BANJARMASINPOST.CO.ID, AMUNTAI - Setelah adanya kejadian dugaan keracunan makanan 53 siswa di SMKN 1 Amuntai, saat ini pembagian Makanan Bergizi Gratis (MBG) dihentikan sementara.
Kepala SMKN 1 Amuntai Safrudin mengatakan, biasanya untuk setiap hari jumlah MBG yang dibagikan adalah 870 sesuai dengan jumlah siswa dari kelas X hingga kelas XII.
"Tadi pagi kami mendapat informasi digroup bersama dengan SPPG bahwa sementara MBG tidak dibagikan, hingga kapan masih belum mendapat informasi," ujarnya.
Pembagian MBG biasanya dilaksanakan sekitar jam 10.30 wita hinga 12.00 wita. Namun pihak sekolah juga menyediakan waktu untuk makan saat MBG selesai dibagikan.
Baca juga: Pasca Dugaan Keracunan Makanan, Pembagian MBG di SMKN 1 Amuntai Dihentikan Sementara
Baca juga: Puluhan Siswa SMKN 1 Amuntai Diduga Keracunan MBG, Kepala SPPG Antasari Ikuti Prosedur Evaluasi
Baca juga: Pasca 53 Siswa SMKN 1 Amuntai Keracunan MBG, Pemkab HSU Bakal Lakukan Koordinasi Dengan Seluruh SPPG
Baca juga: Puluhan Siswa SMKN 1 Amuntai HSU Keracunan MBG, BPOM Tabalong Ungkap Dugaan Penyebabnya
Baca juga: Kabar Terkini Puluhan Siswa SMKN 1 Amuntai Korban Keracunan MBG, Sudah Pulang ke Rumah
"Kami biasanya menggunakan pengeras suara untuk menginformasikan kepada siswa bahwa MBG dibagikan dan diberi waktu untuk makan," ujarnya.
Namun sebagian siswa ada yang memilih untuk makan pada jam istirahat yaitu pukul 12.15 wita.
Dengan adanya kejadian ini diharapkan SPPG bisa lebih memastikan makanan aman dikonsumsi oleh siswa.
"Sebagian siswa ada yang memang sangat menanti MBG untuk makan siang," ungkapnya.
Penghentian pembagian MBG ini karena saat ini SPPG Antasari masih mendapat evaluasi sehingga membutuhkan waktu hingga evaluasi selesai dilakukan dan dapat menyediakan makanan kembali untuk siswa
Dievaluasi
SPPG Antasari mendapat evalusi dari Badan Gizi Nasionusai (BGN) menyusul dugaan keracunan makanan yang terjadi pada puluhan siswa di SMKN 1 Amuntai setelah mengkonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) pada Kamis (23/4/2026).
Kepala SPPG Antasari Syifa Kamelia mengatakan, pihaknya turut merasakan kekhawatiran yang dirasakan oleh para orang tua, pihak sekolah, serta masyarakat HSU atas kejadian tersebut.
Syifa menambahkan sejak awal SPPG Antasari selalu berkomitmen menjalankan proses pengolahan, penyimpanan, hingga pendistribusian makanan sesuai standar kebersihan, keamanan pangan, dan prosedur yang berlaku.
"Kami tetap menghormati proses pemeriksaan dan evaluasi yang sedang dilakukan oleh pihak terkait untuk mengetahui secara pasti penyebab dari kejadian tersebut secara objektif dan menyeluruh," tambahnya, Jumat (24/4/20206).
SPPG Antasari percaya bahwa penanganan yang transparan, cepat, dan bertanggung jawab adalah langkah terbaik untuk menjaga kepercayaan masyarakat.
Pihaknya siap bekerjasama sepenuhnya dengan pihak sekolah, Dinas Kesehatan, BPOM, serta instansi terkait lainnya dalam proses evaluasi dan perbaikan ke depan.
