Gelombang kekerasan kembali mengguncang Jalur Gaza.
Serangan skala besar dilaporkan terjadi dalam beberapa jam terakhir, menewaskan sedikitnya sembilan warga Palestina dan melukai sejumlah lainnya.
Mengutip The New Arab dan Palestine Chronicle pada (25/4), Israel dilaporkan tengah mempertimbangkan serangan besar baru ke Gaza meski gencatan senjata masih berlaku.
Sejak kesepakatan Oktober 2025, serangan tetap terjadi hampir setiap hari dan menewaskan ratusan warga.
Dengan meredanya konflik di Lebanon dan Iran, fokus militer disebut kembali ke Gaza, terutama di tengah klaim bahwa Hamas semakin kuat.
Faktor politik juga berperan, termasuk tekanan terhadap Benjamin Netanyahu menjelang pemilu 2026 dan kritik atas kegagalan meraih “kemenangan mutlak”.
Sejumlah pejabat dan militer Israel mendukung opsi ofensif baru, bahkan ada dorongan untuk pendudukan penuh Gaza.
Sementara itu, Hamas menolak melucuti senjata sebelum Israel sepenuhnya mundur, membuat potensi eskalasi kembali semakin besar di tengah krisis kemanusiaan yang sudah parah.
Sementara itu pada Jumat (24/4/2026), sedikitnya sembilan warga Palestina tewas.
Terutama, dalam serangkaian serangan Israel di Gaza yang menargetkan kendaraan polisi, patroli keamanan, dan rumah warga di beberapa wilayah.
Korban termasuk dua petugas polisi yang tewas akibat serangan drone di Kota Gaza.
Serta warga sipil, di antaranya seorang ibu dan anak yang tewas di Gaza utara.
Serangan juga terjadi di Khan Yunis, sementara penembakan terus berlangsung di sekitar fasilitas medis.
Laporan lokal menyebut penargetan terhadap aparat keamanan menjadi bagian dari pola serangan berulang.
Tepat, di tengah eskalasi kekerasan yang terus berlanjut di seluruh Jalur Gaza.