WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA – Eskalasi politik internal tokoh senior bangsa kembali menghangat.
Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Idrus Marham, melontarkan kritik pedas terhadap pernyataan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla alias JK, yang baru-baru ini mengungkit jasa besarnya dalam mengantarkan Joko Widodo ke kursi kepresidenan.
Idrus mengingatkan JK bahwa sebagai negarawan senior, tidaklah bijak untuk terus melakukan klaim sepihak atas peristiwa masa lalu yang justru berpotensi memicu keretakan sosial dan kegaduhan publik.
Baca juga: Polisi Uji Video Ceramah Jusuf Kalla di Lab Forensik, Dugaan Pemotongan Didalami
Idrus: Nggak Usah Mengklaim
Dalam keterangannya di kantor DPP Partai Golkar, Idrus menekankan bahwa peran seorang tokoh seharusnya dibiarkan menjadi catatan sejarah yang dinilai secara objektif oleh masyarakat, bukan dipromosikan oleh tokoh itu sendiri.
"Saya kira biarlah sejarah ini yang menilai apa peranan tokoh itu, apa jasa tokoh itu, nggak usah kita mengklaim. Karena kalau kita mengklaim, itu justru secara diametral bertentangan dengan logika masyarakat yang berkembang," tegas Idrus Marham di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Menurut Idrus, saat ini Indonesia lebih membutuhkan narasi persatuan dan harmoni untuk mendukung kinerja pemerintah ke depan, ketimbang perdebatan mengenai siapa yang paling berjasa di masa lalu.
Harapan pada Keteladanan Senior
Lebih lanjut, Idrus membawa nilai-nilai spiritual dalam kritiknya. Ia berharap JK dapat memposisikan diri sebagai uswatun hasanah atau teladan yang baik bagi generasi muda politik Indonesia, terutama dalam menjaga situasi bangsa agar tetap kondusif.
"Berilah kami contoh yang baik bagaimana sejatinya kita menempatkan diri sebagai tokoh. Situasi kondusif dan solidaritas sosial yang diinspirasi oleh patriotisme adalah prasyarat Indonesia maju," imbuhnya.
Ketegangan ini bermula saat Jusuf Kalla mengungkapkan rasa herannya terhadap para pendukung Jokowi yang kini menyerangnya usai dirinya menyinggung isu ijazah palsu.
Baca juga: Bukan Jusuf Kalla, Said Didu Akui yang Sebar Ramalan Chaos Pertengahan 2026: Saya yang Katakan
Dalam pembelaannya, JK membeberkan kronologi bagaimana dirinya menjadi "arsitek" kepindahan Jokowi dari Solo ke Jakarta.
“Siapa yang bawa Jokowi ke Jakarta? Saya yang bawa dari Solo untuk jadi gubernur,” ujar JK beberapa waktu lalu.
Ia bahkan mengisahkan pertemuannya dengan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, untuk meyakinkan bahwa Jokowi adalah kandidat terbaik.
Tak hanya sampai di situ, JK mengeklaim kontribusinya terus berlanjut hingga proses Pilpres, termasuk saat ia diminta mendampingi Jokowi sebagai Wakil Presiden.
JK bahkan menyimpan dokumentasi foto saat Jokowi menemuinya usai menang di DKI sebagai bukti historis keterlibatannya.
Kini, bola panas klaim sejarah ini menjadi ujian bagi soliditas para elite politik di tengah upaya pemerintah menjaga stabilitas nasional. Bagi Golkar, narasi JK dianggap sudah "kedaluwarsa" dan sebaiknya dihentikan demi kerukunan bangsa.