Perang Iran-AS Bikin Eropa Terancam Kehabisan Bahan Bakar Jet, Lufthansa Pangkas 20.000 Penerbangan
Febri Prasetyo April 24, 2026 03:38 AM

TRIBUNNEWS.COM - Krisis energi akibat perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel mulai menghantam industri penerbangan Eropa.

Maskapai raksasa Jerman, Lufthansa Group, resmi memangkas 20.000 penerbangan jarak pendek hingga Oktober 2026 setelah harga bahan bakar jet melonjak tajam dan membuat banyak rute tidak lagi menguntungkan.

Harga Avtur Melonjak, Lufthansa Pangkas Ribuan Jadwal

BBC melaporkan Lufthansa menyebut lonjakan harga avtur sejak perang yang dikobarkan oleh AS dan Israel terhadap Iran pecah telah membuat biaya operasional membengkak drastis.

Harga bahan bakar jet bahkan disebut hampir dua kali lipat hanya dalam beberapa pekan terakhir.

Akibatnya, maskapai tersebut memilih memangkas jaringan penerbangan musim panas dan memusatkan operasional pada bandara utama mereka di Frankfurt dan Munich.

Sebanyak 20.000 penerbangan dihapus dari jadwal, dengan target penghematan sekitar 40.000 metrik ton bahan bakar jet.

Lufthansa juga mempercepat penutupan unit penerbangan jarak pendek CityLine dan menghentikan operasional 27 pesawat lebih cepat dari rencana awal.

Sejumlah kota seperti Heringsdorf, Cork, Gdańsk, Ljubljana, Rijeka, Sibiu, Stuttgart, Trondheim, Tivat, dan Wrocław sementara kehilangan layanan langsung Lufthansa.

Baca juga: Efek Domino Perang Iran, Eropa Terancam Kehabisan Bahan Bakar Jet, Persediaan Hanya Cukup 6 Minggu

Selat Hormuz Jadi Titik Panas Krisis Energi

Al Jazeera melaporkan akar krisis ini berada di Selat Hormuz, jalur laut paling vital dunia untuk pengiriman minyak dan gas.

Sekitar seperlima pasokan minyak global serta sebagian besar bahan bakar energi Timur Tengah melewati kawasan tersebut.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran membuat jalur ini terganggu, memicu lonjakan harga energi dunia.

Bagi Eropa, dampaknya jauh lebih besar.

Sekitar 75 persen impor bahan bakar jet Eropa berasal dari Timur Tengah.

Artinya, setiap gangguan di kawasan itu langsung menghantam maskapai-maskapai besar di benua tersebut.

Maskapai Dunia Ikut Pangkas Rute dan Naikkan Tarif

Fox Business melaporkan harga bahan bakar jet global melonjak dari sekitar 99 dolar AS per barel pada akhir Februari menjadi lebih dari 209 dolar AS pada awal April.

Lonjakan ini memaksa maskapai-maskapai dunia melakukan langkah darurat.

Air Canada mulai menangguhkan beberapa rute ke Amerika Serikat.

Delta Air Lines memangkas sebagian jadwal musim panasnya.

Baca juga: Kritik Rencana ‘Overflight’ Militer AS, Dino Patti Djalal Singgung Serangan Sekolah di Iran

Sementara JetBlue, United, Delta, dan Southwest ramai-ramai menaikkan biaya bagasi dan tarif tambahan bahan bakar.

Dampaknya langsung terasa bagi penumpang.

Pilihan penerbangan semakin sedikit, sementara harga tiket terus naik menjelang musim liburan musim panas.

Uni Eropa Khawatir Krisis Berlangsung Bertahun-tahun

Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, bahkan memperingatkan Eropa mungkin hanya memiliki sekitar enam minggu cadangan bahan bakar jet jika pasokan tetap terganggu.

Ia menyebut pembatalan penerbangan besar-besaran bisa terjadi dalam waktu dekat.

Komisaris Energi Uni Eropa Dan Jørgensen mengatakan perang ini telah merugikan Eropa sekitar 500 juta euro atau sekitar 600 juta dolar AS setiap hari.

Menurutnya, bahkan jika konflik mereda, dampaknya terhadap harga energi bisa bertahan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Untuk meredam krisis, Uni Eropa kini membentuk fuel observatory guna memantau produksi, impor, ekspor, dan stok bahan bakar transportasi agar kekurangan avtur tidak berubah menjadi krisis penerbangan besar.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.