Giliran Perempuan Tani HKTI Bangka yang Mengadu ke Bupati soal Harga TBS Sawit Murah
Ardhina Trisila Sakti April 24, 2026 04:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA — Persoalan rendahnya harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit yang terjadi di Kabupaten Bangka dirasakan dampaknya oleh para petani.

Kondisi ini telah menjadi keluhan para petani kelapa sawit dalam berbagai kesempatan dan melalui berbagai wadah diskusi.

Kini, giliran pengurus DPC Perempuan Tani Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Bangka yang menyampaikan keluhan serupa.

Para ibu-ibu itu datang berkunjung ke Rumah Dinas Bupati Bangka, Jumat (24/4/2026) dan menyampaikan sejumlah keluhan. Sebagian besar, keluhan tersebut berkenaan dengan kondisi rendahnya harga TBS sawit yang dibeli oleh Perusahaan Kelapa Sawit (PKS).

Dalam kegiatan audiensi itu, DPC Perempuan Tani HKTI Kabupaten Bangka disambut langsung oleh Bupati Bangka Fery Insani dan Wakil Bupati Bangka Syahbudin.

Selain menyampaikan soal keluhan harga sawit, beberapa di antaranya juga menyampaikan soal harga sayur dan cabai yang juga jatuh di pasaran.

“Kami datang ke sini membawa 3 isu besar, tentang harga TBS sawit yang murah, kemudian harga sayur dan cabai yang sedang banyak produksinya, tapi harganya murah,” kata Hermiwati, Ketua DPC Perempuan Tani HKTI Bangka.

Namun, persoalan harga sawit yang murah menjadi yang paling didominan dibahas pada kesempatan itu. 

Sebab sejak pasca lebaran, harga TBS sawit cendurung tidak mengalami kenaikan yang signifikan. Belum lagi soal panjangnya antrian di PKS yang membuat TBS sawit mengalami penyusutan bobot.

“Harga jual sawit kita di Bangka ini murah, berbeda jauh dibanding dengan di Riau, Sulawesi dan Sumatera yang lain,” katanya.

Oleh karena itu, dirinya mempertanyakan dan berharap Pemerintah Kabupaten Bangka dapat mencarikan solusi mengenai hal ini.

“Bahkan beda harganya sawit kita yang di Bangka dengan yang di Belitung. Padahal sekarang ini pupuk lagi mahal,” ujarnya.

Bupati Bangka, Fery Insani menyebut bahwa pihaknya telah melakukan berbagai cara untuk memperjuangkan harga TBS supaya sesuai.

“Kami sudah melakukan berbagai cara, termasuk memanggil para PKS. Alasannya banyak macam, tapi kami pemerintah ini tidak bisa mengatur harga pasar, cuma kami bisa meminta mereka untuk harta yang lebih baik dan rasional,” kata Fery.

Kendati demikian, beberapa perusahaan sawit dinilai memang belum mematuhi ketetapan harga yang ditentukan oleh Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

“Soal sawit itu kami sudah melakukan berbagai cara supaya naik. Sudah kami omongkan dan tidak naik juga. Tapi kami tidak putus usaha, kami terus lakukan berbagai cara. Kami tetap berikhtiar. Salah satunya kami mengizinkan berdirinya pabrik baru,” jelasnya.

Sektor perkebunan kelapa sawit ini menjadi salah satu andalan perekonomian di Kabupaten Bangka di tengah kondisi perekonomian masyarakat yang sedang tidak baik-baik saja.

Wakil Bupati Bangka, Syahbudin menyebut bahwa keluhan yang disampaikan oleh para ibu-ibu perempuan tani HKTI tersebut sudah diupayakan sejak awal.

“Kami paham, sebelum lebaran kemarin, harga sawit rata-rata di atas Rp3 ribu/kg. Kenapa setelah lebaran harganya jatuh di bawah Rp3 ribu/kg, padahal harga CPO cenderung stabil,” ungkap Syahbudin.

Menurutnya, kondisi ini menunjukan bahwa pabrik-pabrik kelapa sawit ini tidak patuh dengan kesepakatan yang harga.

“Sebenarnya mereka (PKS-red) hanya harus mengikuti harga di Provinsi. Kami tidak tinggal diam, kita selalu berupaya. Kita pasti dukung, karena kita sangat tertolong dengan adanya perkebunan sawit di tengah perputaran ekonomi yang tidak baik,” imbuhnya.

(Bangkapos.com/Arya Bima Mahendra)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.