Satu Penyakit yang Bikin Perut Seorang Warga Desa Kambiyain Balangan Kalsel Seperti Ditusuk-tusuk
Edi Nugroho April 23, 2026 11:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, PARINGIN - Satu penyakit yang bikin perut warga Desa Kambiyain Balangan Kalsel seperti ditusuk-tusuk

Ferdi, warga Desa Kambiyain, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Balangan sempat mengeluhkan sakit perut yang rasanya menusuk dan tidak mau makan selama kurang lebih seminggu. 

Rupanya, keluhan itu menandakan dirinya terkena leptospirosis yang diketahui dari hasil laboratorium RSUD Datu Kandang Haji saat ia menjalani perawatan. 

Sebelumnya, karena rasa sakit perut yang menurutnya luar biasa sakit, lantas pihak keluarga berinisiatif membawa Ferdi ke RSUD Datu Kandang Haji. 

Baca juga: Kecelakaan di Depan SPBU Kersik Putih Tanahbumbu Disorot, Pengelola Pastikan Truk Bukan Pelangsir

Baca juga: Kejari Tetapkan Tersangka Kasus Dugaan Korupsi di Disdik Banjarmasin, Penyedia Sewa Server Ditahan

Setelah menjalani perawatan, ia diketahui terkena penyakit leptospirosis yang disebabkan dari bakteri yang ada pada kencing tikus yang mengandung virus leptospira. 

Kepada Bpost, Kamis (23/4/2026), Ferdi menceritakan kalau dirinya menjalani perawatan selama empat hari di RSUD Datu Kandang Haji. Setelah kondisi membaik, akhirnya diperbolehkan pulang.

"Memang awalnya sakit perut, rasanya seperti ditusuk, tembus sampai ke perut bagian belakang. Kemudian saya dibawa ke rumah sakit, dan setelah diperiksa, katanya saya terkena penyakit leptospirosis," ujarnya, bercerita.

Rasa sakit itu ia rasakan dua kali dalam waktu yang berbeda. Dimana sakit yang ia derita ia akui terjadi saat berada pada salah satu desa di Kecamatan Hampang, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, tempat ia bekerja mendulang emas.

Ferdi meyakini dirinya terkena virus tersebut saat bekerja, kendati demikian, karena gejalanya dirasakan saat ia sudah ada di rumah Desa Kambiyain, lantas pihak terkait melakukan investigasi penularan penyakit tersebut.

Ferdi yang dilaporkan sempat terkena penyakit leptospirosis langsung menjadi perhatian dari Dinas Kesehatan Kabupaten Balangan. Pasalnya penyakit ini berpotensi menular yang disebabkan oleh hama tikus. 

Niat baik Dinkes Balangan untuk menelusuri virus yang dibawa tikus di Desa Kambiyain ini disambut Ferdi dan warga setempat. Pasalnya, warga juga bekerjasama saat Dinkes Balangan melakukan pemasangan jebak tikus sebagai upaya penanggulangan penyebaran leptospirosis di Balangan.

Dinas Kesehatan Kabupaten Balangan memasang dua jebak tikus di rumah Ferdi, khususnya pada ruangan yang dianggap tidak begitu higienis dan rawan tikus melintas. 

Ferdi sendiri tinggal di bangunan bekas kantor desa, sebagai tempat tinggal sementara, sembari menunggu rumah saudaranya  selesai dibangun untuk ditinggali.

Selain rumah Ferdi, ada beberapa rumah warga yang juga dipasang jebak tikus. Satu di antaranya yakni rumah Milah.

Milah bekerjasama dengan petugas Dinkes Balangan yang memasang jebak tikus. Dimana jebak tersebut di pasang di dalam rumahnya, serta di luar rumah bagian belakang.

Milah pun berharap penanggulangan yang dilakukan Dinkes Balangan membawa hasil baik, sehingga tidak ada lagi warga di Kambiyain yang terkena leptospirosis.

Sebagaimana diketahui, kasus leptospirosis ini sudah kedua kalinya terdata di Kabupaten Balangan selama dua tahun belakangan. Merujuk data Dinkes Balangan, pada tahun 2025 lalu, ada satu korban meninggal dunia akibat terkena virus tersebut, mengingat gejalanya yang bisa saja dianggap sebagai sakit biasa.

Pasang Jebak Tikus di 25 Rumah 

Diberikakan sebelumnya, sejak siang, Rabu (22/4/2026) tim Dinas Kesehatan Kabupaten Balangan bersama Puskesmas Tebing Tinggi sambangi Desa Kambiyain, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Balangan.

Kedatangan mereka ini, bertujuan memasang jebakan tikus, buntut ditemukannya satu kasus penderita leptospirosis yang dialami oleh salah satu warga di Desa Kambiyain.

Leptospirosis sendiri, merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri leptospora yang biasanya ada pada kencing tikus, dan kemudian ditularkan pada manusia yang terkena cairan kencing tersebut.

Secara sigap, Dinkes Balangan melakukan pemasangan jebakan tikus untuk mencari tikus yang membawa bakteri atau virus tersebut.

Tim Dinkes Kabupaten Balangan serta Puskesmas Tebing Tinggi merangkai jebakan tikus yang dipasangi umpan ikan asin. Kemudian jebakan tersebut diletakkan di rumah-rumah warga. Satu rumah, dua jebakan dengan harapan ada tikus yang didapat untuk kemudian diperiksa di laboratorium.

Disampaikan oleh Pengelola Zoonosis Dinkes Balangan, Graha Eka Putra, pemasangan jebakan tikus tersebut merupakan tindak lanjut kasus reaktif leptospirosis yang sebelumnya ditangani RSUD Datu Kandang Haji.