Kejadian ini menjadi perhatian serius bagi pihak SPPG untuk semakin memperkuat sistem pengawasan internal, kualitas bahan baku, proses distribusi, serta pengendalian mutu agar pelayanan program MBG dapat berjalan lebih baik, aman, dan memberikan manfaat maksimal bagi para siswa.
Ia pun memohon doa, dukungan, serta pengertian dari seluruh masyarakat agar proses pemulihan berjalan dengan baik dan program pelayanan gizi bagi anak-anak tetap dapat terlaksana dengan lebih optimal ke depannya.
"Atas ketidaknyamanan, keresahan, dan kekhawatiran yang timbul, kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya," ujarnya.
Saat ini SPPG sudah mendapat pengecekan dari BPOM dan koordinator wilayah BGN Provinsi Kalsel didampingi Yayasan.
Sebelumnya dari pihak SPPG juga menyerahkan sampel untuk dilakukan pemeriksaan dan uji lab ke Loka POM Tabalong.
Sekda HSU Adi Lesmana yang juga sebagai Ketua Satgas MBG HSU mengatakan akan berkoordinasi dengan seluruh SPPG agar ada evaluasi dan bisa menjadi perhatian seluruh SPPG agar tidak ada kejafian serupa di HSU.
Sekda ke Rumah Sakit
Keracunan yang terjadi di SMKN 1 Amuntai mendapat perhatian dari Pemerintah Daerah Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Sekda HSU Adi Lesmana sebelumnya juga mengunjungi langsung siswa yang dirawat di rumah sakit.
Dari pemerintah daerah dalam waktu dekat akan melakukan koordinasi dengan seluruh SPPG yang ada di Kabupaten HSU, Kalimantan Selatan
Sebanyak 17 SPPG akan melakukan koordinasi agar hal ini tidak terulang kembali.
“Kami juga menggandeng Loka POM Tabalong untuk memberikan rekomendasi, salah satunya adalah tiap SPPG diminta untuk tidak menyediakan lebih dari 3000 porsi sehari, kami akan diskusikan ini,” ujar Adi Lesmana, Jumat (24/4/2026).
Adi Lesmana menambahkan pihak sekolah juga diminta berperan aktif pada makanan yang diberikan kepada siswa. “Perlu ada evaluasi setelah kejadian ini,” ungkapnya.
Tunggu Hasil Uji Lab
Saat ini pihak BPOM Tabalong sudah melakukan investigasi mencari penyebab keracunan massal yang dialami oleh 53 siswa di SMKN 1 Amuntai di Kabupaten HSU, Kalimantan Selatan
Kepala BPOM Tabalong Taufiqurrahman mengatakan pihaknya sudah meminta keterangan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pengambilan sampel dilakukan di dua titik yaitu di sisa makanan yang berada di SPPG dan dari kotak makan yang diterima siswa.
Taufiqurrahman menjelaskan melihat dari kasus keracunan dimana ada siswa yang sudah mulai gejala sakit perut satu jam setelah mengkonsumsi makanan, kemungkinan makanan mengandung bakteri patogen.
“Namun pastinya melihat dari hasil uji lab yang sudah kami ambil tadi malam dan saat ini masih proses inokulasi dan hasilnya bisa dilihat satu atau dua hari kedepan,” ujarnya.
Dari Loka POM Tabalong juga memberikan rekomendasi kepada SPPG agar hal ini tidak terjadi lagi. Pihaknya juga berkoordinasi dengan semua pihak baik dari koordinator SPPG beserta mitra.
Dipulangkan ke Rumah
Berikut kondisi terkini 53 siswa SMKN 1 Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan yang sempat mendapat perawatan akibat dugaan keracunan MBG pada Kamis (23/4/2026).
Kabar terkini para siswa yang sempat dirawat di rumah sakit akhirnya sudah bisa dipulangkan seluruhnya.
Setelah sebelumnya dari 53 siswa ada 25 orang yang mendapat perawatan infus, saat sore dipulangkan 6 orang tersisa 19 orang kemudian malam tersisa enam orang.
