WARTAKOTALIVE.COM -- Kabar mengejutkan datang dari jantung kekuasaan Iran.
Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei dilaporkan tengah bersembunyi dalam kondisi luka parah dan cacat, akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu yang menewaskan ayahnya, pemimpin tertinggi Iran kala itu.
Laporan eksklusif dikutip dari dailymail, menyebutkan bahwa putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei tersebut menderita luka bakar hebat di wajah dan bibir yang membuatnya kesulitan berbicara.
Baca juga: Selat Hormuz Ditutup, Mojtaba Khamenei Sebut AS Akan Rasakan Kekalahan Baru
Karenanya ia dikabarkan tengah menunggu operasi plastik serta satu kakinya yang buntung dan telah menjalani 3 kali opetasi menunggu pemasangan kaki prostetik setelah menjalani tiga kali operasi besar.
Ia juga membutuhkan operasi pada satu tangannya dan secara bertahap memulihkan fungsinya dengan terapi.
Pemerintahan di Balik Tirai Besi
Ketakutan akan upaya pembunuhan lanjutan membuat akses terhadap Mojtaba menjadi sangat terbatas.
Para petinggi Garda Revolusi (IRGC) dilaporkan menghindari kunjungan langsung karena khawatir pergerakan mereka dilacak oleh intelijen musuh.
Meski fisiknya hancur, sumber internal menyebut mental Mojtaba tetap tajam.
Baca juga: Kekhawatiran Pemerintah Saat Lepas Jemaah Haji di Tengah Perang Timur Tengah
Ia mengendalikan negara menggunakan jaringan kurir fisik tradisional yang membawa pesan tulisan tangan dalam amplop tersegel.
"Mojtaba menolak muncul dalam bentuk video atau audio karena tidak ingin terlihat lemah di mata publik," tulis laporan tersebut, Kamis (23/4/2026).
Transisi ke Sistem Politbiro
Lumpuhnya sang pemimpin karena luka cacat parah, memaksa Iran beralih ke sistem kepemimpinan kolektif.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi kini bertindak layaknya "Politbiro" yang mengendalikan kebijakan strategis.
Ketua Parlemen, Mohammad Bagher Qalibaf, muncul sebagai wajah utama rezim sekaligus negosiator kunci dengan AS.
Di bawah bayang-bayang tokoh garis keras seperti Ahmad Vahidi, dewan ini tengah berada di persimpangan jalan: memberikan konsesi nuklir demi mengakhiri blokade Selat Hormuz atau terus menahan tekanan ekonomi global.
Di Washington, Presiden Donald Trump memberikan pernyataan pedas terkait kekacauan di Teheran.
Berbicara pada Kamis kemarin, Trump mengeklaim bahwa struktur kepemimpinan Iran telah hancur hingga tiga lapisan terdalam.
"Mereka semua kacau. Mereka tidak tahu siapa pemimpin mereka saat ini. Kami telah melenyapkan tiga level pemimpin dan siapa pun yang berada di belakang mereka. Mereka kesulitan mencari siapa yang bisa bicara atas nama negara," ujar Trump.
Saat ini, meski Mojtaba mewakili kesinambungan traksi Khamenei, para ahli meragukan ia mampu memiliki otoritas mutlak seperti ayahnya.
Dunia kini menanti apakah "Pemimpin Bayangan" ini akan berhasil pulih dan kembali memegang kendali, ataukah Iran akan bertransformasi menjadi rezim militer kolektif di tengah ancaman perang yang belum usai.