Laporan Wartawan Serambi Indonesia Masrian Mizani I Aceh Barat Daya
SERAMBINEWS.COM, BLANGPIDIE - Pemerintah Kabupaten atau Pemkab Aceh Barat Daya (Abdya) berhasil mencetak dua rekor dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) pada pelaksanaan Meuseraya Toet Lemang, dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-24 kabupaten setempat.
Dua rekor MURI tersebut, berdasarkan hasil yang diumumkan oleh Costumer Relation MURI, Luhtfi Syah Pradana, yang mana Pemerintah Abdya berhasil mencetak prestasi dengan membakar lemang 15 ribu batang dan tape 34 ribu bungkus.
Kegiatan Meuseraya Toet Lemang tersebut dilaksanakan di bantaran sungai Krueng Beukah tepatnya di Gampong Lhung Asan dan Lhung Tarok, Kecamatan Blangpidie, Kabupaten Abdya, Sabtu (25/4/2026).
Bupati Abdya Safaruddin menyebutkan, perolehan rekor MURI ini memang menjadi sebuah kebanggaan bagi masyarakat Abdya. Sebab, upaya pemecahan rekor ini tentu memiliki makna tersendiri.
"Izinkan saya menyampaikan bahwa rekor ini akan menjadi pencapaian besar, namun bukanlah tujuan akhir. Rekor ini adalah pintu masuk.
Sebuah langkah awal agar Abdya semakin dikenal di tingkat nasional," ucap Safaruddin.
Baca juga: Keuchik di Abdya Yakin Program TMMD Ke-128 Berdampak Besar Bagi Petani
Pemerintah, sebut Safaruddin, ingin menjadikan momentum ini sebagai sarana untuk memperkenalkan potensi daerah, khususnya di sektor pariwisata kuliner.
"Hari ini, mungkin dunia mencatat Aceh Barat Daya karena lemangnya.
Tetapi ke depan, kita berharap dunia akan mengenal Abdya karena keramahannya, keindahan alamnya, kekayaan budayanya, dan kemajuan daerahnya," kata Safaruddin.
Ia menyebutkan, kegiatan yang dilaksanakan hari ini, tidak hanya menyaksikan belasan ribu batang lemang yang dibakar secara serentak.
Namun, yang disaksikan adalah sebuah simbol, filosofi yang telah lama hidup dalam tradisi masyarakat Abdya.
"Tradisi Toet Lemang bukan sekadar aktivitas kuliner, melainkan sarana untuk merawat kebersamaan, kesabaran, ketelatenan dan identitas budaya masyarakat Abdya," ucap Safaruddin.
Baca juga: Segini Harga Emas di Abdya 25 April 2026, Emas Murni dan London?
Ia menyebutkan, proses pembuatan lemang yang melibatkan kerja sama mencerminkan harmoni sosial, di mana perpaduan antara ketan dan santan melambangkan keseimbangan hidup.
Dengan demikian, lemang menjadi jembatan emosional yang menghubungkan nilai-nilai warisan leluhur dengan kehidupan masyarakat masa kini.
Menurutnya, untuk menghasilkan lemang yang sempurna, tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa.
Ia harus dipersiapkan dengan penuh kehati-hatian, mulai dari persiapan bambu sebagai wadah, daun pisang sebagai alas pembungkus, ketan, santan, garam yang kemudian diracik dan dimasukkan ke dalam bambu.
Kemudian dibakar perlahan dengan api yang dijaga kestabilannya.
"Proses ini mengajarkan kita bahwa hasil yang baik tidak pernah lahir dari proses yang instan. Ia membutuhkan waktu, kesungguhan, dan kerja sama," ucapnya.
"Begitu pula dengan pembangunan daerah.
Kabupaten Abdya ini tidak dibangun dalam satu malam. Ia tumbuh melalui proses panjang, melalui kerja keras, pengorbanan, serta kebersamaan seluruh elemen masyarakat," tambah Safaruddin.
Baca juga: Bupati Safaruddin: Abdya Peringkat Tujuh Daerah Paling Maju Tingkat Provinsi Aceh
Pada kegiatan ini, sebutnya, pemerintah membakar 15 ribu batang lemang ditambah tape 34 ribu bungkus. Tentu ini sebuah angka yang tidak mungkin tercapai jika semua pihak berjalan sendiri-sendiri.
"Tapi ini adalah bukti nyata bahwa masyarakat Abdya memiliki semangat gotong royong yang luar biasa. Dari pemerintah, masyarakat, pemuda, hingga pelaku usaha, semuanya bersatu dalam satu tujuan, yaitu memeriahkan hari jadi daerah ini dengan penuh kebanggaan," ujarnya.
Selain Lemang, kata Safaruddin, tape juga bukan sekadar pelengkap, tetapi bagian dari identitas kuliner Abdya—Lemang dan tape adalah pasangan yang tidak terpisahkan, sebagaimana kebersamaan yang menjadi ciri khas masyarakat Abdya.
Inisiatif Pemerintah Kabupaten Abdya menjadikan Meuseuraya Toet Lemang sebagai bagian dari perayaan HUT ke-24, kata Safaruddin, merupakan langkah strategis untuk memperkuat ikatan sosial dan identitas daerah.
Keterlibatan lintas sektoral, mulai dari pemerintahan gampong hingga instansi vertikal dan BUMN, ucapnya, menunjukkan bahwa tradisi ini telah menjadi milik bersama yang mampu menyatukan seluruh elemen masyarakat dalam harmoni di bantaran sungai Krueng Beukah, Blangpidie.
"Mari kita jadikan kebanggaan ini sebagai motivasi bersama. Bahwa Abdya memiliki daya tarik, memiliki potensi, dan memiliki masa depan yang cerah jika kita kelola dengan baik," pungkas Safaruddin. (*)