Peringati Hari Kartini, PDI Perjuangan SBT Dorong Hilirisasi Sagu Lewat Lomba Gulung Pepeda
Fandi Wattimena April 25, 2026 02:52 PM

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Haliyudin Ulima 

BULA, TRIBUNAMBON.COM – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) menggelar lomba gulung pepeda dalam rangka memperingati Hari Kartini ke-147 yang jatuh setiap 21 April.

Kegiatan tersebut dipusatkan di Pujasera Pantai Wailola, Kota Bula, Sabtu (25/4/2026), dengan melibatkan kaum perempuan dari berbagai wilayah di SBT.

Ketua DPC PDI Perjuangan SBT, Abdul Aziz Yanlua, mengatakan lomba tersebut sengaja dipilih sebagai bagian dari upaya mendorong program pemerintah daerah, khususnya hilirisasi sagu.

“Memang kita sengaja memilih gulung pepeda ini supaya mendekatkan dengan kebijakan pemerintah daerah soal hilirisasi sagu,” ujarnya.

Ia menjelaskan, selama ini hilirisasi sagu masih berfokus pada pengolahan bahan baku menjadi pati. 

Baca juga: ‎Tingkatkan Minat Baca, Perpustakaan Keliling Sambangi Sejumlah Sekolah di Maluku Tengah

Baca juga: Gubernur Maluku Konsisten Dukung Hilirisasi Sagu di SBT: Kita Harus Berjuang Sampai Jadi

Padahal, potensi sagu dinilai jauh lebih besar jika dikembangkan menjadi berbagai produk pangan lokal siap konsumsi.

Menurutnya, masyarakat SBT sebenarnya telah memiliki banyak inovasi dalam pengolahan sagu, seperti sagu tumbuh, bagea, dan berbagai olahan lainnya yang bernilai ekonomis.

“Ini merupakan hasil kreativitas masyarakat yang ingin kita dorong agar bisa berkembang,” katanya.

Ia menilai, kegiatan lomba seperti ini juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat dalam memperkenalkan kembali pentingnya pangan lokal berbasis sagu.

Selain itu, momentum Hari Kartini dinilai tepat karena peran perempuan sangat dominan dalam pengolahan pangan lokal di daerah.

“Produktivitas ini didominasi oleh ibu-ibu, jadi kita angkat dalam bentuk lomba,” ujarnya.

Lebih lanjut, Aziz menegaskan bahwa hilirisasi sagu tidak boleh berhenti pada produksi bahan baku semata, tetapi harus dikembangkan hingga menghasilkan produk siap konsumsi yang mampu bersaing di tingkat nasional.

Pasalnya, selama ini sagu lebih banyak dipasarkan dalam bentuk pati, padahal nilai ekonominya akan jauh lebih tinggi jika diolah menjadi produk jadi.

Ia mencontohkan produk seperti sagu tumbuh dan bagea yang berpotensi menjadi oleh-oleh khas daerah.

“Kita tidak sekadar bawa minyak kayu putih atau dendeng, tapi juga produk UMKM berbasis sagu,” katanya.

Selain itu, pengembangan sagu juga dinilai berkaitan erat dengan ketahanan pangan nasional, terutama di tengah ancaman krisis pangan global.

Hal tersebut menjadi peluang besar bagi daerah seperti SBT yang memiliki potensi sagu cukup melimpah.

"Kalau terjadi krisis pangan, kita sudah punya alternatif dari sagu,” tandasnya.

Ia berharap pemerintah daerah dapat lebih serius dalam mengembangkan sektor ini, termasuk memberikan dukungan kepada pelaku usaha lokal.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.