“Tadi malam masih ada satu siswa yang masih dirawat kemudian pagi ini kami cek kembali sudah dipulangkan seluruhnya, tidak ada yang mengalami masalah kesehatan serius,” ujar Kepala Loka POM Tabalong, Jumat (24/4/2026).
Seluruh siswa yang terdampak dari dugaan keracunan makanan sudah dalam masa pemulihan dan diharapkan sudah bisa melanjutkan aktivitas seperti biasa.
Diinformasikan siswa mendapat menu MBG sekitar pukul 11.00 Wita dan makan pada pukul 12.00 wita. Menu yang disajikan berupa mie ayam yaitu mie dengan lauk ayam terpisah lengkap dengan pangsit dan buah semangka.
Saat siswa mengeluhkan sakit perut pihak sekolah mendatangkan tenaga medis ke sekolah, dilakukan penanganan pertama namun karena gejala sakit perut, mual dan pusing siswa tidak mereda akhirnya mereka dilarikan ke Rumah Sakit Mulia Amuntai.
Bikin Geger
Sebanyak 53 siswa SMKN 1 Amuntai Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) dibawa ke Rumah Sakit Mulia, Kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), dengan dugaan keracunan makanan dari makanan pembagian makan bergizi gratis (MBG), Kamis (23/4/2026).
Keracunann kemungkinan berasal dari makanan tang dimakan siswa pada siang hari. Salah satu murid yang juga ikut diperiksa kesehatannya Zaenab mengatakan dirinya makan menu mie ayam sekitar pukul 11.00 wita.
Dan mulai merasa mual pada sore hari, menu yang dimakan diantaranya mie lengkap dengan ayamnya, pangsit dan semangka.
Orangtua murid dan juga pihak kepolisian juga tampaj hadir di rumah sakit.
Camat Amuntai Tengah Yudhi Rifani juga tampak di rumah sakit, memastikan dan memantau proses penanganan warga yang dirawat mendapat perawatan baik.
“Tadi ada 25 orang yang diinfus lalu enam orang sudah boleh pulang, tersida 19 orang dan berharap kondisi mereka membaik," ujarnya.
Dari keterangan siswa yang mendapat perawatan, dirinya bersama teman temannya makan menu mie ayam, pangsit dan buah semangka.
Baru merasa sakit perut dan mual sekitar jam 4 saat bersiap pulang.
Balai POM ke Lokasi
Adanya dugaan keracunan di SMKN 1 Amuntai Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) membuat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) langsung turun ke lokasi untuk melakukan inspeksi.
Kepala Loka POM Tabalong Taufiqurrahman mengatakan saat mendapat informasi adanya dugaan keracunan kami langsung datang ke rumah sakit Mulia.
“Saat ini kami sedang menuju ke SPPG Antasari untuk melakukan pengecekan langsung dan mengambil sampel, kami akan menginformasikan hasilnya nanti,” ujarnya, Kamis (23/4).
Taufiqqurrahman mengatakan anggota langsung datang ke lokasi untuk memastikan penyebab dari dugaan keracunan yang dialami oleh siswa.
Diketahui terdapat 53 siswa yang dilarikan ke rumah sakit akibat adanya keluhan mual. Seluruh siswa yang mual dibawa kerumah sakit mengaku mengkonsumsi menu dari MBG yang dibagikan sekitar pukul 11.30 Wita.
Zaenab salah satu siswa mengatakan mengkonsumsi menu MBG dan memang merasakan rasa yang berbeda. Setelah selesai makan baru diinformasikan bahwa makanan tersebut basi
Diberi Obat
Sebelum 53 siswa SMKN 1 Amuntai yang diduga mengalami keracunan dibawa ke Rumah Sakit Mulai di Kecamatan Amuntai Tengah, ada beberapa tenaga kesehatan yang datang ke sekolah.
Siswa sempat diberi obat dan ada juga yang diminta minum susu, namun karena sakit perut yang dialami siswa tidak berkurang akhirnya dibawa ke rumah sakit.
