Iran Berencana Serang Langsung Wilayah AS Pakai Rudal Antarbenua, Analis: Beijing Cerdas
Budi Sam Law Malau April 25, 2026 02:34 AM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA – Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki fase yang semakin mengkhawatirkan. 

Pakar Militer dan Pertahanan, Susaningtyas N Kertopati, mengungkapkan bahwa Iran memiliki kartu as yang mematikan jika perang terus berlanjut.

Kartu as itu adalah kemampuan untuk menyerang langsung wilayah atau daratan negara Amerika Serikat.

Baca juga: Kepung Iran, AS Siagakan 2 Kapal Induk dan 19 Kapal Perang di Timur Tengah, Berikut Daftarnya

Hal itu dikatakan Susaningtyas N Kertopati, yang akrab disapa Bu Nuning dalam acara Dialog Prime di Nusantara TV, Jumat (24/4/2026).

Menurut Nuning, Teheran tidak hanya menggertak soal rencana serangan langsung ke wilayah AS ini.

Sebab katanya Iran memiliki teknologi rudal balistik antarbenua (ICBM) dengan jangkauan sangat jauh yang mampu menjangkau sampai ke wilayah kedaulatan AS.

Iran Siapkan Serangan Langsung ke Jantung AS

Menurut Nuning, Iran saat ini sedang berada dalam tekanan internal yang hebat pasca-tewasnya Ali Khamenei dan cederanya Mojtaba Khamenei.

Kondisi ini, katanya justru bisa memicu respons militer yang ekstrem menggunakan rudal antarbenua.

"Perlu diketahui bahwa Iran disebut memiliki kemampuan menyerang langsung ke Amerika Serikat, termasuk kemungkinan penggunaan rudal balistik antarbenua. Ini bisa saja terjadi apabila Iran merasa sangat dirugikan," tegas Nuning.

Di dalam negeri Iran sendiri, kata Nuning terjadi tarik-menarik kepentingan yang cukup kuat.

Baca juga: Dikhianati Berkali-kali oleh AS, Iran Proyeksikan Gencatan Senjata Gagal

"Tidak semua rakyat Iran berpihak pada rezim saat ini. Ada juga kelompok yang masih mendukung figur lama seperti Reza Pahlavi di pengasingan. Menurut saya, hal-hal seperti ini harus menjadi bagian dari pemetaan strategi," ujarnya.

Sebab perang kali ini kata Nuning, tidak bisa hanya melihat perang dari sisi militer seperti misil atau drone saja.

"Perang saat ini sudah berkembang menjadi perang hibrida—melibatkan perang asimetrik, kognitif, informasi, hingga siber," katanya.

Langkah mempersenjatai Selat Hormuz yang sebelumnya hanya wilayah dagang, tambah Nuning, menjadi bukti nyata bahwa Iran telah menaikkan leverage militernya ke level tertinggi.

Strategi 'Pedagang' Donald Trump

Di sisi lain, Nuning menilai perubahan sikap Donald Trump yang dalam sekejap berubah dari perintah shoot and kill menjadi ajakan good deal, bukanlah sebuah kebingungan.

Sebagai mantan pebisnis, menurut Nuning, Trump sedang memainkan 'perang kognitif' untuk menghancurkan mental lawan.

"Trump tahu betul apa yang dia lakukan karena dia seorang pedagang. Segala hal bisa direkayasa melalui komunikasi. Ini adalah cara membuat pihak Iran dan proksinya mengubah rencana perlawanan," jelasnya.

Nuning meyakini bahwa di balik retorika panas di media, terdapat pembicaraan di "panggung belakang" yang melibatkan kekuatan besar seperti Rusia dan faksi-faksi Timur Tengah.

Cina Menang Banyak sebagai Mediator

Sementara AS dan Iran saling gertak, kata Nuning, Cina justru tampil sebagai pemain paling cerdik.

Nuning melihat Beijing sangat cerdas memposisikan diri sebagai mediator netral tanpa harus terseret dalam konflik terbuka.

"Cina mendorong gencatan senjata dan negosiasi. Mereka ingin membangun citra sebagai pembela multilateralisme. China memainkan langkah paling cerdik karena mampu memanfaatkan situasi tanpa harus terlibat langsung dalam konfrontasi fisik," tambahnya.

Nuning memperingatkan bahwa dunia saat ini sedang menyaksikan perang hibrida.

Bukan lagi sekadar adu misil dan drone, melainkan pertempuran geoekonomi, siber, dan persepsi publik yang akan menentukan siapa yang akan bertahan dalam enam bulan ke depan di tengah ancaman krisis energi global.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.