TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Di tengah hiruk-pikuk pergerakan pasar yang serba cepat dan penuh godaan, satu hal yang sering luput dari perhatian justru menjadi pembeda paling krusial, pengendalian diri.
Bukan sekadar soal kecerdasan membaca grafik atau kecepatan mengambil peluang, pasar pada akhirnya lebih “menghargai” mereka yang mampu menahan dorongan emosionalnya.
Di sinilah garis tegas terbentuk antara trader yang konsisten meraih hasil dan mereka yang terus terjebak dalam siklus keputusan impulsif.
Trader yang disiplin bukan berarti tanpa emosi.
Mereka tetap merasakan takut, serakah, atau cemas, namun mampu menciptakan jarak antara dorongan dan tindakan. Mereka membeli saat harga rendah, menjual saat tinggi, dan tetap berpegang pada rencana bahkan ketika pasar bergejolak.
Sebaliknya, mereka yang gagal mengendalikan diri justru kerap terjebak pola klasik, membeli di puncak, menjual di dasar, lalu menyalahkan faktor eksternal seperti manipulasi pasar ketika mengalami kerugian.
Psikolog sekaligus Client Relationship Manager JustMarkets, Bilal Sharqawi, menyebut pasar keuangan pada dasarnya adalah “laboratorium hidup” bagi emosi manusia.
Menurutnya, kemampuan untuk berhenti sejenak, berpikir jernih, dan tetap berpegang pada rencana menjadi keunggulan nyata di tengah tekanan pasar.
“Trader yang mampu mengendalikan diri, berhenti sejenak, berpikir, dan tetap mengikuti rencana mereka akan benar-benar diuntungkan oleh pasar,” ujar Bilal, Kamis (23/4/2026).
Ia menjelaskan, dalam perspektif psikologi, pengaturan diri kerap dimaknai sebagai kemampuan menahan dorongan demi tujuan jangka panjang. Namun, dorongan tersebut bukanlah sesuatu yang sepenuhnya negatif.
Justru, dorongan itu merupakan bagian dari mekanisme bertahan hidup manusia sejak masa lalu yang kini sering kali tidak relevan dengan kondisi pasar modern.
“Pikiran kita menganggap ketidakpastian sebagai ancaman, hal baru sebagai peluang, dan kerugian sebagai serangan pribadi,” jelasnya.
Pasar keuangan, lanjut Bilal, menyediakan ketiga rangsangan tersebut dalam intensitas tinggi. Di sinilah pengendalian diri berperan sebagai “ruang jeda” antara rangsangan dan respons ruang kecil yang justru menentukan kualitas keputusan seseorang.
Tak jarang, pasar juga menjelma seperti mesin slot yang memicu perilaku impulsif. Setiap pergerakan harga (tick) dapat memicu pelepasan dopamin di otak, menciptakan sensasi serupa dengan perjudian.
Akibatnya, trader terdorong untuk terus bereaksi, bukan merencanakan.
Pola ini terlihat dari berbagai perilaku umum: mengejar peluang karena takut ketinggalan (fear of missing out), mencoba menutup kerugian dengan keputusan emosional, hingga overtrading demi ilusi kendali terhadap pasar.
“Ada juga yang mengubah definisi kemenangan. Rencana yang objektif hanya berlaku sampai pasar bergerak berlawanan. Padahal pasar tidak menghukum kecerdasan, melainkan memberi imbalan pada konsistensi,” kata Bilal.
Ia menegaskan, pasar tidak pernah peduli pada niat baik seseorang, melainkan hanya pada pola perilaku yang terus diulang.
Lebih jauh, keputusan yang diambil secara reaktif memang terasa logis dalam jangka pendek karena memberi ilusi adaptasi terhadap situasi. Namun tanpa kerangka berpikir yang jelas, seseorang hanya mengandalkan improvisasi di bawah tekanan kondisi yang justru tidak ideal untuk berpikir rasional.
Dalam ilmu keuangan perilaku, terdapat sejumlah bias yang secara sistematis melemahkan disiplin investor.
Di antaranya adalah aversi terhadap kerugian, di mana rasa sakit akibat kehilangan lebih besar dibandingkan kebahagiaan memperoleh keuntungan setara.
Hal ini membuat investor cenderung menahan aset yang merugi terlalu lama dan justru terlalu cepat melepas yang menguntungkan.
Selain itu, bias keterkinian membuat seseorang percaya bahwa tren terbaru akan terus berlanjut, sementara bias konfirmasi mendorong individu hanya mencari informasi yang mendukung keputusannya.
Ditambah lagi dengan rasa terlalu percaya diri setelah beberapa keberhasilan, yang sering kali berujung pada keputusan yang kurang rasional.
Baca juga: JustMarkets Hadirkan Platform Trading Modern untuk Kebutuhan Trader 2026
Meski pengendalian diri dapat membantu meredam dampak bias tersebut, Bilal menegaskan bahwa hal itu tidak serta-merta menghilangkannya. Tanpa kesadaran dan konsistensi, bias-bias ini tetap berpotensi membentuk kebiasaan yang merugikan dalam jangka panjang.