Kotoran Sapi Jadi Solusi Energi, Warga Kaltim Bisa 'Pensiun' dari LPG
Samir Paturusi April 25, 2026 04:09 PM

TRIBUNKALTIM.CO,SAMARINDA - Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Timur terus mendorong penghematan energi melalui pemanfaatan biogas di tengah masyarakat.

Program yang memanfaatkan kotoran ternak sapi ini sudah mulai dirasakan manfaatnya oleh sejumlah kelompok tani di wilayah Kaltim yang kini bisa menghemat penggunaan gas LPG.

Analis Kebijakan Ahli Muda Dinas ESDM Kaltim, Sonny Widyagara menjelaskan, langkah ini merupakan bagian dari road map zero emission 2060 sesuai kesepakatan Paris Agreement.

Menurutnya, perlu stimulus khusus agar masyarakat lebih peka terhadap penghematan energi, salah satunya melalui bantuan instalasi biogas skala rumah tangga.

"Biogas skala rumah tangga itu bagi yang mempunyai sapi-sapi yang ada di rumahnya masing-masing, Itu kan bisa kita bantu untuk instalasi biogas untuk keperluan mereka substitusi LPG," ujarnya, Sabtu (25/4/2026).

Baca juga: Dinas ESDM Kaltim Buka Charging Gratis PLTS untuk Ojek Online di Samarinda

Sonny bilang, keberadaan instalasi biogas di satu lokasi biasanya memicu rasa penasaran warga di sekitar.

Banyak warga dari kampung tetangga yang mulai bertanya dan akhirnya tertarik mengajukan proposal bantuan. 

Dinas ESDM Kaltim pun, kata dia, berupaya memfasilitasi keinginan masyarakat tersebut dengan menyesuaikan kemampuan anggaran yang ada di daerah.

​Hingga saat ini, sebanyak 575 unit biogas sudah terbangun dan tersebar di hampir seluruh penjuru Kaltim. Sejak dimulai belasan tahun lalu, cakupan wilayahnya pun terus meluas.

"Kalau untuk biogas kita sudah hampir semua kabupaten ya, cuma mungkin mahulu yang kita belum kesana dari Kubar, Pasir, kemudian Penajam, Kukar, Kutim, semuanya pernah kita lakukan instalasi biogas mulai tahun 2011 kalau tidak salah," ungkapnya.

Dulu, lanjut Sonny, program ini sempat didanai melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) dari kementerian. 

Namun, sejak DAK tidak lagi tersedia pada 2017, Pemprov Kaltim tetap melanjutkan program secara mandiri melalui anggaran provinsi, termasuk bersinergi dengan program Pengembangan Desa Korporasi Ternak (PDKT) dari Dinas Peternakan.

Selain mendapatkan gas gratis untuk memasak, warga juga diuntungkan dengan hasil sampingan berupa pupuk organik yang punya nilai ekonomi

Meski begitu, tantangan di lapangan tetap ada, terutama saat pemilik sapi memutuskan menjual ternaknya sehingga pasokan limbah terhenti.

"Ada waktu-waktu tertentu yang sapinya dijual. Nah itu kadang-kadang jadi kendala juga. Cuman makanya kita terus monitoring setiap tahun kepada penerima-penerima tersebut," jelasnya.

Baca juga: Kepala ESDM Kaltim Tanggapi Penggeledahan oleh Kejati, Sebut Kasus Terjadi Sebelum Menjabat

Secara teknis, untuk skala rumah tangga minimal dibutuhkan dua ekor sapi dengan biaya pembangunan instalasi biogas sekitar Rp 27 juta hingga Rp 30 juta. 

Namun, ESDM Kaltim lebih banyak menyasar bantuan skala kelompok tani dengan biaya instalasi biogas sekitar Rp 90an juta yang mampu mengaliri kebutuhan gas hingga 10 rumah.

"Dengan ini (biogas) masyarakat bisa pensiun menggunakan gas LPG dan pupuknya juga bisa dimanfaatkan," pungkasnya.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.