Produsen Tahu dan Tempe di Kediri Tertekan, Imbas Harga Kedelai Naik
Rendy Nicko April 24, 2026 01:50 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Lonjakan harga kedelai dalam beberapa waktu terakhir mulai berdampak signifikan terhadap sejumlah usaha di Kediri. Termasuk industri tahu takwa khas Kediri di Kelurahan Tinalan, Kota Kediri, Jawa Timur. Para pelaku usaha kini harus menghadapi peningkatan biaya produksi yang berimbas pada harga jual produk di pasaran.

Harga kedelai yang menjadi bahan baku utama tercatat mengalami kenaikan cukup tajam. Kondisi ini memaksa para pengusaha melakukan penyesuaian agar usaha tetap berjalan di tengah tekanan biaya.

Salah satu pengusaha tahu, Marjuni, menyebut harga kedelai saat ini telah mencapai Rp12 ribu per kilogram. Angka tersebut naik dibandingkan harga normal yang biasanya berada di kisaran Rp9 ribu per kilogram.

"Harga kedelai merangkak naik sejak sebelum Lebaran. Imbasnya, harga tahu kuning terpaksa saya naikkan menjadi Rp30 ribu dari harga awal Rp28 ribu per sepuluh biji," kata Marjuni, Jumat (24/4/2026).

Baca juga: Si Jago Merah Bakar Pabrik Pengolahan Sabut Kelapa di Desa Ngoran Blitar, Kerugian Capai Rp 100 Juta

Kenaikan harga kedelai tidak hanya berdampak pada harga jual, tetapi juga memperbesar beban produksi secara keseluruhan. Sejumlah bahan pendukung seperti besek bambu dan kayu bakar juga mengalami kenaikan harga.

Akibatnya, pengusaha harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk mempertahankan produksi harian. Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha kecil yang mengandalkan stabilitas harga bahan baku.

Selain persoalan bahan baku, industri tahu takwa juga menghadapi kendala tenaga kerja. Marjuni mengaku kesulitan mendapatkan pekerja terampil yang mampu menjaga kualitas produk.

"Proses membuat tahu itu tidak bisa sembarangan. Perlu ketelatenan dan keahlian supaya rasa dan teksturnya tetap sama," jelasnya.

Meski dihimpit kenaikan biaya, produksi tetap dijaga agar tidak mengganggu pasokan ke pelanggan. Marjuni memproduksi sekitar 500 biji tahu putih serta 150 hingga 200 biji tahu kuning setiap hari.

Namun, penyesuaian harga jual berdampak pada daya beli masyarakat. Marjuni mengaku omzet usahanya turun hingga 20 persen sejak kenaikan harga diberlakukan.

Para pelaku usaha berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga kedelai di pasaran. 

"Harapan saya sederhana, semoga harga bahan baku bisa turun kembali. Kalau biaya produksi rendah, keuntungan bisa lebih banyak dan bisa kami gunakan untuk meng-cover kebutuhan operasional lainnya," papar Marjuni.

Sementara itu, Puspita, produsen tempe di kawasan Gampengrejo Kediri mengaku kenaikan harga kedelai juga berpengaruh pada biaya produksi. Saat biaya kedelai naik ia terpaksa harus mengurangi ukuran tempe yang dijual.

"Kalau biaya naik seperti sekarang dan sudah tidak bisa diantisipasi lagi terpaksa harus mengurangi ukuran tempe yang dijual," ungkapnya.

Ia memilih tidak menaikkan harga tempe karena khawatir pelanggan akan berpindah. Namun ia juga dihadapkan dilema karena tempe yang ia produksi pure menggunakan kedelai tanpa campuran. Sehingga kenaikan harga kedelai ini sangat berdampak. 

"Kalau dinaikkan harganya tidak bisa, karena khawatir pelanggan malah berpindah. Sebab penjual tempe juga kan banyak. Harapan kami ya harga kedelai bisa turun dan stabil supaya bisa tetap produksi secara normal," ujarnya.

(Luthfi Husnika/TribunMataraman.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.