Mesin Olah Sampah di Klungkung Target Uji Coba Awal Mei, Simak Berita Selengkapnya!
Anak Agung Seri Kusniarti April 24, 2026 02:03 AM

TRIBUN-BALI.COM - Dua truk kontainer yang membawa mesin olah sampah tiba di Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS) Centre di Dusun Karangadadi, Desa Kusamba, Kabupaten Klungkung, Kamis (23/4). Mesin berbasis pirolisis tersebut, ditargetkan mulai diuji coba pada awal Mei mendatang.

Sejak pagi kemarin sejumlah petugas melakukan pembersihan gedung B di TOSS Centre. Bahkan armada Damkar dikerahkan untuk memastikan gedung bersih, sebelum dijadikan tempat mesin.

Sebanyak 2 kontainer diarahkan masuk ke TOSS Centre. Sedangkan 5 truk kontainer lainnya menunggu giliran masuk ke TOSS Centre.

“Sementara 2 kontainer dulu yang masuk, karena mengeluarkan mesinnya juga membutuhkan alat berat. Semuanya masih berproses,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (LHP) Klungkung, Dewa Komang Aswin saat ditemui Tribun Bali, kemarin.

Baca juga: RINGSEK! Toyota Kijang Dihantam Bus di Munduk, Begini Kondisi Korban Usai Kecelakaan Ini 

Baca juga: TUTUP Sementara Pelabuhan Marina BTID! Juga Lahan Pengganti Mangrove di Karangasem dan Negara

Ia mengatakan, mesin olah sampah ini akan dikirim dua tahap. Tahap pertama merupakan pengiriman komponen mesin utama, yang nantinya dirakit menjadi 3 unit mesin.

Sementara untuk selanjutnya akan dikirim generator dan perlengkapan lainnya. “Informasinya 3 minggu lagi dilakukan pengiriman tahap kedua, terdiri dari generator san perlengkapan lainnya,” ungkapnya.

Mesin olah sampah berbasis pirolisis tersebut didatangkan atas kerja sama Pemkab Klungkung dengan pihak ketiga, yakni PT. Bali Bersih Bersinar. Teknologi mesin tersebut didatangkan dari New Zealand dan dimanufaktur di China.

Direktur PT Bali Bersih Bersinar, Gde Kurniawan mengatakan, dengan mesin pirolisis tersebut sampah diolah menjadi pirolisis oil, black karbon dan serat baja.

Kerja sama ini bermula dari audensi pihaknya dengan Dinas LHP Pemprov Bali. Lalu dipilihkan agar pengolahan sampah dengan metode pirolisis tersebut diuji coba di Klungkung karena memiliki infrastruktur pengolahan sampah representatif yaitu di TOSS Centre.

“Ada tiga tempat yang direkomendasikan ke kami, ada di Nusa Penida, Nusa Lembongan dan di TOSS Centre ini. Setelah kami survei, kami putuskan di sini,” ujar Kurniawan.

Menurutnya mesin tersebut setelah diletakan di Gedung C TOSS Centre, langsung dirakit teknisi yang juga didatangkan dari New Zealand. Mesin tersebut berkapasitas 8 ton per siklus. Untuk sekali siklus sekitar 8 jam. 

“Pada prinsipnya kami berharap ini bisa menjadi percontohan, dan bagaimana Klungkung bebas dari sampah,” jelasnya. 

Kurniawan mengatakan, mesin yang didatangkan di Klungkung merupakan mesin pirolisis berkapasitas besar pertama yang akan beroperasi di Indonesia. “Sebelumnya mesin seperti ini telah beroperasi di Vietnam, Filipina dan Hongkong,” ungkapnya. 

Nantinya untuk operasional mesin tersebut, juga akan melibatkan pekerja di TOSS. “Nanti tentu akan dilatih lagi, karena nanti ada standarnya untuk olah sampah dengan sistem ini,” jelasnya. 

Aturan di Pasar Denpasar

Sementara itu, aturan untuk pedagang pasar di Kota Denpasar mulai dilonggarkan secara bertahap. Sebelumnya para pedagang wajib membawa pulang sampah, namun kini dilonggarkan. 

Kebijakan ini menyusul kesiapan sistem pengolahan sampah mandiri di sejumlah pasar yang dikelola Perumda Pasar Sewakadarma.

Aturan tersebut hanya diberikan kepada pedagang di dalam gedung. Sedangkan, pedagang pelataran dan pedagang bermobil tetap diwajibkan mengangkut sisa dagangannya kembali ke rumah masing-masing.

Di Pasar Badung, sistem baru ini telah berjalan. Pedagang gedung kini boleh membuang sampah di area pasar dengan syarat mutlak wajib dipilah. Sampah organik seperti sisa sayuran dan buah harus dipisahkan dari anorganik seperti plastik dan botol.

