Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Haliyudin Ulima
BULA, TRIBUNAMBON.COM – Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disdikbudpora) SBT, Afifudin Rumakway, akhirnya angkat bicara terkait kondisi bangunan SD Negeri 8 Kilmury Kelas B/Filial di Kecamatan Kilmury.
Hal itu setelah diperintahkan langsung Bupati Fachri Husni Alkatiri usai di mendapat kabar langsung dari staf kepresidenan.
Afifudin menegaskan bahwa bangunan yang ramai diperbincangkan bukanlah sekolah baru seperti yang dipersepsikan publik.
“Saya mau pertegas kembali bahwa bukanlah sekolah baru atau sekolah negeri baru yang permanen, tapi dia disebut sebagai kelas filial atau kelas jauh dari SD Negeri 8 yang bertempat di Desa Undur,” ujarnya saat diwawancarai di kantornya, Kamis (23/4/2026).
Baca juga: PLN UIW MMU Pastikan Keandalan Listrik pada Baksos Kemensos di Maluku Tenggara
Baca juga: Steven Izaac Risakotta Raih Dukungan Capai 75 Persen Pimpin DPD II Golkar Kota Ambon
Afifudin menjelaskan, kelas filial tersebut berada di Kampung Wolok yang merupakan bagian dari Desa Administratif Negeri Undur.
Secara administratif, kegiatan belajar mengajar tetap menginduk pada SD Negeri 8 Kilmury yang berada di Desa Undur.
“Sekolah ini berdiri dengan tetap menginduk pada SD Negeri 8 Kilmury yang berada di Desa Undur,” jelasnya.
Ia juga menepis anggapan bahwa kondisi tersebut terjadi karena kurangnya perhatian pemerintah.
Menurutnya, kelas jauh itu justru lahir dari inisiatif masyarakat setempat.
“Kelas ini dibangun atas perakarsa masyarakat di wilayah Wolok bersama kepala satuan pendidikan dan dikoordinasikan dengan pihak pendidikan di kecamatan,” katanya.
Afifudin menambahkan, latar belakang pembentukan kelas filial tidak lepas dari kondisi geografis wilayah tersebut.
Pasalnya, akses menuju sekolah induk dinilai cukup berisiko, terutama saat musim hujan.
“Kalau hujan, banjir terjadi dan akses terputus, sangat berbahaya bagi anak-anak untuk menyeberangi dua sungai,” ungkapnya.
Lebih lanjut dijelaskan, terdapat dua sungai yang harus dilintasi siswa dari Kampung Wolok menuju sekolah induk di Desa Undur.
Kondisi ini membuat keselamatan siswa menjadi perhatian utama, sehingga dibangun kelas filial sebagai solusi sementara agar siswa siswi tetap mengikuti proses belajar mengajar.
Meski demikian, ia memastikan pemerintah daerah tidak menutup mata.
Upaya pembenahan terus dilakukan agar ke depan fasilitas pendidikan menjadi lebih baik.
“Kami tidak menutup mata dan terus berbenah agar pelayanan pendidikan lebih layak,” tutupnya.(*)