Pagi di Terasering Panyaweuyan Majalengka: Kabut, Ladang dan Realitas yang Tak Selalu Masuk Kamera
Mutiara Suci Erlanti April 25, 2026 11:11 AM

 

Laporan Adim Mubaroq 


TRIBUNCIREBON.COM, MAJALENGKA - Pagi baru saja merekah di lereng Argapura, Majalengka.

Langit di atas Terasering Panyaweuyan bergradasi jingga dan biru pucat, sementara kabut tipis menggantung di antara lekukan bukit.

 Dari kejauhan, garis-garis terasering terlihat seperti ukiran rapi di tubuh perbukitan, tenang dan nyaris sempurna. Namun, itu hanya separuh cerita.


Di balik lanskap yang kerap viral di media, aktivitas sudah lebih dulu dimulai sejak subuh. Petani berjalan menyusuri petakan sempit, memeriksa daun bawang, kol, hingga cabai yang ditanam berlapis mengikuti kontur tanah. 

Baca juga: Persib Ditahan Imbang Arema FC, Fitrah Maulana Tetap Optimis Timnya Kembali Juara


Estetika pagi dengan embun yang menempel di daun merupakan bagian dari siklus yang menentukan kualitas panen.


Berdasarkan data Pemerintah Majalengka, wilayah Kecamatan Argapura dikenal sebagai salah satu sentra hortikultura di daerah tersebut, dengan komoditas utama berupa sayuran dataran tinggi.

Pola tanam di kawasan ini bersifat cepat dan bergilir, rata-rata dalam hitungan minggu hingga beberapa bulan, sehingga kondisi visual lanskap berubah drastis dalam waktu singkat.


Itu sebabnya, pemandangan 'hijau sempurna' yang sering beredar sebenarnya hanyalah satu fase dari banyak kemungkinan wajah Panyaweuyan.

Dalam periode tertentu, warna lahan bisa berubah menjadi cokelat usai panen, atau belang akibat perbedaan jenis tanaman.


"Ini beres panen, jadi kalau ngejar pemandangan, memang belum maksimal. Tapi bagi kami, waktu panen adalah yang dinanti untuk menghidupi anak dan istri," kata salah satu petani, Ujang (42) di lokasi, Sabtu (25/4/2026). 

TERASERING PANYAWEUYAN - Terasering Panyaweuyan Majalengkaz
TERASERING PANYAWEUYAN - Terasering Panyaweuyan Majalengka


Dari titik pandang gardu yang menghadap lembah, papan bertuliskan 'Terasering Panyaweuyan' berdiri kontras di tengah lanskap.

Spot ini menjadi magnet utama wisatawan, terutama saat pagi hari. Mereka datang memburu momen matahari terbit, ketika cahaya lembut menyapu perbukitan dan menciptakan efek dramatis.


Panyaweuyan berada di kawasan dataran tinggi dengan ketinggian sekitar 400 hingga 1.000 meter di atas permukaan laut, bahkan di beberapa titik disebut bisa mencapai lebih tinggi.

 Kondisi ini membuat suhu relatif dingin dan kelembapan tinggi sehingga memicu terbentuknya kabut pagi, sekaligus mendukung pertumbuhan tanaman hortikultura.


"Udara pagi lebih sejuk, dan suasana denan pemandangan ini memang yang saya nikmati," kata salah satu wisatawan asal Jakarta, Bagas (38). 


Berbeda dengan anggapan umum, terasering di kawasan ini bukan sawah padi. Lahan didominasi tanaman seperti bawang daun, kol dan cabai yang ditanam mengikuti kontur lereng. Siklus tanamnya pun relatif cepat, berkisar 40 hingga 50 hari.

Baca juga: Healing Asyik di Terasering Panyaweuyan Majalengka, Pesonanya Juga Memikat Wisatawan Mancanegara

Secara topografi, lereng di Panyaweuyan memiliki kemiringan antara 25 hingga 40 persen. Kondisi ini membuat sistem terasering menjadi kebutuhan utama untuk menahan air dan mencegah erosi tanah. 


Struktur berundak tersebut tidak hanya membentuk pola visual yang menarik, tetapi juga berfungsi menjaga stabilitas lahan di wilayah perbukitan.


Jika tidak dikelola dengan baik, kerusakan pada satu bagian terasering berpotensi berdampak pada area di bawahnya, termasuk risiko longsor.

TERASERING PANYAWEUYAN - Terasering Panyaweuyan Majalengkade
TERASERING PANYAWEUYAN - Terasering Panyaweuyan Majalengka


Lanskap Indah di Lereng Curam


Panyaweuyan berada di Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

Letaknya sekitar 23 kilometer dari Alun-alun Majalengka dengan waktu tempuh kurang lebih 45–60 menit perjalanan. 


Akses menuju lokasi didominasi jalan sempit dengan tanjakan dan tikungan tajam, sehingga pengunjung disarankan menggunakan kendaraan dalam kondisi prima.


Di balik keindahannya, lereng Panyaweuyan memiliki kemiringan antara 25 hingga 40 persen. Karena itu, sistem terasering dibangun bukan hanya untuk mempercantik lanskap, melainkan untuk menahan air dan mencegah erosi di wilayah perbukitan.


“Ini bukan sekadar pemandangan. Kalau tidak pakai terasering, tanahnya bisa turun,” kata petani lainnya.


Wisata Viral, Tantangan Nyata


Menjadi destinasi wisata yang banyak dikunjungi ribuan perbulan, Panyaweuyan menjelma menjadi salah satu destinasi unggulan Majalengka.

Dengan tiket masuk yang terjangkau, kawasan ini ramai dikunjungi wisatawan, terutama saat pagi dan akhir pekan.


Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Majalengka, Rachmat Kartono menyebut, kondisi ini membawa peluang sekaligus tantangan.


Ia menegaskan, konsep yang dikembangkan adalah agrowisata, di mana aktivitas wisata harus berjalan seiring dengan keberlanjutan pertanian.


“Panyaweuyan ini lahan pertanian aktif, bukan objek wisata buatan. Kami terus mengingatkan agar pengunjung menjaga area tanam dan mengikuti jalur yang sudah disediakan,” ujarnya.


Tips dan Informasi Wisata


Bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Panyaweuyan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:


- Waktu terbaik: pagi hari (05.30–09.00 WIB) untuk mendapatkan kabut dan cahaya matahari

- sore (14.00-17.00. WIB) untuk melihat senja. 


Tiket: Rp 12.000 per orang


- Akses: kendaraan pribadi lebih disarankan karena angkutan umum terbatas


- Etika: tidak menginjak tanaman, tidak membuang sampah sembarangan


- Fasilitas: tersedia area parkir, warung pedagang, dan spot foto eksotis 


- Kondisi jalan: sempit dan menanjak, perlu kehati-hatian

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.