TRIBUN-BALI.COM, BULELENG - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi akibat perang di Timur Tengah, mulai memukul sektor usaha di daerah.
Salah satunya bisnis sewa kendaraan milik Perumda Swatantra Buleleng, yang kini terancam tertekan akibat lonjakan biaya operasional.
Direktur Utama Perumda Swatantra Buleleng, I Gede Boby Suryanto, mengakui kenaikan BBM non subsidi jenis Dexlite, Pertamax Turbo hingga Pertamina Dex, berdampak langsung pada usaha rental kendaraan yang mereka kelola.
Pasalnya, bahan bakar menjadi komponen utama dalam operasional harian armada.
Baca juga: HARGA Beras Lokal Naik, Harga Pangan Klungkung &Jembrana Stabil, Pasca Kenaikan BBM &LPG Non Subsidi
"Kenaikan BBM ini sangat terasa bagi kami yang bergerak di bidang otomotif. Biaya operasional jelas meningkat," ujar Boby, Kamis (23/4/2026).
Diketahui, harga Dexlite per hari ini senilai Rp23.600 per liter. Sedangkan Pertamina Dex senilai Rp23.900 per liter.
Saat ini, Perumda Swatantra mengelola total 166 unit kendaraan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 38 unit menggunakan BBM jenis Dexlite dan Pertamina Dex.
Kondisi ini jelas membuat perusahaan sangat sensitif terhadap fluktuasi harga bahan bakar.
Baca juga: BBM Non Subsidi Naik! Harga Pasir Langsung Melonjak, Polisi Jembrana Pantau Stok dan Harga di SPBU
Tak hanya itu, dampak kenaikan BBM juga diperkirakan merembet ke sektor lain, seperti biaya perawatan kendaraan dan harga suku cadang.
"Biasanya kalau BBM naik, biaya servis dan onderdil juga ikut naik. Ini yang cukup berat bagi operasional kami," jelasnya.
Boby mengaku masih berharap kenaikan harga BBM tidak berlangsung lama. Jika hanya terjadi dalam jangka pendek, dampaknya dinilai masih bisa ditekan.
"Kalau hanya satu sampai dua bulan mungkin masih aman. Tapi kalau berlangsung sampai setahun, kami harus siapkan langkah antisipasi," tegasnya.
Baca juga: Harga BBM Naik, Warga Khawatir Tarif Transportasi dan Sembako Ikut Terdampak, Ojol: Saya Ngelus Dada
Sebagai upaya jangka panjang, Perumda Swatantra mulai melirik penggunaan kendaraan yang lebih efisien, seperti mobil hybrid hingga kendaraan listrik.
Saat ini, sebagian armada bahkan sudah menggunakan teknologi hybrid. Namun, rencana pengadaan kendaraan listrik masih membutuhkan kajian matang, terutama terkait kesiapan infrastruktur, bengkel, suku cadang hingga sistem pengisian daya.
"Kami akan usulkan ke pemda, tapi harus dihitung betul dari sisi risiko dan jaminan layanan ke depan," pungkasnya. (*)