Jakarta (ANTARA) - Kedutaan Besar Jepang di Jakarta menyatakan gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 di timur laut Pulau Honshu, Jepang, pada Senin (20/4) tidak menimbulkan korban jiwa.

"Untungnya tidak ada yang meninggal," kata Kuasa Usaha Ad Interim Kedutaan Besar Jepang di Jakarta Myochin Mitsuru dalam diskusi di Jakarta, Kamis (23/4).

Badan Meteorologi Jepang sebelumnya melaporkan bahwa telah terjadi gempa di wilayah timur laut Pulau Honshu, pada Senin (20/4), tepatnya di sekitar Prefektur Aomori dan Iwate.

Magnitudo gempa kemudian diperbarui dari 7,5 menjadi 7,7, dan kedalamannya direvisi dari 10 kilometer menjadi 18 kilometer.

Media NHK melaporkan tsunami terdeteksi di laut dan bergerak menuju wilayah pesisir Aomori dan Iwate.

Meski tidak ada korban jiwa, Myochin mengatakan terdapat total sembilan orang mengalami luka-luka akibat gempa tersebut.

Dia mengatakan guncangan gempa tersebut sangat besar. Tapi, untungnya tsunami yang terjadi setelah gempa itu tidak terlalu parah, sehingga tidak menyebabkan kerusakan yang serius.

Sementara itu, sebagai negara yang juga rawan terhadap bencana alam, Indonesia dan Jepang telah memiliki kerja sama dalam penanganan bencana.

Dalam diskusi antara Presiden RI Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi baru-baru ini, Takaichi menyampaikan niat Jepang untuk bekerja sama dalam langkah-langkah pengendalian banjir dan pencegahan bencana dengan memanfaatkan teknologi satelit Jepang.

Myochin menekankan bahwa langkah tersebut membutuhkan pengawasan teknis yang lebih mendalam.

Namun, dengan memanfaatkan satelit, Indonesia dapat memperkuat sistem peringatan dini terkait topan dan hal-hal semacamnya.

Jadi dalam hal itu, Jepang mungkin dapat memberikan lebih banyak bantuan kepada Indonesia. Bukan hanya dengan memanfaatkan satelit, Jepang juga telah mengirimkan beberapa ahli ke pihak berwenang Indonesia.

"Jadi, kami sekarang sedang menjajaki kemungkinan tersebut. Bantuan manajemen bencana seperti apa yang dapat kami berikan," demikian kata Myochin.