AS Siapkan 5 Skenario Militer untuk Lumpuhkan Pertahanan Iran Jika Gencatan Senjata Gagal
Muhammad Hadi April 25, 2026 01:22 AM

AS Siapkan 5 Skenario Militer untuk Lumpuhkan Pertahanan Iran Jika Gencatan Senjata Gagal

SERAMBINEWS.COM - Militer Amerika Serikat dilaporkan tengah menyiapkan sejumlah skenario serangan untuk melumpuhkan kemampuan pertahanan Iran, khususnya di kawasan strategis Selat Hormuz, jika gencatan senjata yang saat ini berlangsung gagal dipertahankan.

Laporan CNN yang mengutip sejumlah sumber menyebutkan, terdapat sedikitnya lima opsi militer yang sedang dipertimbangkan. 

Fokus utama diarahkan pada target-target fleksibel yang berkaitan dengan kemampuan Iran dalam mengancam jalur pelayaran vital dunia tersebut.

Salah satu skenario mencakup serangan terhadap armada kapal kecil Iran, seperti kapal serang cepat dan kapal penebar ranjau, yang selama ini menjadi tulang punggung strategi perang asimetris Teheran. 

Selain itu, fasilitas militer di kawasan Teluk Arab bagian selatan dan Teluk Oman juga masuk dalam daftar target.

Opsi lain adalah kampanye pengeboman yang lebih terfokus di sekitar jalur perairan strategis, berbeda dengan serangan sebelumnya yang menjangkau wilayah lebih dalam di daratan Iran. 

Pendekatan ini dinilai sebagai upaya untuk membuka kembali akses pelayaran tanpa memperluas eskalasi konflik secara signifikan.

Namun demikian, laporan tersebut mengungkapkan bahwa sebagian besar sistem pertahanan pantai Iran, termasuk rudal dan peluncurnya, masih bertahan. 

Bahkan, Iran disebut memiliki ribuan drone serang serta armada kapal kecil yang dapat digunakan untuk mengganggu kapal-kapal yang melintas.

Skenario berikutnya mencakup kemungkinan serangan terhadap infrastruktur strategis yang memiliki fungsi ganda, termasuk fasilitas energi, guna menekan Iran kembali ke meja perundingan. 

Langkah ini dinilai kontroversial karena berpotensi memicu eskalasi konflik yang lebih luas.

Militer AS juga disebut mempertimbangkan penargetan terhadap tokoh militer kunci Iran, termasuk Panglima IRGC Ahmad Vahidi, yang dianggap sebagai bagian dari pihak yang menghambat proses negosiasi.

“Kemampuan militer Iran yang tersisa, termasuk rudal, peluncur, dan fasilitas produksi, sebagian besar tidak hancur dalam gelombang awal serangan udara AS-Israel atau telah dipindahkan ke lokasi strategis baru sejak gencatan senjata diberlakukan,” tambah sumber tersebut.

CNN sebelumnya mengutip laporan intelijen AS yang menunjukkan bahwa sekitar setengah dari peluncur rudal Iran dan ribuan drone serang satu arah selamat dari serangan pengeboman tersebut.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump dilaporkan masih berhati-hati dalam mengambil keputusan untuk melanjutkan operasi militer. 

Pemerintah AS disebut lebih mengedepankan jalur diplomasi, meskipun opsi militer tetap disiapkan sebagai langkah antisipatif.

“Untuk alasan keamanan operasional, kami tidak membahas rencana atau asumsi di masa mendatang,” kata seorang pejabat Departemen Pertahanan ketika ditanya tentang pemilihan target. 

“Militer AS terus memberikan pilihan kepada Presiden, dan semua pilihan masih dalam pertimbangan,” sambungnya.

Laporan CNN mengungkapkan bahwa Trump tampaknya berhati-hati dalam memulai kembali perang dengan Iran dan lebih memilih solusi diplomatik. 

Namun, beberapa sumber mengindikasikan bahwa perpanjangan gencatan senjata bukanlah "tanpa batas waktu" dan militer AS tetap siap untuk melanjutkan serangan jika diperlukan.

Namun, menurut banyak sumber, serangan udara di sekitar selat hormuz kemungkinan besar tidak akan langsung membuka kembali jalur air ini.

CNN mengutip sebuah sumber yang mengetahui rencana militer yang mengatakan: “Begitu Anda tidak dapat membuktikan secara pasti bahwa 100 persen kemampuan militer Iran telah dihancurkan,

atau bahwa AS hampir pasti dapat mengurangi risiko dengan kemampuannya sendiri, pada akhirnya akan bergantung pada seberapa besar risiko yang bersedia diambil (Trump) untuk memaksa kapal-kapal melewati selat tersebut.”

Menurut dua sumber yang mengetahui rencana awal, pemerintahan Trump meremehkan kesiapan Iran untuk memblokade selat tersebut sebelum melancarkan perang – sebuah langkah yang sebenarnya dapat dicegah jika AS telah mengerahkan pasukan militer ke wilayah tersebut lebih awal untuk tujuan pencegahan atau respons.

Kegagalan mencegah Iran menutup selat tersebut pada awal konflik telah menyebabkan kebuntuan saat ini antara kedua negara, dengan kapal tanker minyak sebagian besar ragu untuk melewati jalur tersebut karena takut diserang.

Angkatan Laut AS saat ini memiliki 19 kapal di Timur Tengah, termasuk dua kapal induk, dan tujuh kapal di Samudra Hindia, kata seorang pejabat AS pada Kamis (23/4/2026).

Militer AS mulai memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran pada 13 April 2026, mengerahkan sebagian besar pasukannya dan mengalihkan setidaknya 33 kapal hingga hari Kamis.

Pasukan AS juga telah memeriksa setidaknya tiga kapal, termasuk dua di Samudra Hindia, sekitar 2.000 mil dari Teluk Persia. 

Inspeksi terbaru berlangsung pada Rabu malam, ketika pasukan AS menaiki "kapal tanpa kewarganegaraan yang dikenai sanksi" yang membawa minyak dari Iran di Samudra Hindia, menurut Departemen Pertahanan AS.

(Serambinews.com/Agus Ramadhan)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.