HSBC: Ketidakpastian Global Tak Goyahkan Prospek Ekuitas, Indonesia Hadapi Tekanan Jangka Pendek
Sanusi April 23, 2026 05:38 PM

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik dan fluktuasi harga minyak, prospek pasar saham dunia dinilai tetap resilien.

Hal ini tercermin dari kinerja ekuitas global yang dalam beberapa tahun terakhir mampu bertahan meski dihadapkan pada berbagai krisis besar.

Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Global Research Herald van der Linde mengatakan, pasar saham pada dasarnya tidak selalu mencerminkan kondisi ekonomi secara keseluruhan, melainkan kinerja perusahaan-perusahaan yang tercatat di bursa.

Baca juga: HSBC: Krisis Energi Menekan Ekonomi RI, Pertumbuhan Ekonomi Bisa di Bawah 5 Persen

Selama perusahaan-perusahaan tersebut mampu mencatat pertumbuhan, termasuk dari dorongan investasi di sektor kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), maka pasar tetap berpeluang tumbuh.

"Pada akhirnya, pasar saham bukanlah representasi atau cerminan dari apa yang terjadi dengan ekonomi, melainkan cerminan dari apa yang terjadi dengan saham-saham yang terdaftar," tutur Herald dalam HSBC Indonesia Economy and Investment Outlook Q2 2026, Jakarta, Kamis (23/4/2026).

HSBC pun tetap mempertahankan pandangan positif terhadap ekuitas global, termasuk di pasar negara berkembang.

Tetapi, untuk Indonesia, terdapat sejumlah faktor yang perlu dicermati investor, terutama terkait posisi dalam indeks global.

Herald menyoroti isu terkait potensi perubahan status Indonesia dalam indeks MSCI. Meski demikian, ia meyakini Indonesia tidak akan diturunkan menjadi pasar frontier.

"Secara pribadi saya tidak percaya Indonesia akan diturunkan statusnya menjadi pasar perbatasan (frontier market)," jelasnya.

Kendati demikian, tantangan lain yang dihadapi pasar saham Indonesia adalah kebutuhan peningkatan free float atau porsi saham yang beredar di publik. Untuk memenuhi ketentuan indeks, banyak emiten perlu meningkatkan free float hingga sekitar 15 persen.

Hal ini berpotensi menambah pasokan saham di pasar dalam jumlah besar, yang dapat menekan harga dalam jangka pendek.

"Ini bisa cukup substansial, setidaknya beberapa miliar dolar dan itu akan membayangi pasar karena berarti ada lebih banyak pasokan saham," ujarnya.

Menurutnya, peningkatan free float pada akhirnya akan membawa dampak positif bagi pasar modal Indonesia dalam jangka panjang, karena menciptakan pasar yang lebih likuid dan menarik bagi investor.

Namun dalam jangka pendek, kondisi tersebut membuat HSBC mengambil sikap lebih berhati-hati terhadap pasar saham Indonesia.

"Jadi kami sedikit berhati-hati dan memberikan bobot underweight pada ekuitas Indonesia dalam konteks Asia saat ini," terang Herald.

Lebih lanjut, ia juga memaparkan skenario terburuk jika Indonesia benar-benar diturunkan statusnya oleh MSCI menjadi pasar frontier.

Dalam kondisi tersebut, dana investasi global, khususnya yang berbasis indeks emerging market, akan terpaksa keluar dari Indonesia.

"Itu berarti Indonesia akan menjadi pasar perbatasan (frontier market). Itu adalah kumpulan dana yang jauh lebih kecil. Artinya akan ada banyak penjualan di pasar ini karena dana pasif (ETF) yang menjalankan ETF emerging market dan saat ini memiliki eksposur ke Indonesia harus menjual saham mereka," jelasnya.

Tak hanya dana pasif, investor aktif juga berpotensi meninggalkan pasar Indonesia karena tidak lagi masuk dalam cakupan investasi mereka. Hal ini berisiko menurunkan likuiditas pasar secara signifikan.

Skenario tersebut bukanlah proyeksi utama. Ia menilai regulator di Indonesia saat ini terus berupaya menjaga posisi pasar domestik tetap berada dalam kategori emerging market.

"Saya rasa regulator melakukan apa yang mereka bisa untuk menjaga Indonesia tetap dalam indeks emerging market," imbuhnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.