Taruhan Operasi Maduro: Tentara AS Diduga Kantongi Enam Miliar Rupiah
Tribunnews April 24, 2026 08:38 PM

Seorang prajurit Pasukan Khusus Angkatan Darat Amerika Serikat didakwa memanfaatkan informasi rahasia untuk meraup lebih dari US$400.000 (sekitar enam miliar Rupiah) lewat taruhan di pasar prediksi daring yang terkait dengan operasi militer Januari lalu terhadap mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Demikian pernyataan Departemen Kehakiman AS pada Kamis (23/04).

Terdakwa, Gannon Ken Van Dyke (38), warga Fayetteville, North Carolina, diduga menggunakan detail sensitif misi tersebut untuk memasang sekitar 13 taruhan di Polymarket, sebuah platform pasar prediksi online. Taruhan itu memprediksi bahwa pasukan AS akan memasuki Caracas dan mengkudeta Maduro.

Jaksa Agung sementara Todd Blanche menyatakan Van Dyke "terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan” operasi militer tersebut dan "menyalahgunakan akses terhadap informasi rahasia untuk memperoleh keuntungan pribadi.”

Jaksa menambahkan, Van Dyke kemudian memindahkan sebagian besar hasil taruhannya ke akun kripto di luar negeri, sebelum menyalurkan dana tersebut ke akun pialang baru.

Prajurit pasukan khusus AS terancam 50 tahun penjara?

Otoritas Amerika Serikat mendakwa prajurit Pasukan Khusus Angkatan Darat AS, Gannon Ken Van Dyke, atas dugaan penyalahgunaan informasi rahasia pemerintah untuk keuntungan pribadi melalui taruhan daring. Dakwaan dibacakan di pengadilan federal Manhattan dan mencakup pelanggaran penggunaan ilegal informasi rahasia serta penipuan elektronik (wire fraud).

Jika dinyatakan bersalah atas seluruh dakwaan, Van Dyke menghadapi ancaman hukuman hingga 50 tahun penjara.

Selain itu, Jaksa Agung sementara AS, Todd Blanche, menegaskan bahwa personel militer memegang kepercayaan besar negara.

"Prajurit kami dipercayai informasi rahasia untuk menjalankan misi secara aman dan efektif, dan secara tegas dilarang memanfaatkan informasi sensitif tersebut demi keuntungan finansial pribadi,” kata Blanche dalam pernyataan resmi.

Sementara itu, Polymarket juga angkat bicara. Dalam pernyataan yang diunggah di platform media sosial X, perusahaan tersebut menegaskan bahwa praktik perdagangan orang dalam tidak memiliki tempat di Polymarket, seraya menyatakan telah bekerja sama dengan penyelidikan yang dilakukan otoritas AS.

Deretan taruhan sensitif di balik tindakan pemerintah AS

Selain kasus Van Dyke, sejumlah insiden lain mengemuka terkait taruhan di pasar prediksi yang berhubungan langsung dengan kebijakan dan langkah pemerintah Amerika Serikat.

Awal tahun ini, enam akun Polymarket dilaporkan meraup sekitar US$1,2 juta dengan bertaruh bahwa AS akan melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari, bertepatan dengan pecahnya perang. Hingga kini, belum ada pihak yang ditangkap dalam perkara tersebut.

Pada Maret, para pedagang yang telah memasang taruhan sebelumnya meraih keuntungan jutaan dolar, menurut perhitungan AFP, setelah mantan Presiden Donald Trump mengumumkan pembicaraan yang disebutnya "sangat produktif” dengan Iran. Pernyataan itu memicu penurunan harga minyak dan penguatan pasar saham.

Sementara itu, akun-akun Polymarket baru juga dilaporkan menghasilkan ratusan ribu dolar dari taruhan yang tepat mengenai gencatan senjata AS-Iran pada 7 April, sebagaimana dilaporkan Associated Press.

Di tengah fenomena tersebut, Gedung Putih telah mengeluarkan peringatan kepada staf agar tidak memanfaatkan informasi nonpublik untuk bertransaksi di pasar prediksi.

Diadaptasi oleh: Levie Wardana

Editor: Ayu Purwaningsih

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.