Nasib Trump Terjepit Imbas Perang Iran, Popularitasnya Menurun Drastis, Rakyat AS Mulai Muak?
Putra Dewangga Candra Seta April 24, 2026 07:32 AM

 

SURYA.co.id – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kini menghadapi tekanan berat di dua front sekaligus, konflik geopolitik dengan Iran dan krisis kepercayaan publik di dalam negeri.

Kapan situasi ini memuncak? Dalam beberapa pekan terakhir, saat data jajak pendapat menunjukkan tren penurunan yang konsisten.

Di mana dampaknya terasa? Di seluruh Amerika Serikat, dari pusat kekuasaan di Washington hingga akar rumput masyarakat.

Siapa yang terdampak? Pemerintahan Trump dan stabilitas politik nasional.

Apa penyebabnya? Kombinasi perang Iran dan tekanan ekonomi domestik.

Mengapa ini penting? Karena legitimasi politik presiden kini dipertanyakan.

MURKA - Foto diambil dari Facebook The White House, Selasa (21/10/2025) memperlihatkan Presiden AS Donald Trump dalam unggahan pada Kamis (16/10/2025). Trump baru-baru ini dibuat murka lantaran Iran menerapkan pajak lewat di Selat Hormuz.
MURKA - Foto diambil dari Facebook The White House, Selasa (21/10/2025) memperlihatkan Presiden AS Donald Trump dalam unggahan pada Kamis (16/10/2025). Trump baru-baru ini dibuat murka lantaran Iran menerapkan pajak lewat di Selat Hormuz. (Facebook The White House)

Bagaimana dampaknya? Popularitas Trump jatuh ke level kritis.

Laporan CNN menyebut fenomena ini sebagai sinyal krisis kepemimpinan.

DIkutip SURYA.co.id dari Tribunnews, data terbaru menunjukkan popularitas Trump merosot tajam ke sekitar 30 persen, level yang secara historis dianggap berbahaya bagi seorang presiden aktif.

Level Kritis: Ketika Angka Bicara Fakta

CNN melaporkan sejumlah jajak pendapat terkini menunjukkan tingkat dukungan terhadap Trump merosot ke sekitar 30 persen.

Survei Reuters-Ipsos mencatat angka 36 persen, sementara survei Strength in Numbers-Verasight menunjukkan 35 persen dan AP-NORC sebesar 33 persen.

Hasil ini memperpanjang tren penurunan konsisten yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.

Bahkan, delapan dari sembilan jajak pendapat utama menempatkan Trump di level yang sama rendahnya.

Baca juga: Imbas Trump Umumkan Perpanjangan Gencatan Senjata Tapi Blokir Berlanjut, Militer Iran Siaga Penuh

Tidak hanya tingkat persetujuan yang menurun, angka ketidakpuasan terhadap Trump juga mencapai rekor baru.

Rata-rata penolakan publik terhadap Trump kini berada di kisaran 62 persen menurut agregasi survei nasional.

Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode krisis sebelumnya, termasuk awal masa jabatan 2017 dan pasca peristiwa January 6 United States Capitol attack.

Kondisi tersebut menunjukkan semakin luasnya penolakan masyarakat terhadap kepemimpinan Trump, tidak hanya dari oposisi, tetapi juga merambah pemilih independen dan sebagian basis konservatif yang mulai mengkhawatirkan stabilitas nasional.

“Bukan Perang Kami”: Suara dari Akar Rumput

DEMO NO KINGS - Gelombang demonstrasi besar-besaran bertajuk “No Kings” (Tidak Ada Raja) mengguncang berbagai kota di Amerika Serikat pada Sabtu (28/3/2026) waktu setempat.
DEMO NO KINGS - Gelombang demonstrasi besar-besaran bertajuk “No Kings” (Tidak Ada Raja) mengguncang berbagai kota di Amerika Serikat pada Sabtu (28/3/2026) waktu setempat. (istimewa/Wartakota)

Penurunan ini disebut semakin tajam sejak pecahnya konflik dengan Iran.

Isu perang kini menjadi salah satu faktor utama yang menggerus kepercayaan publik terhadap pemerintah.

Survei menunjukkan sekitar dua pertiga warga Amerika tidak setuju dengan cara Trump menangani konflik tersebut.

Di berbagai kota besar, sentimen anti-perang mulai menguat.

Banyak warga menilai konflik luar negeri bukan prioritas utama saat kondisi ekonomi domestik sedang tertekan.

Selain itu, kebijakan luar negeri ini dinilai memperburuk ketidakstabilan global sekaligus menekan ekonomi domestik.

Faktor ekonomi juga menjadi penyebab utama merosotnya popularitas Trump.

Inflasi tinggi dan lonjakan harga energi akibat perang Iran memicu ketidakpuasan luas di kalangan pemilih.

CNN melaporkan tingkat persetujuan terhadap penanganan ekonomi Trump turun ke sekitar 31 persen, terendah sepanjang karier politiknya.

Sementara itu, lebih dari 70 persen responden menyatakan tidak puas terhadap kebijakan inflasi pemerintah.

Ancaman dari Dalam

Analis menilai tren ini menempatkan Trump dalam posisi politik yang tidak biasa dan berisiko tinggi.

Jika bertahan di kisaran 30 persen, Trump akan memasuki wilayah yang sebelumnya hanya dialami sedikit presiden modern.

Salah satu perbandingan yang sering muncul adalah George W. Bush yang mengalami penurunan serupa akibat perang Irak dua dekade lalu.

Kondisi ini menandakan potensi tekanan politik yang semakin besar ke depan.

Penurunan popularitas juga berpotensi memengaruhi dinamika politik domestik AS.

Beberapa analis memperingatkan bahwa tren ini dapat memicu perpecahan internal di kubu pendukung Trump.

Selain itu, meningkatnya ketidakpuasan publik dapat berdampak pada agenda kebijakan pemerintah dalam jangka panjang.

Meski demikian, belum ada indikasi bahwa tekanan politik ini akan segera mengubah arah kebijakan pemerintahan Trump.

Situasi ini menunjukkan bahwa kombinasi konflik global dan tekanan ekonomi domestik kini menjadi tantangan besar bagi stabilitas politik Amerika Serikat.

Anjloknya popularitas Donald Trump menjadi peringatan keras bahwa kekuatan militer tidak selalu berbanding lurus dengan kekuatan elektoral.

Jika tidak segera melakukan de-eskalasi yang nyata, tahun 2026 berpotensi tercatat sebagai momen ketika ambisi luar negeri Trump justru berbalik menghantam legitimasi politiknya di dalam negeri.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.