya.
Berdasarkan data terkini, dari total 118 bidang tanah yang dibutuhkan, baru 59 bidang yang berhasil dibebaskan, sementara 59 sisanya (termasuk 8 aset pemerintah) masih dalam tahap negosiasi dan proses administrasi.
"Dinas Bina Marga Provinsi DKI Jakarta mengharapkan dukungan dari masyarakat agar proses pembangunan ini dapat berjalan lancar demi kepentingan bersama," pungkasnya.