TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Tekanan geopolitik global yang memicu ketidakpastian rantai pasok hingga lonjakan harga energi dan pangan dunia mulai terasa hingga level daerah. Di tengah situasi itu, Pemerintah Kota Magelang bergerak cepat merumuskan strategi adaptif untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.
Asisten Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Kota Magelang, Yonas Nusantrawan Bolla mengungkapkan Ketergantungan pasokan dari luar daerah menjadi salah satu titik rawan, terutama untuk komoditas strategis seperti cabai, bawang, dan daging ayam.
Menyadari hal tersebut, Pemkot Magelang memperkuat kebijakan pengendalian inflasi melalui pendekatan terintegrasi.
“Kami intensif menguatkan kerja sama antardaerah dengan wilayah produsen untuk menjamin suplai komoditas strategis tetap terjaga,” ujarnya dalam forum High Level Meeting TPID Kota Magelang 2026 di kompleks Pemkot Magelang, Kamis. (22/4/2026).
Selain itu, lanjutnya, penguatan infrastruktur logistik seperti gudang dan cold storage terus didorong untuk menjaga kualitas distribusi. Transparansi informasi harga dan pasokan juga ditingkatkan guna menekan potensi spekulasi pasar.
Tak hanya itu, Pemkot juga melakukan diversifikasi sumber pasokan, menggelar operasi pasar, serta memperluas gerakan pangan murah sebagai langkah konkret menjaga keterjangkauan harga di masyarakat.
"Inflasi Kota Magelang pada triwulan I 2026 mengalami fluktuasi. Pada Januari tercatat 2,76 persen, melonjak menjadi 4,45 persen di Februari, lalu turun ke 3,59 persen pada Maret. Tekanan terbesar berasal dari komoditas pangan, khususnya cabai rawit merah yang sempat menyentuh rata-rata Rp57.000 per kilogram pada April 2026," terangnya.
Meski demikian, Yonas menastikan kondisi pasokan dan distribusi kebutuhan pokok, termasuk BBM dan LPG, terpantau aman hingga April. Perbaikan distribusi pada Maret turut membantu menahan laju inflasi agar tidak semakin tinggi.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Magelang, Sri Harso, menekankan pentingnya pendekatan menyeluruh dari hulu hingga hilir dalam pengendalian inflasi.
Ia mendorong seluruh perangkat daerah untuk bergerak lebih progresif dan berbasis data, termasuk mengintensifkan gerakan pangan murah serta mengoptimalkan peran BUMD dalam menjaga stabilitas pasokan.
“Setiap kebijakan, termasuk penganggaran, harus berdampak nyata dalam menjaga stabilitas harga dan menurunkan tingkat kemiskinan,” tegasnya.
Dengan strategi yang semakin terarah dan kolaboratif, Kota Magelang optimistis mampu meredam tekanan inflasi di tengah dinamika global, sekaligus menjaga kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.