Laporan Wartawan Serambi Indonesia Sara Masroni | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Akademisi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala (USK) yang juga dikenal sebagai penulis dan cerpenis merumuskan konsep mitigasi konflik keacehan, melalui hasil penelitian disertasinya yang diberi judul “Mitigasi Konflik dalam Sastra Perang Aceh”.
Hal itu dipaparkannya saat sidang promosi doktor, dipimpin Wakil Rektor Akademik, Prof Agussabti dan sekretaris sidang Wakil Direktur Akademik Sekolah Pascasarjana USK, Dr M Ikhsan Sulaiman di Program Studi Doktor Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (DP IPS) Sekolah Pascasarjana USK, serta selesai dengan status cum laude, Selasa (21/4/2026).
Objek kajian disertasi itu teks-teks hikayat Aceh yang mengisahkan peristiwa perang di Aceh, dimulai dari perang masa kolonial hingga konflik sosial setelah kemerdekaan Republik Indonesia. “Teks Hikayat Prang Sabi dan Hikayat Perang Aceh menjadi sumber informasi mengenai konflik global yang pernah dialami Aceh, sedangkan Hikayat Pocut Muhammad dan Hikayat Prang Cumbok menjadi sumber data untuk konflik lokal atau internal di Aceh,” papar Herman RN.
Dari hasil penelitian tersebut, Herman menawarkan temuan terbaru tentang teks hikayat perang. Kata dia, para peneliti sebelumnya memandang teks hikayat perang sebagai pemantik semangat jihad orang Aceh.
“Namun, secara dekonstruksi, ada banyak unsur mitigasi konflik yang terdapat dalam teks hikayat perang. Hal ini menjadi temuan bahwa orang Aceh bukan orang gila perang, bukan orang suka konflik. Sebaliknya, orang Aceh adalah orang yang mahir mengelola konflik sehingga berujung pada nilai-nilai perdamaian,” jelas Herman.
Lebih lanjut, Herman merincikan perbedaan orang Aceh menghadapi konflik dengan orang barat berdasarkan pandangan Simon Fisher, Ralf Dahrendorf, dan Johan Galtung. Kata Herman, orang luar memosisikan konflik untuk diselesaikan sehingga sering terjadi penumpasan terhadap lawan. “Orang Aceh itu, konflik dikelola dan diatasi, bukan dihindari dan lawan bukan untuk dimusnahi. Itu makanya saat pasukan Belanda sudah tertangkap, jadi tawanan perang, tidak dibunuh,” ujarnya.
Sebagai novelty (temuan terbaru), Ketua Asosiasi Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia (Adobsi) Provinsi Aceh itu merumuskan konsep mitigasi konflik dalam kearifan lokal Aceh yang diberinya nama Acehnese Conflict Mitigation Concepet (ACMC).
Sidang promosi doktoral Herman RN diuji oleh para guru besar dari lintas universitas. Penguji eksternal Prof Irwan Abdullah dari Universitas Gadjah Mada (UGM), penguji konsentrasi Prof Misri A Muchsin dari UIN Ar-Raniry, dan penguji internal Prof Rusli Yusuf dari USK.
Baca juga: Perjuangan Tanpa Batas, Tiga Peserta Tunanetra Ikuti UTBK-SNBT 2026 di USK
Adapun disertasi Herman dibimbing Prof Yusri Yusuf, dosen FKIP USK yang saat ini menjabat sebagai Ketua Majelis Adat Aceh (MAA), dan Dr Masrizal MA dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) USK.
Konsep yang ditawarkan Herman dalam model mitigasi konflik berkearifan lokal Aceh adalah legitimasi religius, internalisasi nilai-nilai komunal, negosiasi kompensasi, dan dekonstruksi sikap mbong. Klaim mbong sebagai salah satu model mitigasi konflik dalam kearifan lokal Aceh ini mendapat tanggapan serius dari semua penguji. Guru besar UIN, Prof Misri berulang kali meminta penegasan batasan mbong sebagai karakter mitigasi konflik, karena selama ini mbong dianggap berkonotasi negatif.
Menanggapi hal itu, Herman menjelaskan, mbong sebagai model mitigasi konflik karena ditujukan kepada lawan, tetapi tidak cocok bagi kawan. “Mbong sangat efektif untuk lawan, tetapi tidak relevan untuk kawan. Makanya mbong itu salah satu model mitigasi konflik,” tegas Herman.
Di akhir sidang, Prof Dr Agussabti mengumumkan kelulusan Herman sebagai doktor Pendidikan IPS dengan IPK 3,95 dan masa studi 2 tahun 9 bulan. ‘”Selamat, lulus cum laude,” pungkas guru besar USK itu.(*)