Ketut Budarsih (42), salah seorang pedagang, mengaku sangat terbantu dengan kebijakan ini. Menurutnya, membawa pulang sampah sering kali menjadi beban karena memicu bau tak sedap dan munculnya ulat di lingkungan rumah.

“Sekarang lebih ringan. Meski harus teliti memilah, itu jauh lebih baik daripada sampah menumpuk dan berulat di rumah,” ungkapnya, Kamis (23/4).

Kepala Unit Pasar Badung, Komang Sutrisna menjelaskan, pelonggaran ini dimungkinkan karena pihaknya kini memiliki mesin pencacah organik untuk pembuatan kompos.

Selain itu, pasar juga telah bekerja sama dengan pengepul untuk menangani sampah plastik, serta memanfaatkan sistem teba modern untuk limbah buah-buahan.

Meski demikian, Sutrisna mengeluhkan adanya oknum luar yang kerap membuang sampah sembarangan di area parkir hingga tangga pasar. “Banyak akses masuk membuat pengawasan sulit. Sering kali sampah yang menumpuk bukan dari pedagang, tapi titipan dari luar,” tegasnya.

Direktur Utama Perumda Pasar Sewakadarma, Ida Bagus Kompyang Wiranata, menekankan pelonggaran ini dilakukan dengan prinsip kehati-hatian.

Ia menyebutkan bahwa dari 16 pasar yang dikelola, baru enam pasar yang memiliki fasilitas mesin pencacah memadai. Adalah Pasar Badung, Pasar Kreneng, Pasar Kumbasari, Pasar Cokro, Pasar Anyar Sari, dan Pasar Sanglah. “Jika pasar belum siap secara fasilitas, maka aturan lama (bawa pulang sampah) tetap berlaku,” kata Gus Kowi.

Langkah mandiri ini diambil sebagai solusi jangka panjang mengingat TPA Suwung dijadwalkan akan ditutup total pada Agustus mendatang.  

Perumda Pasar berupaya untuk tidak lagi bergantung pada TPA, meskipun nantinya ada kebijakan pembukaan kembali secara darurat.

Di tempat terpisah, Desa Sanur Kauh, Kota Denpasar melakukan antisipasi dan pemantauan untuk mencegah terjadinya pembuangan sampah liar.

Langkah yang dilakukan yakni dengan melakukan pemasangan mobile CCTV bertenaga surya. Pemasangan dilakukan di tempat yang rawan terjadinya pembuangan sampah liar dan selalu berpindah-pindah. Saat ini desa telah memiliki 4 unit CCTV. 

“Tapi bisa dipindah-pindah itu. Tidak hanya di satu titik. Di mana yang kami anggap rawan, pindah ke sana pemasangannya,” ungkap Perbekel Sanur Kauh, I Made Ada, Rabu (22/4).

Dirinya meyebut, CCTV tersebut dititip di rumah warga dan diarahkan ke titik rawan pembuangan sampah. Pemasangan CCTV ini telah dilakukan sejak 1,5 bulan lalu.

Dengan pemasangan CCTV ini, Made Ada menyebut sudah ada pembuang sampah yang terjaring. Pembuang sampah liar tersebut kemudian didatangi oleh staf desa dan diminta membuat video permintaan maaf dan berjanji tak mengulangi lagi.

“Videonya tidak kami viralkan. Kami simpan sebagai bukti. Karena kalau pemantauan manual susah, apalagi pembuangnya pakai sepeda motor,” katanya.

Dengan adanya CCTV ini, walaupun tidak bisa memergoki langsung pembuang sampah liar, setidaknya bisa diketahui siapa yang melakukannya.

Ke depan, pihaknya berencana menambah pengadaan CCTV ini. Karena menurutnya, pemantauan dengan CCTV ini sangat efektif khususnya dalam pencegahan pembuang sampah liar.

Selain itu, juga bisa sekaligus untuk pemantauan tindak kejahatan jika kebetulan terjadi di lokasi CCTV tersebut. Pihaknya juga menggencarkan pemilahan di tingkat rumah tangga.

Meski belum 100 persen warga patuh, menurutnya, hal itu menurunkan jumlah sampah yang dibawa ke TPS3R dan juga residu yang dibuang ke TPA Suwung.

Saat ini, pihaknya juga telah merealisasikan sebanyak 500 unit teba modern dan 1.000 komposter bag.
“Dulu sebelum pemilahan sampai 16 truk residu yang dibuang, sekarang turun jadi 8 truk. Sambil berproses kami akan tekan terus,” ungkapnya. (mit/sup)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.