Tunggu 14 Tahun, Wiwik Penjual Ikan Keliling Akhirnya Naik Haji Bareng Suami, Perjuangan Terbayar
Arie Noer Rachmawati April 24, 2026 03:14 PM

 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Hanif Manshuri

TRIBUNJATIM.COM - Di sela riuh aktivitas pasar dan bau khas ikan segar saat keliling berjualan, tersimpan mimpi besar pasangan suami istri asal Lamongan, Jawa Timur ini. 

Mulyono (48) dan istrinya, Wiwik Mujiyati (43), tak pernah menyangka langkah kecil mereka setiap hari justru mengantarkannya ke Tanah Suci.

Pasangan asal Desa Kemlagigede, Kecamatan Turi, Lamongan, Jawa Timur  itu akhirnya berangkat menunaikan ibadah haji setelah melalui perjalanan panjang yang penuh kesabaran. 

Sejak mendaftar pada 2012, mereka harus menunggu hingga 14 tahun sebelum benar-benar mendapat panggilan berangkat.

Namun, kisah mereka sesungguhnya dimulai jauh sebelumnya.

Baca juga: Menanti 15 Tahun CJH Asal Malang Sukiarti Akhirnya Bisa Berangkat Haji: Yang Penting Sehat Dulu

Menabung Hasil Jualan Ikan Sejak 2005

Sejak 2005, Mulyono dan Wiwik mulai menyisihkan penghasilan dari berjualan ikan.

Nominalnya tak besar sekitar Rp50 ribu hingga Rp150 ribu per hari, tetapi dilakukan tanpa henti.

“Setiap hari kami kumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil jualan ikan. Alhamdulillah akhirnya bisa daftar, walaupun harus menunggu lama,” tutur Mulyono, Kamis (23/4/2026).

Kehidupan mereka pun jauh dari kata mudah.

Selama dua tahun, keduanya berjualan ikan keliling menggunakan sepeda, menyusuri kampung demi kampung. 

Hingga akhirnya mereka menetap di Pasar krempyeng wilayah Made, dan bertahan lebih dari dua dekade sebagai pedagang sederhana.

Rutinitas itu mungkin tampak biasa bagi banyak orang.

Namun bagi Mulyono dan Wiwik, setiap kayuhan sepeda dan setiap rupiah yang ditabung adalah bagian dari perjalanan menuju satu tujuan menunaikan rukun Islam kelima.

Baca juga: Ingin Berangkat Haji, Mbah Sukimah Malah Kena Tipu, Perhiasan 34 Gram Amblas: Saya Kira Orang Baik

'Haji itu Panggilan'

Menjelang keberangkatan, suasana haru tak bisa disembunyikan. 

Tangis bahagia pecah saat mereka mengingat kembali perjuangan panjang yang telah dilalui bersama.

“Haji itu panggilan. Rasanya campur aduk, terharu, sedih, tapi juga bahagia sekali,” ujar Wiwik dengan mata berkaca-kaca.

Kini, keduanya mengaku telah siap lahir dan batin.

Mereka hanya tinggal menunggu waktu untuk berangkat menuju Tanah Suci, membawa harapan dan doa yang telah lama dipupuk.

Selama berada di Madinah dan Makkah, Mulyono dan Wiwik berencana memperbanyak ibadah, memohon kesehatan, serta kelancaran dalam menjalankan seluruh rangkaian haji.

Kabar keberangkatan mereka pun disambut hangat keluarga besar.

Rasa bangga dan haru menyelimuti, menyadari perjuangan panjang itu akhirnya berbuah manis.

Kisah Mulyono dan Wiwik menjadi pengingat sederhana, mimpi besar tak selalu dimulai dari hal besar.

Kadang, ia tumbuh dari langkah kecil yang dilakukan setiap hari, dengan kesabaran yang tak pernah putus.

Kini, di usia yang tak lagi muda, keduanya bersiap menapaki perjalanan suci ke Tanah Suci.

Baca juga: 10 Tahun Jualan Polo Pendem, Mbah Poniti 96 Tahun Akhirnya Berangkat Naik Haji

Bukan hanya membawa koper dan perlengkapan ibadah, tetapi juga membawa cerita panjang tentang perjuangan, kesabaran, dan keyakinan.

Di mata keluarga, mereka bukan sekadar pasangan penjual ikan.

Mereka adalah bukti bahwa ketulusan dan kerja keras, sekecil apa pun, bisa membuka jalan menuju mimpi yang tampaknya jauh.

Kisah Mulyono dan Wiwik bukan hanya tentang berangkat haji.

Ini tentang bagaimana harapan dirawat dalam diam, bagaimana doa dipanjatkan tanpa lelah, dan bagaimana langkah kecil yang dilakukan setiap hari pada akhirnya bisa membawa seseorang sampai ke tujuan yang paling mulia.

Mulyono dan Wiwik terkabul menjadi tamu Allah untuk menginjakkan kakinya di dua tanah harom atau Haromain, Makkah dan Madinah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.