Laporan Wartawan Serambi Indonesia Saifullah | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Perubahan iklim menjadi tantangan besar yang berdampak langsung pada lingkungan, sosial, dan ekonomi masyarakat.
Dalam konteks ini, perempuan sering kali menjadi kelompok paling terdampak, namun juga memiliki peran strategis sebagai penjaga hutan dan penggerak aksi iklim di tingkat lokal.
Indonesia telah menunjukkan komitmen melalui kebijakan nasional, termasuk Program Perhutanan Sosial yang hingga 2026, mencakup 8,33 juta hektare akses kelola hutan.
Program ini membuka ruang bagi perempuan untuk berperan aktif dalam pengelolaan sumber daya alam sekaligus mendorong ekonomi berbasis hutan.
Di Aceh, sejumlah perempuan tampil sebagai pemimpin dalam menjaga hutan.
Nurhalimah dari Mukim Kunyet, Pidie melalui Women Forest Defenders (WFD), aktif dalam rehabilitasi hutan dan pemberdayaan ekonomi berbasis hasil hutan.
Kartini dari Stasiun Penelitian Soraya, Subulussalam, mendukung penelitian biodiversitas dan restorasi hutan, meski bukan akademisi.
Baca juga: Diskusi Sebulan Pasca-Banjir Aceh Tamiang, Aktivis Lingkungan Sepakat Akibat Krisis Ekologi
Sementara Rahmi dari Sekolah Anti Korupsi Aceh (SAKA), mendorong generasi muda memahami kebijakan dan anggaran lingkungan.
Dalam rangka Hari Kartini dan Hari Bumi, UIN Ar-Raniry bersama masyarakat sipil menggelar dialog bertajuk “Dari Emansipasi ke Aksi Iklim: Memperkuat Kesetaraan Gender, Partisipasi, dan Kepemimpinan Perempuan dalam Aksi Iklim di Indonesia” di Aula Rektorat UIN Ar-Raniry, Selasa (21/4/2026).
Forum ini dihadiri 150 peserta, diselenggarakan oleh The Asia Foundation melalui program WFD dengan GeRAK Aceh sebagai mitra, serta DEMA FISIP UIN Ar-Raniry.
Dalam dialog, Nurhalimah menegaskan, bahwa perempuan bukan hanya korban ketika hutan rusak, tetapi juga penjaga kehidupan.
Kartini menambahkan, peran sekecil apa pun, bahkan dari dapur, tetap penting dalam konservasi. Akademisi Dr Cut Maila Hanum menekankan, perlunya refleksi kritis dan aksi nyata agar partisipasi perempuan semakin bermakna.
Forum menghasilkan sejumlah poin penting, di antaranya meningkatnya kesadaran akan peran perempuan dalam pengelolaan hutan, perlunya penguatan kapasitas perempuan dan generasi muda dalam memahami kebijakan lingkungan, serta dorongan memperluas kolaborasi antara masyarakat sipil, kampus, dan pemerintah.
Selain itu, forum menegaskan pentingnya pergeseran dari respons bencana menuju mitigasi dan pencegahan berbasis komunitas.
Dengan semangat Hari Kartini, kegiatan ini meneguhkan peran perempuan Aceh sebagai garda terdepan dalam aksi iklim.
Sekaligus menginspirasi generasi muda untuk menjadikan haji, emansipasi, dan kepemimpinan lingkungan sebagai bagian dari transformasi diri dan masyarakat.(*)