Anggota kepolisian juga tampak berada di lokasi keracunan massal MGB ini. Kapolsek Amuntai Tengah Iptu Sulistiono mengatakan dari anggota polsek memastikan pengobatan korban berjalan aman.
Saat ini dari Loka POM Tabalong juga sudah berada di lapangan dan melakukan inspeksi di SPPG Antasari tempat masaknya menu makanan yang disajikan melalui program MBG.
“Masih kami dalami dengan pengambilan sampel dan mengumpulkan informasi dari petugas SPPG,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).
Tips Mencegah Keracunan MBG pada Siswa:
Pencegahan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) menurut Kompas.com berfokus pada 5 kunci BPOM: seleksi bahan baku, pemisahan bahan segar, memasak hingga matang, penyimpanan suhu aman, dan kebersihan air/bahan.
Langkah krusial meliputi sertifikasi juru masak Kompas.com, pengecekan organoleptik (bau/warna/lendir) Kompas.id, dan penanganan pertama dengan hidrasi Kompas.com.
Berikut adalah tips detail berdasarkan laporan Kompas.com dan Kompas.id:
1. Keamanan di Dapur (SPPG)
Sertifikasi Juru Masak: Wajib bagi pengelola dapur untuk memastikan kepatuhan standar kebersihan Kompas.com.
Rapid Test: Melakukan tes cepat pada bahan makanan, terutama protein, sebelum dimasak Kompas.com.
Higienitas Dapur: Mencuci tangan dan peralatan dengan sabun sebelum/sesudah mengolah Kompas.com.
2. Pengawasan Kualitas Makanan (Pre-Serving)
Uji Coba (Sampling): Orang dewasa (guru/petugas) wajib mencicipi makanan sebelum dibagikan ke siswa Kompas.com.
Cek PancaIndera: Amati perubahan struktur (jadi lembek/menggumpal), bau (busuk/asam), dan warna Kompas.id.
Waktu Penyajian: Makanan harus segera dikonsumsi, maksimal 2 jam setelah matang.
3. Pertolongan Pertama
Cegah Dehidrasi: Berikan minum (air putih/oralit) sedikit demi sedikit tapi sering, terutama jika anak muntah/diare Kompas.com.
Istirahat: Posisikan anak beristirahat di tempat nyaman
Kenapa Keracunan MBG Terus Berulang:
Keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) terus berulang karena sistem tata kelola yang lemah, kurangnya pengawasan ketat, serta tingginya risiko cemaran bakteri.
Penyebab utamanya meliputi menu yang basi/berlendir akibat jarak waktu masak dan penyajian terlalu lama, bahan baku tidak segar, serta kurangnya pengalaman vendor dapur.
Berikut rincian penyebab keracunan MBG yang berulang:
Lemahnya Pengawasan & Standar Keamanan: Pengawasan dari hulu ke hilir belum optimal, seringkali pengawasan keamanan pangan hanya formalitas.
Risiko Mikroba dan Bahan Baku: Kasus sering terjadi karena infeksi bakteri (seperti Salmonella atau E. coli) pada makanan yang dikemas lama, makanan berbau, atau berlendir.
Permasalahan Dapur & Pemasok: Banyak dapur baru yang belum berpengalaman dalam menyediakan makanan jumlah besar dengan standar higienis. Pergantian pemasok bahan baku juga memicu ketidakkonsistenan kualitas.
Masalah Distribusi: Jeda waktu antara pengolahan makanan hingga disajikan ke siswa terlalu lama, menyebabkan makanan basi atau bakteri berkembang biak.
Konflik Kepentingan: Beberapa dapur dikelola oleh oknum yang seharusnya mengawasi, mengakibatkan pengawasan tidak objektif.
Pengamat dan pihak terkait menyoroti perlunya perbaikan sistem, peningkatan fungsi BPOM, dan pelibatan UMKM yang lebih berpengalaman dalam higienitas kuliner
(Banjarmasinpost.co.id/Reni Kurniawati/kompas.com)