TRIBUNBANTEN.COM - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan kuat pada perdagangan Kamis (23/4/2026).
Bahkan, rupiah sempat menyentuh level Rp 17.321 per dolar Amerika Serikat (AS), yang menjadi posisi terlemah sepanjang sejarah.
Berdasarkan data pasar spot, rupiah ditutup melemah Rp 105 atau sekitar 0,61 persen ke level Rp 17.286 per dolar AS.
Baca juga: Kenaikan Harga Plastik Jadi Perhatian Pemkab Serang, Dorong Inovasi Kemasan Alternatif
Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) juga mencatat pelemahan lebih dalam, yakni Rp 129 atau 0,75 persen ke posisi Rp 17.308 per dolar AS.
Pelemahan ini menjadi yang paling tajam dalam tujuh bulan terakhir, sekaligus menandai tekanan signifikan terhadap mata uang Garuda di tengah dinamika global.
Salah satu faktor yang memicu pelemahan rupiah adalah kenaikan harga minyak dunia yang berpotensi membebani kondisi fiskal Indonesia.
Selain itu, penguatan dolar AS turut menekan mayoritas mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di kawasan Asia, hampir seluruh mata uang mengalami pelemahan terhadap dolar AS.
Baht Thailand tercatat sebagai yang paling dalam penurunannya, yakni 0,65 persen, diikuti peso Filipina yang melemah 0,59 persen.
Rupee India turun 0,34 persen, ringgit Malaysia melemah 0,29 persen, dan dolar Taiwan terkoreksi 0,27 persen.
Yen Jepang juga melemah 0,14 persen, disusul yuan China sebesar 0,1 persen, dolar Singapura 0,09 persen, serta won Korea yang turun 0,07 persen.
Di antara mata uang utama kawasan, hanya dolar Hong Kong yang mampu mencatat penguatan tipis sebesar 0,001 persen terhadap dolar AS.
Di sisi lain, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama dunia tercatat menguat 0,08 persen ke level 98,67.
Penguatan ini memperpanjang tren kenaikan dalam tiga hari terakhir.
Merespons kondisi tersebut, Bank Indonesia menegaskan akan meningkatkan intensitas intervensi di pasar keuangan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.