Kisah Sri Mulyani, Penjual Nasi Uduk Asal Tangerang Siap Berangkat Haji Usai 13 Tahun Menanti
Ahmad Tajudin April 24, 2026 05:03 PM

TRIBUNBANTEN.COM - Di balik keberangkatan ratusan jemaah haji asal Kota Tangerang tahun 2026, terselip kisah perjuangan yang menyentuh hati.

Seorang pedagang nasi uduk berhasil mewujudkan impian ke Tanah Suci setelah menabung dari hasil jualan kecilnya selama bertahun-tahun.

Ia adalah Sri Mulyani (56), warga Kelurahan Sangiang, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang, yang akhirnya berangkat haji bersama suami setelah 13 tahun penantian.

Sri berhasil menunaikan ibadah haji berkat perjuangannya mengumpulkan sedikit demi sedikit pundi-pundi rupiah hasil dari berjualan nasi uduk.

"Alhamdulillah sangat bersyukur kepada Allag karena momen yang saya tunggu-tunggu selama 13 tahun ini bisa diwujudkan lewat panggilan ibadah haji," ujar Sri saat diwawancarai di Terminal 2F Bandara Soekarno-Hatta, Kamis (23/4/2026).

Baca juga: 42 Tahun Menetap, Isak Tangis Wati Pecah saat Prajurit TNI Bongkar Rumahnya di Cilegon

Istri dari Rokim itu tak kuasa menahan tangis bahagia saat menceritakan perjuangan menggapai mimpi menunaikan ibadah haji kepada TribunTangerang.com.

Sebab wanita paruh baya tersebut sempat mengalami kebingungan, keterpurukan dan hampir merasa putus asa mewujudkan keinginannya bisa berangkat ke Makkah, Arab Saudi lantaran keluar dari tempatnya bekerja dulu.

Padahal saat itu ia baru saja lima tahun mendaftar sebagai calon peserta haji. Akan tetapi setelah mengumpulkan tekad kuat dan berunding dengan sang suami, kesepakatan mengumpulkan pundi-pundi rezeki didapat lewat berdagang nasi uduk.

 
Seyum ramah yang terukir setiap melayani pelanggan, tidak berakhir mengecewakan. Perjuangannya setiap subuh bersiap demi menjajakan menu sarapan bagi para pekerja rupanya mampu menghantarkan perjalanan sampai akhir ke Tanah Suci. 

Di balik wajan dan lauk pauknya, tersimpan kisah panjang penuh keikhlasan dalam mengatur biaya kehidupan sehari-hari dalam rumah tangga dan tabungan ibadah haji.

Nominalnya memang tak besar, meski hanya menyisihkan uang Rp 10.000 hingga Rp 50.000 namun perempuan kelahiran tahun 1970 itu konsisten melakukannya selama delapan tahun.

Berkat ketekunan dan doa, pedagang yang akrab disapa Ibu Yani tersebut akhirnya bisa mewujudkan mimpinya dengan melunasi biaya pendaftaran haji pada Selasa (24/3/2026) lalu bertepatan setelah Hari Raya Idul Fitri.

"Saya dulu bekerja menjadi pegawai di suatu perusahaan, tapi tahun 2018 keluar dan melanjutkan aktivitas mencari nafkah dari jualan nasi uduk depan rumah," ungkapnya.

"Alhamdulillah meski sedikit-sedikit nabung hasil dagangan, ternyata bulan lalu sudah terkumpul dan cukup melunasi biaya haji saya dan suami tahun ini, rasanya senang dan bahagia sekali," sambungnya.

Kini Sri dan Rokim telah menuai kerja kerasnya selama belasan tahun, bahkan terpilih untuk berangkat haji melalui kloter pertama dari Provinsi Banten setelah menjalani embarkasi di Asrama Haji Cipondoh atau yang bernama Grand El Hajj.

Tidak hanya keluarga, keberangkatannya beribadah itu bahkan disaksikan dan dilepas oleh sejumlah pejabat negara. Mulai dari Wali Kota Tangerang Sachrudin, Gubernur Banten Andra Soni, Menteri Haji dan Umrah RI, Mochamad Irfan Yusuf smapai Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad.

"Saya sama suami hanya orang kampung yang berasal dari Klaten, selain berangkat haji awalnya cuma mimpi tapi ternyata pejabat negara ikut mengantar dan memastikan kami berangkat ke Makkah dengan baik, Alhamdulillah sangat bersyukur sekali dengan Allah," paparnya.

Demi menjaga kondisi tubuh tetap prima selama beribadah haji, Sri dan suaminya telah melakukan beragam persiapan. 

Mulai dari mempersiapkan fisik, kesehatan lewat olahraga kecil dan mengatur pola makan sampai menjalani manasik haji. 

Sedikit makanan khas Indonesia juga tetap dibawanya ke Arab Saudi sebagai langkah antisipasi asupan tubuh tetap terjaga dengan baik.

"Alhamdulillah saya dan suami enggak ada penyakit khusus, tapi kami tetap bawa obat buat jaga-jaga takutnya badan enggak bisa adaptasi, soalnya disana kan panas," ucapnya.

"Makanan juga ada beberapa saya bawa seperti bawang goreng, abon, sambal dan mie instan soalnya makanan di Arab kan beda sama Indonesia, jadi biar bisa tetap sehat kami bawa makanan sedikit," kata dia.

Keberangkatan Sri menunaikan ibadah haji menjadi bukti nyata rezeki dan keberkahan datang dari mana saja, termasuk dari bisnis kuliner yang sering dianggap remeh.

Menurut dia, kesuksesan bukan hanya milik mereka yang berpendidikan tinggi atau memiliki modal besar akan tetapi bisa diraih bagi siapa saja yang memiliki semangat pantang menyerah.

"Harapannya tentu supaya semua jemaah haji tahun ini diberi kesehatan dan kelancaran mulai dari berangkat sampai pulang nanti kembali kumpul dengan keluarga," jelasnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.