Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Putri Nurjannah Kurita
TRIBUN-PAPUA.COM, SENTANI - Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini dikenal luas sebagai pelopor emansipasi wanita Indonesia. Hari kelahirannya yang jatuh pada 21 April diperingati sebagai simbol perjuangan perempuan untuk keluar dari belenggu kekerasan dan budaya patriarki.
Namun, di tanah Papua, peringatan Hari Kartini tahun 2026 ini dimaknai lebih dalam dari sekadar seremoni.
Aktivis Perempuan Papua, Novita Opki, memandang momen ini sebagai refleksi atas situasi perempuan Papua yang saat ini menghadapi berlapis kekerasan yang kompleks.
Baca juga: YPMAK Kirim Teknologi Canggih Ke Pedalaman Terpencil Demi Pantau Kesehatan Bumil
Menurutnya, perjuangan Kartini di masa lalu kini relevan dengan kondisi perempuan adat yang tersingkir dari ruang hidupnya.
"Masuknya investasi yang dibarengi dengan militerisasi, serta konstruksi sosial budaya, membuat perempuan Papua terkungkung dalam gelombang kekerasan," ujar Novita yang juga sebagai pendamping hukum dari Tong Pu Ruang Aman, ketika diwawancara, Kamis (23/4/2026).
Ia menekankan bahwa hilangnya lahan adat akibat kepentingan investasi adalah bentuk kekerasan tidak langsung yang mendiskriminasi perempuan dari sumber penghidupannya.
Novita menyoroti ironi antara era Kartini dan era modern. Jika Kartini mampu mendobrak zaman yang tertutup, perempuan Papua saat ini justru merasa penindasan terhadap mereka dibiarkan di tengah zaman yang katanya makin terbuka.
Baca juga: Peringatan Hari Kartini di Puncak Jaya: Kebaya dan Semangat Emansipasi dalam Gerak Senam
"Instansi pemerintah seperti Komnas Perempuan, KPAI, dan dinas terkait belum maksimal menangani kasus yang dialami perempuan di Tanah Papua. Kita butuh dukungan nyata untuk menyoroti wilayah Proyek Strategis Nasional (PSN) dan wilayah konflik," katanya.
Ia juga mempertanyakan keberpihakan negara saat warga sipil menjadi korban. "Ibu hamil terkena luka tembak, anak kecil jadi korban, tetapi negara masih bungkam. Ini membuat kita bertanya, apakah kita benar-benar diperlakukan sebagai warga negara?" cetusnya.
Bukan Sekadar Seremoni Kebaya
Bagi Novita, peringatan Hari Kartini dari tahun ke tahun sering kali terjebak pada simbolisme belaka, seperti penggunaan kebaya tanpa memahami esensi perjuangannya.
"Jangan jadikan Hari Kartini hanya momen seremonial. Kebaya harus dilihat memiliki nilai politik yang mampu meng-cover situasi perempuan. Filosofinya adalah perjuangan nyata untuk keluar dari segala bentuk kekerasan, bukan sebatas fashion," tegasnya.
Baca juga: Kasus Penganiayaan Siswa Taruna Kasuari Nusantara: Orang Tua Tempuh Jalur Hukum, Kepsek Buka Suara
Senada dengan Novita, Sekar Banjaran Aji, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, memberikan refleksi menyentuh melalui kutipan terkenal Kartini: "Izinkan saya bebas, saya ingin terbang bagaikan burung-burung."
Sekar yang juga sebagai Tim Advokasi Solidaritas Merauke menanggapi kutipan tersebut dengan realitas pahit di Papua saat ini.
"Saya ingin menjawab kepada Kartini bahwa hari ini, burung-burung pun tidak bisa terbang karena telah kehilangan rumahnya. Masyarakat adat Papua hari ini tidak hanya terkungkung dalam sangkar sosial, tetapi 'sangkar' alam mereka pun sedang dihabisi. Ini adalah pertanda bahaya bagi kita semua," tutupnya.(*)