Kepala Staf Angkatan Laut Italia, Laksamana Giuseppe Berutti Bergotto, menyampaikan bahwa pengerahan ini dilakukan setelah konflik di kawasan dinilai mereda dan memasuki tahap pasca perang.
Menurutnya, misi ini tidak dilakukan secara mandiri, melainkan sebagai bagian dari koalisi internasional.
Dalam operasi tersebut, Italia akan mengirim dua kapal penyapu ranjau yang didukung kapal pengawal serta unit logistik untuk memastikan operasi berjalan dalam jangka waktu yang lebih panjang dan aman.
"Rencana yang diusulkan kepala staf umum Angkatan Bersenjata, untuk berjaga-jaga, mencakup pembentukan suatu grup yang terdiri dari dua kapal penyapu ranjau, unit pengawal, dan unit pendukung logistik, yang akan memungkinkan kami memperpanjang periode tugas," kata Berutti Bergotto mengutip media lokal Ansa.
Adapun keputusan Italia dipengaruhi oleh meningkatnya ancaman ranjau laut di kawasan tersebut.
Ranjau yang diduga masih tersisa di Selat Hormuz berpotensi membahayakan kapal dagang dan kapal tanker yang melintas setiap hari.
Kondisi ini membuat negara-negara Eropa merasa perlu ikut serta dalam menjaga keamanan jalur vital tersebut.
Selain Italia, beberapa negara Eropa seperti Prancis, Inggris, Belanda, dan Belgia juga disebut akan bergabung dalam misi yang sama.
Keterlibatan banyak negara ini menunjukkan bahwa keamanan Selat Hormuz sudah menjadi perhatian bersama, bukan hanya Amerika Serikat.
Dengan bergabungnya Italia dalam operasi ini, koalisi internasional berharap jalur pelayaran dapat kembali aman digunakan. Tujuan utamanya adalah memastikan distribusi energi dunia tetap stabil serta mencegah gangguan yang dapat memicu krisis ekonomi lebih luas.
(*)