 "Kami dari Dinas Kesehatan Kabupaten Balangan, bersama dengan Puskesmas Tebing Tinggi dan juga didampingi dari pihak desa dan juga Polsek serta Koramil setempat, melakukan pemasangan jebak tikus terkait dengan tindak lanjut kami atas adanya kasus reaktif kemarin di RSUD Datu Kandang Haji," ujarnya.

Sebanyak 25 rumah di sekitar tempat tinggal pasien lantas menjadi sasaran. Dimana pada  satu rumah diletakkan dua perangkat jebak tikus, di dalam dan di luar rumah.

Setelah pemasangan selesai dilakukan, tim ujar Graha akan kembali pada hari berikutnya untuk memeriksa apakah ada tikus yang tertangkap atau tidak. Apabila sudah terkumpul tikus tersebut, maka akan dilakukan pembedahan yang mana organ ginjal tikus akan diambil dan dilakukan pemeriksaan di laboratorium untuk memastikan apakah tikus tersebut memiliki bakteri leptospira.

Tentunya kata Graha, tindakan pemasangan jebak tikus ini menjadi salah satu upaya investigasi dan pencegahan penyebaran virus tersebut.

Investigasi juga dilakukan di sekitar lingkungan pasien serta riwayat perjalanan dari yang bersangkutan.

 "Berdasarkan hasil investigasi kami, memang kondisi rumah tempat tinggal si pasien ini yang merupakan bekas kantor desa, itu memang higienitasnya kurang. Nah, jadi  ada kemungkinan ya di sana merupakan tempat penularan, tapi kami masih terus berproses untuk menggali informasi," ungkapnya.

Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Puskesmas Tebing Tinggi, mengingat banyak warga yang bekerja ke wilayah luar daerah, khususnya Kotabaru yang menjadi riwayat perjalanan dari pasien.

Terang Graha, apabila masyarakat itu baru pulang dari Kotabaru, kemudian mengalami gejala sakit, misalkan demam, maka akan langsung dilakukan tindak lanjut dengan pemeriksaan malaria dan juga pemeriksaan RDT leptospirosis. 

Graha juga mengimbau warga Desa Kambiyain untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan. Ia juga menekankan pentingnya penggunaan APD saat beraktivitas di luar ruangan. 


5 Cara Penularan Leptospirosis dan Pencegahannya

Leptospirosis adalah salah satu penyakit menular yang perlu diwasapdai, terutama di musim penghujan dan banjir.

Dilansir dari Infeksi Emerging Kementerian Kesehatan, penyebab leptospirosis berasal dari infeksi bakteri lestospira.

Sumber bakteri penyebab leptospirosis kebanyakan berasal dari tikus yang terinfeksi leptospirosis.

Selain itu, sapi, kerbau, kuda, domba, kambing, babi, anjing, atau hewan pengerat lain juga bisa jadi sumber penularan leptospirosis.

Di Indonesia, kebanyakan leptospirosis disebabkan oleh tikus yang melepaskan bakteri leptospira saat kencing atau buang air.

Simak cara penularan leptospirosis pada manusia berikut pencegahannya berikut ini.
Penularan leptospirosis

Manusia bisa tertular leptospirosis secara langsung maupun tidak lansung. Cara penularan leptospirosis di antaranya:

Darah, urine, atau cairan tubuh hewan yang mengandung kuman penyebab leptospirosis bisa masuk ke dalam tubuh manusia lewat celah seperti luka kecil atau selaput lendir

Orang yang merawat hewan, tukang potong hewan, atau orang yang memelihara hewan terkena leptospirosis juga bisa secara langsung tertular penyakit ini

Penularan leptospirosis dari manusia ke manusia lainya bisa lewat hubungan seks pada saat penderita belum sembuh dari penyakit ini

Penularan leptospirosis dari ibu kepada bayinya bisa terjadi saat janin hidup di air ketuban penderita atau saat bayi minum ASI penderita

Orang bisa tertular leptospirosis saat luka kecil atau selaput lendirnya terkena genangan air, masuk ke sungai, danau, selokan air, atau lumpur yang tercemar urine mengandung bakteri penyebab leptospirosis

Mengingat ada banyak celah penularan leptospirosis yang rentan menular di musim hujan atau banjir, ada baiknya Anda mempertimbangkan langkah pencegahan penularan penyakit ini.

Terutama jika wilayah tempat tinggal Anda ada wabah atau temuan penyakit leptospirosis.

Pencegahan penularan leptospirosis

Dilansir dari laman Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat, penularan penyakit leptospirosis dapat dicegah dengan beberapa cara berikut:

* Hindari air yang kemungkinan terkontaminasi bakteri leptospira dan pastikan sumber air bersih tidak tercemar bakteri penyebab lestospirosis in.
  
* Jangan kontak dulu dengan binatang yang rentan jadi pembawa kuman leptospirosis, terutama tikus
  
* Jaga kebersihan rumah atau tempat tinggal serta lingkungan tempat beraktivitas
    
* Saat akan berkebun atau kontak dengan hewan, gunakan pakaian, sepatu, dan sarung tangan pelindung yang tahan air. Jika ada luka di tubuh, tutup luka tersebut penutup dan segera mandi setelah kontak dengan air atau lumpur yang tercemar urine tikus biang penyakit leptospirosis
    
* Rajin cuci tangan, terutama setelah kontak dengan hewan, sebelum makan, dan setelah dari kamar mandi
    
* Vaksinasi hewan peliharaan dan ternak agar tidak jadi inang atau tempat hidup bakteri penyebab leptospirosis

Setelah menyimak penularan leptospirosis di atas, jangan lupa lakukan langkah-langkah pencegahan penyakit yang rentan menular di musim hujan dan banjir tersebut.

(banjarmasinpost.co.id/isti rohayanti/kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.