Saat Para Kepala SMK Bireuen Menjemput Inspirasi dari Tanah Jawa
mufti April 24, 2026 06:03 AM

FAISAL, S.T., M.Pd., Kepala SMKN 1 Peusangan, Sekjen APMI, dan Pengurus MKKS SMK Bireuen, melaporkan dari Bandung, Jawa Barat

Perjalanan panjang dari Tanah Rencong menuju Pulau Jawa bukan sekadar mobilitas antarpulau, melainkan sebuah ikhtiar kolektif untuk menjemput inspirasi dan menimba pengalaman. Semangat itulah yang mengiringi rombongan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Kabupaten Bireuen dalam kegiatan studi banding yang berlangsung sejak 7 hingga 10 April 2026.

Perjalanan para kepala SMK ini dimulai dari Kabupaten Bireuen menuju Bandara Kualanamu, Medan, dengan waktu tempuh mencapai delapan hingga sembilan jam. Rombongan pertama terdiri atas lima kepala sekolah bersama Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Bireuen. Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Bapak Murthalamuddin bertolak dari Banda Aceh dan bergabung di Pulau Jawa.

Meski menempuh perjalanan panjang yang cukup menguras energi, suasana kebersamaan tetap terasa hangat. Di sepanjang perjalanan, sesekali percakapan ringan muncul, diselingi diskusi kecil tentang harapan terhadap hasil studi banding ini.

Setibanya di Bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul 11.15 WIB, perjalanan dilanjutkan melalui jalur darat menuju kawasan Pangjugjugan di Jawa Barat. Dalam perjalanan, rombongan singgah di Rest Area Km 57 untuk makan siang.

Sate maranggi yang disajikan dengan potongan tomat, cabai rawit, bawang merah, dan kecap memberikan sensasi rasa yang berbeda dibandingkan satai khas Aceh, misalnya satai Matang.

Kesederhanaan penyajiannya justru memperkaya cita rasa. “Lage nyoe sate jih, bak tanyoe eungkot bakar ta lheuk,” celetuk salah seorang peserta, disambut tawa ringan yang mencairkan suasana.

Perjalanan berlanjut menuju Pangjugjugan, sebuah kawasan yang menawarkan kesejukan dan panorama hijau yang menenangkan. Kawasan ini merupakan hasil pengembangan seorang alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) bernama Kang Djadjat, bersama rekan-rekannya kelas tiga bio dua (GABEA) SMAN 3 Surabaya. Mereka membangun kawasan tersebut secara bertahap sejak tahun 2019.

Menurut Kang Anam, salah satu pengelola, kawasan itu dulunya merupakan lahan milik masyarakat. “Dulu ini mah punya masyarakat, kemudian dibeli dan dikembangkan. Awalnya ditanami pinus untuk menjaga sumber air,” ujarnya.

Kini, kawasan tersebut telah berubah menjadi ekosistem produktif dengan berbagai tanaman seperti durian, manggis, jambu, hingga pinang, serta terintegrasi dengan peternakan.

Pada malam hari, kegiatan diisi dengan ramah tamah dan diskusi santai. Dalam suasana hangat tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Aceh berbagi pengalaman tentang pengelolaan sumber daya lokal, khususnya dalam bidang peternakan.

“Dulu saya mengumpulkan sampah organik dari rumah tangga seperti air cucian beras, kulit ubi, hingga batang jagung untuk difermentasi menjadi pakan sapi,” ungkapnya. Pengalaman tersebut menjadi inspirasi tentang pentingnya inovasi sederhana yang berdampak besar.

Keesokan paginya, rombongan melakukan pengamatan lebih lanjut di kawasan tersebut, termasuk melihat langsung aktivitas peternakan sapi perah.

Dari hasil wawancara dengan warga, diketahui bahwa satu ekor sapi mampu menghasilkan 14 hingga 15 liter susu setiap kali pemerahan.

“Kami memerah susu dua kali sehari, pagi dan sore. Hasilnya langsung diambil oleh koperasi desa,” ujar Sukinem, salah satu peternak.

Ia juga menjelaskan bahwa harga susu yang diterima peternak sekitar Rp7.000 per liter, yang sebagian digunakan untuk perawatan sapi.

Pengalaman ini memberikan gambaran nyata tentang sistem ekonomi desa yang terintegrasi antara peternakan, koperasi, dan pasar.

Bagi rombongan MKKS, hal ini menjadi contoh konkret bagaimana konsep ‘teaching factory’ (TeFa) dapat diterapkan di SMK, khususnya pada bidang agribisnis dan peternakan.

