nextren.com - Strava mengungkap tren baru dalam laporan Strava Metro: Commute Report 2025.
Data menunjukkan Gen Z lebih jarang menggunakan sepeda untuk komuter dibanding Baby Boomer.
Temuan ini langsung menantang asumsi umum. Selama ini, Gen Z identik dengan gaya hidup ramah lingkungan.
Namun, data menunjukkan kebiasaan komuter mereka belum mencerminkan hal tersebut.
Strava mencatat Gen Z memiliki kemungkinan 21 persen lebih rendah untuk merekam perjalanan komuter dengan sepeda dibanding Baby Boomer.
Artinya, generasi yang lebih tua justru lebih aktif dalam mobilitas berbasis sepeda.
Komuter Sepeda Capai 550 Juta Mil
Strava menganalisis aktivitas komuter sepeda sepanjang Januari hingga Desember 2025. Data diambil dari aktivitas pengguna yang direkam di platform.
Hasilnya, total jarak komuter sepeda mencapai 550 juta mil atau sekitar 885 juta kilometer.
Angka ini setara dengan mengelilingi Bumi sebanyak 22.000 kali.
Temuan ini menegaskan bahwa sepeda sudah menjadi bagian dari mobilitas harian global, bukan sekadar aktivitas olahraga.
Boomer Unggul, Gen Z Tertinggal
Sebanyak 43 persen pesepeda mencatat setidaknya satu perjalanan komuter pada 2025. Dalam kelompok ini, Baby Boomer menjadi yang paling aktif.
Sebaliknya, Gen Z tertinggal dengan tingkat partisipasi lebih rendah. Mereka 21 persen lebih jarang mencatat komuter sepeda dibanding Boomer.
Data ini menunjukkan bahwa faktor usia bukan satu-satunya penentu. Akses, kebiasaan, dan kondisi kota memiliki peran lebih besar.
Boomer cenderung memiliki rutinitas stabil dan akses lebih baik terhadap sepeda, termasuk e-bike. Sementara itu, Gen Z lebih sering bergantung pada transportasi umum atau kendaraan pribadi.
Strava juga mencatat Baby Boomer lebih sering menggunakan e-bike. Teknologi ini membantu pengguna menempuh jarak lebih jauh dengan tenaga lebih ringan.
Negara dengan adopsi e-bike tertinggi adalah Islandia, diikuti Belgia dan Norwegia.
E-bike menjadi faktor penting yang mendorong generasi lebih tua tetap aktif bersepeda. Di sisi lain, harga dan akses membuat Gen Z belum banyak mengadopsinya.
Data Jadi Dasar Perencanaan Kota
Strava Metro menyediakan data anonim yang digunakan oleh lebih dari 4.000 mitra global, termasuk pemerintah dan perencana kota.
Data ini membantu menentukan jalur sepeda, lokasi bike sharing, dan peningkatan infrastruktur.
Brian Bell, Wakil Presiden Komunikasi dan Dampak Sosial Strava, mengatakan data komuter memiliki dampak besar terhadap pengembangan kota.
"Melalui laporan ini, terlihat jelas betapa kuatnya dampak aktivitas komuter. Kami mengajak lebih banyak orang untuk merekam perjalanan mereka," ujarnya.
Rendahnya komuter sepeda di kalangan Gen Z menunjukkan masalah struktural. Infrastruktur yang belum memadai menjadi faktor utama.
Kota perlu menghadirkan jalur sepeda yang aman, koneksi ke transportasi publik, serta fasilitas pendukung.
Bagi Gen Z, sepeda harus menjadi pilihan yang praktis, bukan sekadar simbol gaya hidup.
Laporan Strava 2025 menunjukkan Baby Boomer lebih aktif bersepeda untuk komuter dibanding Gen Z.
Temuan ini menegaskan bahwa perubahan mobilitas tidak cukup bergantung pada tren atau kesadaran lingkungan. Infrastruktur, akses, dan kenyamanan tetap menjadi faktor utama.
Jika kota mampu memperbaiki faktor tersebut, sepeda berpotensi menjadi transportasi utama lintas generasi.