Respons Agresi Israel, Empat Kekuatan Muslim Godok Aliansi Pertahanan "NATO Versi Timur Tengah"
Rustam Aji April 25, 2026 02:29 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, ANKARA – Empat kekuatan besar dunia Muslim—Pakistan, Mesir, Turkiye, dan Arab Saudi—tengah menjajaki pembentukan aliansi pertahanan regional baru yang diproyeksikan memiliki struktur serupa NATO. 

Langkah strategis ini muncul sebagai respons kolektif terhadap meningkatnya agresi militer Israel serta ambisi ekspansionis "Israel Raya" yang kian mengancam stabilitas Timur Tengah.

Keseriusan pembentukan blok pertahanan ini ditandai dengan intensitas latihan militer gabungan pasukan khusus Mesir dan Pakistan yang tengah berlangsung.

Para analis menilai koordinasi kali ini jauh lebih mendalam dibandingkan latihan rutin sebelumnya, terutama pasca-serangan udara Israel ke Doha, Qatar, pada September 2025 lalu.

"Segera setelah serangan itu, negara-negara Arab menyadari bahwa mereka tidak akan pernah kebal dari serangan Israel. Peristiwa tersebut menghancurkan kepercayaan kawasan terhadap penjamin keamanan luar seperti Amerika Serikat," ujar Islam Mansi, analis politik independen asal Mesir, Kamis (23/4/2026).

Baca juga: Kisah Inspiratif Siti Nafiah: Kuliahkan Anak dan Wujudkan Impian Haji dari Sisa Laba Jualan Tempe

Titik Balik Geopolitik

Ketegangan regional mencapai puncaknya setelah serangan gabungan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu yang mengguncang ekonomi global.

Gangguan rantai pasokan dan lonjakan harga minyak dunia memberikan pukulan telak bagi negara-negara Teluk, yang kini merasa perlu menghitung ulang strategi keamanan tanpa bergantung sepenuhnya pada Washington.

Pertemuan para Menteri Luar Negeri di Antalya Diplomacy Forum, Turkiye, pada 17 April menjadi panggung penyelarasan visi ini. Menteri Luar Negeri Mesir, Badr Abdelatty, mengonfirmasi bahwa keempat negara sedang merancang pengaturan keamanan regional untuk masa pasca-perang.

"Aliansi ini dapat mengerem ambisi regional Israel. Secara kolektif, keempat negara ini memiliki bobot strategis yang masif," cetus analis politik Saudi, Omar Saif.

Kekuatan Masif dan Tantangan Diplomatik

 Jika terealisasi, koalisi ini akan menjadi kekuatan yang sangat diperhitungkan di kancah global. Secara kolektif, empat negara ini merepresentasikan:

  • Demografi: Gabungan populasi mencapai 500 juta jiwa.
  • Ekonomi: Total PDB mencapai 3,87 triliun dolar AS.
  • Militer: Gabungan kekuatan nuklir (Pakistan) dan kekuatan udara serta laut yang dominan di kawasan.
  • Baca juga: Saling Kunci di Selat Hormuz: Iran Balas Blokade AS dengan Penyitaan Kapal

Namun, jalan menuju "NATO Muslim" ini tidak tanpa hambatan. Sejarah keretakan diplomatik antara Ankara, Riyadh, dan Kairo yang baru saja pulih dalam beberapa tahun terakhir menjadi tantangan internal utama. Selain itu, ketergantungan militer Mesir dan Arab Saudi pada teknologi persenjataan AS tetap menjadi variabel kunci.

Meski demikian, analis Turkiye Firas Ridvan Oglu berpendapat bahwa Washington kemungkinan akan menoleransi kehadiran koalisi ini asalkan mampu berperan sebagai penyeimbang yang mencegah meletusnya perang regional yang lebih luas di masa depan. (danur/kpc)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.