Jepang saat ini tengah menghadapi penurunan jumlah anak. Namun di tengah krisis demografi tersebut, jumlah siswa yang enggan bersekolah justru terus meningkat.
Fenomena ini kini terlihat jelas dalam keseharian di ruang kelas, salah satunya di Prefektur Miyagi. Dilansir The Japan Times dari laporan Kahoku Shimpo, rata-rata satu hingga dua siswa SD per kelas tidak hadir secara rutin. Sementara di tingkat SMP, jumlahnya meningkat menjadi dua hingga tiga siswa per kelas.
Lantas, apa yang membuat begitu banyak siswa enggan ke sekolah?
Beban Psikologis di Lingkungan Sekolah
Di lingkungan sekolah, sejumlah siswa dapat mengalami tekanan psikologis yang kerap tidak terpantau oleh orang tua dan guru. Perasaan tidak nyaman tersebut bisa berkembang seiring berjalannya waktu.
Di bawah ini laporan Kahoku Shimpo berdasarkan wawancara bersama anak-anak yang memilih berhenti sekolah. Semua nama anak disamarkan.
Perundungan dan Pelecehan
Kondisi ini dialami oleh Minato, seorang siswa SMP di Prefektur Miyagi, Jepang. la memutuskan untuk berhenti bersekolah pada pertengahan kelas dua setelah sempat dilarikan ke rumah sakit oleh ibunya.
Sebelumnya, Minato melakukan percobaan mengakhiri hidup di rumah. Tindakan tersebut dipicu oleh perundungan (bullying) dan pelecehan dari teman sekelasnya, yang telah berlangsung sejak ia berada di bangku kelas satu SMP.
Minato kerap menerima ucapan tidak menyenangkan dari teman-temannya. la pernah melaporkan situasi tersebut kepada wali kelas, tapi merasa gurunya tak merespons dengan cukup serius.
Minato awalnya tetap memaksakan diri hadir di sekolah lantaran ingat nilai presensi penting untuk ujian masuk SMA. Namun, ia merasa tidak lagi mampu bertahan.
Setelah dipulangkan dari rumah sakit, Minato memilih untuk tidak lagi kembali ke ruang kelas.
Survei Kementerian Pendidikan Jepang pada 2021 mencatat, pemicu utama keengganan siswa untuk bersekolah adalah kendala dengan teman sekelas, termasuk perundungan.
Lebih dari 25 persen siswa SD dan SMP mengkonfirmasi hal ini sebagai penyebab awal ingin berhenti sekolah.
Tekanan Sosial di Sekolah
Untuk menghindari perundungan dan pengucilan, sejumlah anak merasakan tekanan sosial untuk menyesuaikan diri. Salah satunya dialami Ria.
Ria, seorang siswi SMP di Sendai, selalu berupaya tampil ceria dan menerima ajakan berinteraksi dari teman-temannya. Namun, upaya untuk menjaga persona dan dinamika sosial tersebut baginya terasa sebagai beban psikologis yang besar.
Ia merasa harus sangat berhati-hati membalas rekan-rekannya. Ia juga merasa harus berpandai-pandai membaca suasana hati teman-teman dan gurunya. Akumulasi beban psikologis membuatnya kerap meluapkan emosi secara intens dan tantrum saat di rumah sejak kelas rendah SD (kelas 1-3). Ia juga merasakan kelelahan fisik dan mental.
Dari pertemuan bersama ibu dan wali kelasnya, Ria semula ditawarkan sang guru untuk dibantu belajar saat jam istirahat. Namun, sang guru juga menyarankan agar ia juga aktif bertanya pada teman.
Dari saran tersebut, Ria menyadari gurunya tidak benar-benar memahami masalah yang ia hadapi. Memasuki semester baru, Ria akhirnya memutuskan untuk tidak kembali bersekolah karena kelelahan mental.
Masalah Hubungan dengan Guru
Di sisi lain, survei terpisah pada 2023 oleh organisasi Tayona Manabi Project (projek pembelajaran berdiferensiasi) menunjukkan, sekitar 40 persen responden menyebutkan hubungan dengan guru sebagai alasan utama mereka enggan bersekolah.
Sebagian siswa merasa kurang cocok atau memiliki rasa takut terhadap pengajar mereka.
Situasi ini dialami oleh Maki, siswi kelas tiga SD di Miyagi. la kerap merasa cemas saat mendengar intonasi suara keras dari wali kelasnya, meskipun teguran tersebut sedang ditujukan kepada siswa lain.
Kecemasan Maki bertambah setelah sebuah kejadian di kelas seni. Saat ia ingin mewarnai gambarnya dengan warna merah muda, gurunya mengarahkan untuk menggunakan warna hijau tua.
Maki mengikuti arahan tersebut, tetapi pengalaman itu membuatnya semakin tidak nyaman dengan sang guru. Di akhir masa sekolahnya, ia lebih banyak menghabiskan jam pelajaran di UKS.
Pada akhirnya, Maki berhenti bersekolah dan kini memilih belajar di fasilitas pendidikan alternatif. Di sana, ia dapat berkreasi secara lebih bebas.
Kelas Tidak Cocok
Hasil survei projek pembelajaran berdiferensiasi Tayona Manabi Project 2023 juga menunjukkan, alasan utama kedua anak-anak memilih tidak masuk sekolah yaitu karena merasa tidak cocok dengan kelas (35,2 persen). Kelas tidak cocok ini baik karena pelajaran terasa membosankan atau justru anak merasa kesulitan dalam membaca dan menulis.
Siswa SD di Prefektur Miyagi, Minami, memilih tidak lanjut sekolah setelah libur musim panas kelas 1 SD. Meskipun akur dengan teman, senang belajar, tampak senang masuk sekolah, dan tidak bermasalah dengan guru, ia merasa bosan mempelajari materi yang terus diulang-ulang.
Minami sendiri pandai menuliskan huruf hiragana dan mengerjakan soal latihan matematika. Kebosanan di kelas membuat ia mulai tidak masuk sekolah sekitar 1 hari per minggu.
Kendati semula khawatir sang anak tidak sekolah formal, ibunya kemudian menghormati keputusan Minami. Selang 6 bulan berhenti sekolah, Minami menuturkan, belajar dengan ibunya lebih menyenangkan.