Perjalanan kemudian kami lanjutkan menuju kebun durian Aa Kadu di wilayah Garut. Medan yang dilalui cukup menantang, dengan jalan berliku dan naik turun khas pegunungan. Namun, semua rasa lelah terbayar saat tiba di lokasi. Hamparan kebun durian dengan berbagai varietas unggul menyuguhkan pemandangan yang memukau.

“Mayoritas di sini Musang King, sekitar 75 persen, sisanya duri hitam dan bawor,” jelas Asep, penjaga kebun. Selain menjadi objek wisata, kebun ini juga menjadi pusat produksi durian berkualitas tinggi dengan nilai ekonomi yang signifikan.

Harga durian yang ditawarkan pun tergolong fantastis. “Harga durian di sini sebulan tunjangan kepala sekolah,” seloroh salah satu peserta, disambut gelak tawa rombongan. Meski demikian, hal ini menunjukkan bahwa sektor pertanian, jika dikelola dengan baik, memiliki potensi ekonomi yang sangat besar.

Kepala Dinas Pendidikan Aceh menegaskan bahwa konsep seperti ini sangat relevan untuk dikembangkan di Aceh.

“Di Aceh sebenarnya lebih dari ini bisa kita lakukan. Yang penting adalah keseriusan dalam pengelolaan,” ujar Murthalamuddin.

Ia juga menekankan pentingnya integrasi antara pertanian dan peternakan dalam pembelajaran di SMK agar siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik nyata.

Hari berikutnya, rombongan melanjutkan kunjungan ke Hortimart Agro Center di Bawen, Semarang. Kawasan ini merupakan pusat agrowisata modern yang dikelola secara profesional oleh Ir Budi Darmawan. Di atas lahan seluas sekitar 20 hektare, berbagai jenis tanaman hortikultura dikembangkan secara terpadu.

Sebanyak 90 persen lahan ditanami buah-buahan tropis unggulan seperti durian, lengkeng, mangga, alpukat, dan jeruk, sedangkan sisanya digunakan untuk sayuran dan tanaman hias.

Sistem pengelolaan yang diterapkan sangatlah modern, termasuk penggunaan irigasi tetes berbasis tenaga surya serta pengelolaan embung sebagai sumber air.

Salah satu inovasi menarik adalah sistem panen bergilir pada tanaman lengkeng. Dengan membagi pohon ke dalam beberapa blok berdasarkan waktu panen, produksi dapat berlangsung sepanjang tahun.

Selain itu, teknik sambung pucuk memungkinkan tanaman berbuah lebih cepat meskipun usia pohon masih relatif muda.

Kunjungan ini membuka wawasan rombongan tentang pentingnya teknologi dan manajemen dalam pertanian modern. SMK sebagai lembaga pendidikan vokasi diharapkan mampu mengadopsi konsep ini dalam pembelajaran, sehingga menghasilkan lulusan yang siap kerja dan mampu berwirausaha.

Setelah rangkaian kunjungan lapangan, rombongan melanjutkan perjalanan ke Jakarta untuk menggelar diskusi bersama mitra dari GABEA.

Dalam forum tersebut dibahas rencana pengembangan lahan durian di Bireuen sebagai bagian dari penguatan SMK berbasis agribisnis.

Kepala SMKN 1 Simpang Mamplam, dalam presentasinya menekankan pentingnya kesiapan lahan dan perencanaan jangka panjang. Diskusi berlangsung dinamis, mencerminkan semangat kolaborasi dan komitmen untuk membawa perubahan nyata di daerah.

Perjalanan studi banding ini bukan sekadar agenda formal, melainkan juga menjadi ruang refleksi dan pembelajaran. Setiap lokasi yang dikunjungi memberikan inspirasi tentang bagaimana potensi lokal dapat dikembangkan melalui inovasi dan kerja sama.

Kini, rombongan telah kembali ke Aceh dengan membawa semangat baru. Tantangan berikutnya adalah mengimplementasikan berbagai ide tersebut menjadi program nyata yang berdampak bagi siswa, sekolah, dan masyarakat.

Menjemput inspirasi dari Tanah Jawa hanyalah langkah awal. Perjalanan sesungguhnya adalah bagaimana mewujudkan inspirasi itu menjadi aksi nyata di Tanah Rencong demi masa depan pendidikan vokasi yang lebih maju, mandiri, dan berdaya saing.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.