Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini
TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS – Ketersediaan stok beras nasional pada tahun 2026 tercatat mencapai sekitar 5 juta ton.
Angka ini menjadi indikator kuatnya ketahanan pangan nasional di tengah berbagai tantangan sektor pertanian.
Capaian tersebut tidak lepas dari kontribusi berbagai daerah, termasuk peran aktif Perum Bulog Kantor Cabang (Kancab) Ciamis dalam menyerap hasil panen petani.
Pimpinan Cabang Perum Bulog Ciamis, Johan Wahyudi, mengatakan pihaknya terus mengoptimalkan pengadaan gabah dan beras sebagai bagian dari upaya memperkuat cadangan pangan pemerintah.
Hingga saat ini, realisasi pengadaan gabah di wilayah Kancab Ciamis telah mencapai 65 ribu ton.
Selain itu, penyerapan beras juga menunjukkan progres positif dengan capaian sebesar 1.500 ton.
Secara keseluruhan, realisasi pengadaan gabah dan beras di Kancab Ciamis telah menyentuh angka 68 persen dari target pengadaan tahun 2026.
“Capaian ini menunjukkan bahwa penyerapan hasil panen petani berjalan dengan baik dan optimal, khususnya di wilayah Priangan Timur. Kami terus berupaya hadir di tengah petani untuk memastikan hasil panen mereka terserap secara maksimal,” ujar Johan, Jumat (24/3/2026).
Baca juga: Diserbu Warga Jelang Ramadan, Perum Bulog Ciamis Jual Beras SPHP Rp 58.000 per 5 Kg di GPM
Baca juga: Satgas Pangan dan Bulog Pastikan Stok Bahan Pokok di Pasar Manis Ciamis Aman
Ia menjelaskan, optimalisasi penyerapan ini tidak hanya bertujuan untuk memenuhi target pengadaan, tetapi juga sebagai bentuk dukungan terhadap kesejahteraan petani.
Dengan adanya kepastian pembelian oleh Bulog, diharapkan harga gabah tetap stabil dan menguntungkan bagi petani.
Menurutnya, keberhasilan penyerapan di tingkat daerah menjadi faktor penting dalam menjaga ketersediaan stok beras secara nasional.
Hal ini sekaligus memperkuat peran Bulog sebagai stabilisator pangan, baik dari sisi pasokan maupun harga.
“Kontribusi daerah seperti Ciamis sangat penting dalam membangun stok nasional. Ini adalah kerja bersama yang berdampak langsung terhadap ketahanan pangan Indonesia,” katanya.
Lebih lanjut, Johan menegaskan bahwa ketersediaan stok pangan yang memadai merupakan kunci dalam menjaga stabilitas pasokan, terutama untuk mengantisipasi lonjakan permintaan maupun potensi gangguan distribusi.
Bulog, kata dia, tidak hanya fokus pada kuantitas stok, tetapi juga menjaga kualitas beras yang disimpan.
Proses pengelolaan dilakukan dengan standar tertentu agar mutu beras tetap terjaga hingga sampai ke tangan masyarakat.
Selain itu, distribusi stok beras juga menjadi perhatian utama. Bulog memastikan ketersediaan beras dapat menjangkau seluruh wilayah secara merata, termasuk daerah-daerah yang membutuhkan intervensi pasar.
“Komitmen kami tidak hanya pada jumlah stok, tetapi juga kualitas dan pemerataan distribusi. Ini penting agar masyarakat di berbagai daerah bisa mendapatkan akses pangan yang layak,” ucapnya.
Dengan capaian yang sudah mendekati target, Bulog Ciamis optimistis realisasi pengadaan hingga akhir tahun dapat terpenuhi.
Upaya ini diharapkan semakin memperkuat cadangan beras pemerintah serta menjaga stabilitas harga dan pasokan di tingkat nasional.
Di sisi lain, capaian stok beras nasional yang mencapai 5 juta ton menjadi sinyal positif bahwa sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam sektor pangan berjalan efektif.
Hal ini sekaligus menjadi fondasi penting dalam menghadapi dinamika kebutuhan pangan di masa mendatang.(*)