Mahasiswa KTH Swedia Dorong Ekonomi Sirkular di Labuan Bajo Melalui FGD Lintas Sektor
Hilarius Ninu April 24, 2026 10:45 AM

 

TRIBUNFLORES.COM, LABUAN BAJO - Pertumbuhan pesat sektor pariwisata di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, membawa tantangan besar pada daya dukung lingkungan. 

Sebagai upaya memitigasi dampak kerusakan ekologi, inisiasi transisi menuju ekonomi sirkular mulai diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor.

Dalam diskusi kelompok terpumpun (focus group discussion/FGD) yang digelar di Labuan Bajo, Kamis (16/4/2026), para pemangku kepentingan menggarisbawahi urgensi perubahan pola ekonomi linear. 

Selama ini, sistem ekonomi konvensional masih didominasi pola "ambil, pakai, dan buang" yang memicu penumpukan limbah di kawasan konservasi.

Inisiasi ini digerakkan oleh Aurelia Aranti Vinton, mahasiswa Magister Sustainable Technology dari KTH Royal Institute of Technology Swedia. Melalui pendekatan ekonomi sirkular, nilai sumber daya diupayakan bertahan selama mungkin dalam siklus konsumsi dan produksi.

Baca juga: Imigrasi Catat Kedatangan 6 Kapal Pesiar Internasional di Perairan TN Komodo Selama Maret 2026

Sinergi Lintas Sektor

Diskusi tersebut mempertemukan berbagai elemen kunci, mulai dari Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pariwisata, organisasi non-pemerintah (NGO), hingga pelaku usaha di sektor perhotelan (hospitality). Kehadiran para akademisi juga memperkuat basis data dalam membedah persoalan sampah di lapangan.

Aurelia, yang juga merupakan penerima beasiswa LPDP dan Putri Bumi Indonesia Anti Pencemaran Udara 2025, menyatakan bahwa ekonomi sirkular bukan sekadar teori akademik, melainkan kebutuhan mendesak bagi destinasi pariwisata prioritas.

"Ekonomi sirkular adalah pendekatan sistemik yang perlu diadopsi secara kolaboratif. Di Labuan Bajo, pendekatan ini relevan untuk menjawab tantangan lingkungan sekaligus menjaga keberlanjutan ekonomi lokal," ujar Aurelia. (adv)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.