Oleh: Waldimer Pasaribu, S.Psi., M.Si. Psikologi – Dosen Sosiologi Universitas Bangka Belitung
SAYA berdiri di hadapan puluhan siswa di salah satu sekolah dasar di Pangkalpinang. Saya melihat wajah–wajah polos itu tampak antusias menghadiri serta mengikuti sosialisasi bertema dukungan psikologi dalam membentuk karakter melalui pendidikan antikekerasan, anti–bullying, dan anti–cyberbullying.
Namun di balik senyum dan keceriaan mereka, tersimpan satu kenyataan yang tidak bisa kita abaikan: anak-anak hari ini tumbuh dalam lingkungan sosial yang jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya. Albert Bandura (1977) pun menyatakan pada teori pembelajaran sosial bahwa anak belajar melalui observasi, imitasi, dan modeling dari lingkungan sekitarnya.
Bullying bukan lagi sekadar ejekan di halaman sekolah. Ia telah menjelma menjadi ancaman nyata yang bisa terjadi di mana saja seperti di kelas, rumah, bahkan di genggaman tangan melalui ponsel pintar. Lebih mengkhawatirkan, banyak anak belum menyadari bahwa tindakan sederhana seperti mengejek, mengucilkan, atau menyebarkan pesan negatif termasuk dalam bentuk kekerasan.
Dalam sesi interaksi, beberapa siswa mengaku pernah mengalami ejekan dari teman, bahkan ada yang mendapat perlakuan tidak menyenangkan di grup pesan. Namun, sebagian dari mereka memilih diam. Alasannya sederhana: tidak tahu harus bercerita kepada siapa, atau takut justru disalahkan. Di titik inilah kita perlu jujur: ada celah dalam sistem perlindungan anak yang selama ini kita bangun.
Sekolah memang telah mengajarkan nilai-nilai kebaikan. Namun, pendidikan karakter sering kali berhenti pada slogan dan hafalan. Padahal, membentuk karakter tidak cukup dengan teori. Anak perlu merasakan, mengalami, dan memahami langsung nilai empati, saling menghargai, dan cara menyelesaikan konflik secara sehat dengan diskusi kekeluargaan.
Pendekatan psikologis menjadi penting. Anak-anak perlu dikenalkan pada kemampuan mengenali emosi, marah, sedih, kecewa dan bagaimana mengekspresikannya tanpa melukai orang lain. Ketika empati tumbuh, keinginan untuk menyakiti akan berkurang dengan sendirinya.
Di sisi lain, kita tidak bisa menutup mata terhadap perkembangan teknologi. Dunia digital telah menjadi bagian dari kehidupan anak, bahkan sejak usia dini. Sayangnya, tidak semua anak dibekali literasi digital yang memadai sebagai dasar kuat untuk karakter yang kokoh.
Cyberbullying menjadi ancaman baru yang sering kali luput dari pengawasan orang dewasa. Tanpa tatap muka, pelaku merasa lebih berani, sementara korban merasa lebih terisolasi. Dampaknya tidak kalah serius bahkan bisa lebih dalam membekas pada individu karena terjadi secara terus-menerus dan sulit dihentikan. Urie Bronfenbrenner (1979) pun menyatakan teori ekologi perkembangan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh berbagai sistem lingkungan yang saling berkaitan.
Peran guru dan orang tua menjadi kunci. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menjadi figur yang mampu menciptakan ruang aman bagi siswa. Sementara orang tua harus hadir sebagai tempat pertama anak bercerita, bukan sekadar pemberi aturan.
Kadang kala, komunikasi antara anak dan orang dewasa sering kali masih bersifat satu arah. Anak diminta patuh, tetapi tidak selalu diberi ruang untuk didengar. Akibatnya, banyak masalah yang dipendam hingga akhirnya muncul dalam bentuk perilaku negatif.
Sekolah perlu bergerak lebih progresif. Pendidikan anti-bullying dan antikekerasan harus menjadi bagian dari budaya sekolah, bukan sekadar program sesaat namun berkelanjutan. Kegiatan pun dapat dilakukan seperti simulasi, diskusi terbuka, hingga layanan konseling perlu diperkuat.
Selain itu, mekanisme pelaporan yang ramah anak juga harus tersedia. Anak harus tahu ke mana harus mengadu, dan yang terpenting, merasa aman ketika melakukannya sehingga anak pun akan merasa bangga pada dirinya karena merasa diakui. Hal itu pun akan memotivasi anak menjadi lebih giat dalam berperilaku positif dalam kesehariannya.
Pengalaman di salah satu SD di Pangkalpinang menunjukkan bahwa anak-anak sebenarnya memiliki kesadaran awal tentang pentingnya saling menghargai. Mereka hanya membutuhkan pendampingan yang tepat agar nilai-nilai tersebut tumbuh kuat.
Inilah pekerjaan rumah kita bersama yakni melatih hingga terbentuknya karakter anak dengan giat sebab pembelajaran pada karakter itu bukanlah hal instan. Ia membutuhkan keteladanan, konsistensi, dan keterlibatan semua pihak – sekolah, keluarga, dan masyarakat. Jika kita ingin menyiapkan generasi masa depan yang tangguh, maka investasi terbaik adalah memastikan mereka tumbuh dalam lingkungan yang aman secara fisik dan sehat secara psikologis.
Bullying dan cyberbullying bukan sekadar masalah anak-anak. Ia adalah cermin dari bagaimana kita, sebagai orang dewasa, membangun budaya sosial di sekitar mereka. Jika hari ini kita abai, maka esok kita akan menuai dampaknya. Sebaliknya, jika hari ini kita bergerak bersama, maka kita sedang membangun benteng karakter yang akan melindungi generasi mendatang. “Melentur buluh biarlah dari rebungnya.” (*)