Gus Salam Sowan ke Kiyai Sesepuh NU Jawa Barat, Diberi Pesan NU Harus Mandiri Agar Tidak Bergantung
Ahmad Sabran April 23, 2026 09:35 PM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA- KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), cucu pendiri NU KH Bishri Syansuri sowan ke KH Sofyan Yahya, Tokoh NU Jawa Barat yang pernah menjabat Ketua PWNU Jawa Barat, 1999-2006, Rabu, 22 April 2026.

Kedatangannya dalam rangka ikhtiar menjalankan perintah guru-kiai-nya di pesantren Jawa Timur supaya mendapatkan kepercayaan menjadi Ketua Umum PBNU dalam muktamar mendatang, mendapat nasehat-nasehat dari sesepuh NU di Jawa Barat.

“NU sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakat harus bangkit dengan kemandiriannya, agar kuat. Dan, tidak bergantung pada pihak eksternal,” kata Gus Ayis, panggilan KH Arif Afifuddin, cucu Mbah Yai Abdul Karim, pendiri PP Lirboyo Kediri, menegaskan pesan Ajengan Sofyan.

Gus Salam hadir didampingi dzurriyah PP Lirboyo Kediri, sowan ke KH Sofyan Yahya, Pengasuh PP Daarul Ma’arif, Margaasih Bandung Jawa Barat, Mustasyar PWNU Jawa Barat.

Ajengan Sofyan, sebutan terhormat untuk ulama Jawa Barat berharap NU, kuat dan bermartabat.

Gus Ayis yang mendampingi sowan Gus Salam menjelaskan, Ajengan Sofyan selalu memperhatikan perkembangan NU. Beliau memiliki harapan besar agar NU benar-benar mandiri sebagai jam’iyyah yang mempunyai tugas dan tanggung jawab besar, sebagaimana karakter pesantren dibangun diatas kemandiriannya.

Karenanya, NU dan Pesantren tidak bisa dipisahkan.

Baca juga: Curhat Kepala Satpol PP DKI Jakarta, Ini Penyebab Banyak Anggota Mengalami Tekanan Darah Tinggi

“Ketua Umum  PBNU harus dari kader pesantren. Dan, saatnya dzurriyah muassis NU tampil menjadi pimpinan tanfidziyah PBNU,” ujar Gus Ayis menirukan pesan Ajengan Sofyan Yahya.

Terpisah, Gus Salam menyatakan bahwa sowan ke KH Sofyan Yahya untuk tabarrukan teladan pengalaman beliau dalam memimpin NU Jawa Barat. Dan, memohon do’a restu atas iktiarnya dalam muktamar ke-35, mendatang. 

“Ajengan Sofyan memberi penegasan bahwa NU adalah benteng akhlak dan moralitas dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Dan, harus tetap dijaga sampai kapanpun serta dalam kondisi apapun,” kata Gus Salam.

“semua dinamika Muktamar mendatang harus dilandasi akhlaq yang baik dan terhindar dari money politik,” tambahnya menirukan pesan KH Sofyan Yahya.

Pesan dan nasehat berbeda, namun penuh reflektif disampaikan KH M. Nuh Addawami, Mustasyar PBNU, Pengasuh PP Nurul Huda, Cibojong Cisurupan, Garut. Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat 2016-2021 ini menuturkan bahwa menjadi pengurus dalam jam’iyyah NU harus mampu berperan sebagai dokter bagi mereka yang sakit. 

Baca juga: Reaksi Keras Malaysia dan Singapura Atas Ide Purbaya yang Mau Kenakan Tarif Selat Malaka

Disamping sebagai dokter, pengurus juga berperan sebagai orang tua yang membimbing keluarganya, menjadi sahabat sejati bagi warga NU yang ingin berkeluh kesah, dan sekaligus menjadi motivator bagi warga Nahdliyyin.

“jadilah pengurus, bukan pemimpin. Karena didalam NU yang dibutuhkan adalah pengurus yang mengurusi kebutuhan warga, melayani segala keluhan umat,” kata Gus Salam menirukan pesan Ajengan KH M. Nuh Addawami.

Menurut Gus Salam, pesan Ajengan Addawami merupakan penegasan reflektif dari dawuh hadratussyeikh KH M. Hasyim Asy’ari, pendiri NU; "Barangsiapa yang mau mengurus NU, akan aku anggap sebagai santriku. Siapa yang menjadi santriku, akan kudoakan khusnul khatimah beserta anak-cucunya".

Menjadi pengurus yang penuh khidmah, bukan pemimpin yang cenderung mengedepankan ‘kuasa’nya.

Baca juga: Pakar, Pelaku Industri dan Rumah Sakit Seluruh Asia Pasifik Berkumpul di Jakarta, Ini yang Dibahas

“karenanya, saya adalah santri; sendiko dawuh mengikuti arahan, perintah dan nasehat guru-kyai serta masyayikh NU dan pesantren. Ketika saya diperintah untuk ikhtiar menjadi Ketua Umum PBNU melalui muktamar ke35, nanti, saya tetap sam’an wa tho’atan,” ujar Gus Salam.

“bilapun saya ditakdirkan menjadi pimpinan PBNU, kelak. Sesungguhnya, saya bukanlah pemimpin, tapi santri yang meladeni (mengurus) NU. Pemimpin NU tetaplah Hadratussyeikh Mbah Hasyim As’ari, Mbah Wahab, Mbah Bishri dan Para Pendahulu NU,” kata dia. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.