SERAMBINEWS.COM - Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat.
Di tengah gencatan senjata Amerika Serikat–Iran yang kian rapuh, Presiden Donald Trump mengambil langkah ekstrem dengan memerintahkan Angkatan Laut AS menembak kapal apa pun yang tertangkap memasang ranjau di Selat Hormuz, jalur energi paling vital di dunia.
Perintah keras itu disampaikan Trump melalui platform media sosial miliknya, Truth Social, pada Kamis.
Ia menegaskan tidak boleh ada keraguan dalam menjalankan instruksi tersebut.
“Saya telah memerintahkan Angkatan Laut Amerika Serikat untuk menembak dan membunuh kapal apa pun yang memasang ranjau di perairan,” tulis Trump.
Baca juga: Iran Mulai Raup Pendapatan dari Tarif Kapal di Selat Hormuz
Trump menyebut kapal-kapal tersebut kemungkinan besar berukuran kecil dan mengklaim sebagian besar kemampuan angkatan laut Iran telah hancur akibat serangan sebelumnya. Ia juga memerintahkan pelipatgandaan operasi penyapuan ranjau di Selat Hormuz—jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Sejak pecahnya serangan AS–Israel pada 28 Februari lalu, Selat Hormuz mengalami gangguan serius. Teheran dituding berupaya memblokir akses jalur tersebut, meski Iran secara resmi membantah menempatkan ranjau dan menyebut tudingan Washington sebagai propaganda.
Di sisi lain, Pentagon memperingatkan Kongres bahwa proses pembersihan ranjau di selat itu bisa memakan waktu hingga enam bulan, meskipun gencatan senjata masih berlaku dan telah diperpanjang tanpa batas waktu oleh Trump.
Laporan Washington Post mengungkap, anggota parlemen AS diberi tahu bahwa Iran diduga telah menempatkan setidaknya 20 ranjau laut, sebagian di antaranya menggunakan teknologi GPS jarak jauh yang sulit dideteksi.
Dalam unggahan terpisah, Trump mengklaim Amerika Serikat kini memiliki “kontrol total” atas Selat Hormuz. Ia bahkan menyatakan tidak ada kapal yang dapat melintasi jalur tersebut tanpa persetujuan Angkatan Laut AS, seraya menyebut selat itu “tertutup rapat” sampai Iran bersedia membuat kesepakatan.
Trump juga menyinggung situasi politik internal Iran, mengklaim kelompok garis keras melemah sementara faksi moderat menguat.
Sementara itu, Komando Pusat AS mengungkap bahwa pasukan Amerika telah memerintahkan 31 kapal untuk berbalik arah atau kembali ke pelabuhan sebagai bagian dari blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Langkah-langkah terbaru Washington ini menegaskan betapa rapuhnya gencatan senjata yang ada. Tekanan militer dan penguasaan titik-titik ekonomi strategis kembali menjadi senjata utama AS dalam menghadapi Teheran.(*)