Iran Ancam Serang UEA dan Bahrain Jika AS Lancarkan Serangan Darat ke Teheran
Ansari Hasyim April 25, 2026 07:23 PM

 

SERAMBINEWS.COM - Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Iran melontarkan ancaman keras akan melancarkan invasi darat ke Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain jika Amerika Serikat nekat melakukan serangan darat ke wilayah Republik Islam tersebut.

Ancaman itu disampaikan media Fars News Agency, yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), di tengah eskalasi konflik yang terus meningkat antara Teheran dan Washington.

Konflik terbuka ini meletus setelah ofensif besar-besaran AS dan Israel pada 28 Februari lalu, yang memicu rangkaian serangan balasan Iran di kawasan Teluk.

Meski Donald Trump memperpanjang gencatan senjata, Washington tetap mempertahankan blokade ketat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, memicu kemarahan Teheran.

“Jika ada serangan darat terhadap Iran, maka Bahrain dan UEA adalah target balasan langsung, termasuk melalui operasi darat,” tulis Fars News Agency dalam pernyataannya.

Media tersebut menegaskan Iran tidak membutuhkan negosiasi untuk mengakhiri konfrontasi. “Cukup bagi musuh untuk memahami aturan main,” tulisnya.

Baca juga: Persenjataan AS Menipis, Biaya Perang Lawan Iran Tembus Rp 17 Triliun per Hari

Iran juga memperingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur vitalnya akan berujung pada kekacauan regional. “Fasilitas minyak dan energi di seluruh kawasan akan berada dalam risiko serius,” lanjut pernyataan itu.

Bahkan, Fars menyebut pembunuhan atau sabotase akan dibalas dengan respons yang “telah ditentukan secara resmi.”

Serangan balasan sudah terjadi

Ancaman itu bukan sekadar retorika. Dalam beberapa pekan terakhir, Iran dilaporkan telah melancarkan serangan ke sejumlah negara Teluk sebagai balasan atas operasi militer AS dan Israel.

Serangan ke Dubai sempat melumpuhkan aktivitas penerbangan dan membuat ribuan wisatawan terjebak di bandara internasional, menyusul penutupan ruang udara di sebagian besar Timur Tengah selama beberapa hari.

Situasi semakin genting setelah Iran merilis rekaman yang diklaim menunjukkan pasukan angkatan lautnya menyita kapal kargo di Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi nadi perdagangan energi global.

AS Sita Tanker, Iran Kuasai Kapal

Pada Kamis (waktu setempat), militer AS kembali meningkatkan tekanan dengan menyita kapal tanker minyak Majestic X di Samudra Hindia. Kapal berbendera Guyana itu diduga terlibat penyelundupan minyak Iran.

Departemen Pertahanan AS merilis video pasukan Amerika berada di geladak tanker tersebut. “Kami akan terus menegakkan hukum maritim global untuk memutus jaringan ilegal yang mendukung Iran, di mana pun mereka beroperasi,” tegas Pentagon.

Data pelacakan kapal menunjukkan Majestic X berada di perairan antara Sri Lanka dan Indonesia, dengan tujuan akhir Zhoushan, China. Kapal itu sebelumnya bernama Phonix dan telah dikenai sanksi Departemen Keuangan AS sejak 2024.

Penyitaan tersebut terjadi hanya sehari setelah Iran menyerang tiga kapal kargo di Selat Hormuz, menyita dua di antaranya. Jalur ini diketahui menjadi lintasan sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia di masa damai.

Hingga kini, Iran belum memberikan respons resmi atas penyitaan tanker oleh AS.

Dampak Global: Minyak Tembus USD 100 per Barel

Kebuntuan konflik AS–Iran kini berdampak luas. Arus ekspor energi melalui Selat Hormuz nyaris lumpuh total, memicu lonjakan harga energi global.

Harga minyak mentah Brent melonjak menembus USD 100 per barel, naik sekitar 35 persen dibandingkan level sebelum perang. Dampaknya mulai terasa pada harga bahan bakar, pangan, dan kebutuhan pokok di berbagai negara.

Meski demikian, pasar saham global sejauh ini tampak relatif tenang, seolah masih menunggu apakah konflik ini akan berubah menjadi perang regional terbuka atau justru menuju eskalasi yang lebih berbahaya.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.