BANGKAPOS.COM -- Beredar foto sejumlah bayi-bayi tanpa pakaian dengan kaki terikat tali.
Sontak, foto yang beredar tersebut yang viral di media sosial memicu keprihatinan publik.
Kasus ini menyeret sebuah daycare di wilayah Umbulharjo, yang kini tengah diselidiki aparat kepolisian atas dugaan kekerasan terhadap anak.
Salah satu keluarga korban akhirnya angkat bicara.
Baca juga: Inilah Dua Bos Timah dari Basel yang Asetnya Disita, 9 Tersangka Lain Tunggu Giliran, Kejari Bersiap
Dalam wawancara dengan Tribunnews pada Sabtu (25/4/2026), bibi dari salah satu bayi dalam foto tersebut membenarkan keponakannya menjadi korban dalam kasus yang ramai diperbincangkan itu.
Ia adalah yang membagikan foto bergambar bayi-bayi dalam posisi tidur, tak mengenakan baju, sementara kedua kakinya diikat tali.
“Iya kak. Keponakanku itu ada di dalam foto itu,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan laporan resmi telah diajukan ke pihak berwajib.
“Laporan sudah pada masuk semalem di polresta kak. Senin atauselasa perkembangan kasusnya diinfo lagi,” tambahnya.
Mengutip laporan Tribun Jogja, aparat dari Polresta Yogyakarta telah menggerebek daycare tersebut setelah menerima laporan dugaan kekerasan dari sejumlah orang tua.
Penggerebekan dilakukan untuk mengamankan barang bukti sekaligus memeriksa kondisi tempat penitipan anak yang sebelumnya dikenal memiliki citra baik di masyarakat.
Pihak kepolisian menyatakan masih melakukan pendalaman kasus dengan memeriksa pengelola serta pengasuh daycare.
Proses hukum kini berjalan untuk mengungkap dugaan pelanggaran yang terjadi.
Kasatreskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Riski Adrian membenarkan terkait penggerebakan tersebut.
“Iya benar, Satuan Reserse Polresta Jogja tadi sore baru saja melakukan menggerebekan sebuah tempat penitipan anak di daerah umbulharjo,” katanya, saat dikonfirmasi Jumat malam.
Baca juga: Kenal Kakak Korban, Oki Setiana Dewi Dapat Teror Usai Jadi Saksi Kunci Kasus Syekh Ahmad Al Misry
Riski mengatakan, diduga kuat beberapa oknum di dalamnya melakukan tindak pidana kekerasan terhadap anak.
“Diduga kuat memperlakukan anak secara diskriminatif atau menempatkan, membiarkan, melibatkan, menyuruh melibatkan anak dalam situasi perlakukan salah dan penelantaran atau kekerasan terhadap anak,” terang Riski.
Pada Sabtu pagi (25/4/2026), rombongan orang tua wali yang merasa terpukul mendatangi Mapolresta Yogyakarta untuk mengungkap fakta-fakta memilukan yang dialami anak mereka.
Noorman, salah satu orang tua yang menitipkan dua anaknya sejak 2022 hingga 2025, mengaku terhenyak saat menyadari pola luka yang dialami buah hatinya.
Ia mengungkapkan adanya indikasi perlakuan tidak manusiawi, mulai dari anak-anak yang diikat hingga dibiarkan tanpa busana.
“Ternyata perlakuan di daycare selama kami titipkan itu tidak manusiawi. Melihat dari bukti-bukti video yang kemarin kita lihat di TKP. Jadi dari video memang kita tidak terlalu jelas siapa anak-anak itu karena mungkin terbatas videonya,” katanya, saat ditemui di Polresta Yogyakarta.
Indikasi kekerasan ini semakin menguat karena adanya kesamaan luka antar-anak.
“Nah itu perlakuannya seperti itu yang saya alami. Kemudian ada beberapa luka di bagian badan, tapi kebetulan anak saya juga pernah mengalami luka tersebut. Dan luka tersebut ternyata sama dengan luka anak orangtua lain yang anaknya dititipkan di sana, jadi kita tahu bahwa ternyata lukanya sama,” ungkapnya.
Bahkan, Noorman mencurigai adanya upaya manipulasi dari pihak pengelola saat ia menemukan luka di punggung dan bibir anaknya.
“Jadi mereka bilang ini luka dari rumah ya, bun,” ucap Noorman menirukan dalih pihak daycare.
Baca juga: Gugur di Lebanon, Inilah Profil Praka Rico Pramudia Usai 4 Pekan Dirawat: Usia Berapa, Biodata Istri
Padahal, ia memastikan kondisi anaknya sehat saat dimandikan di rumah sebelum berangkat.
Tak hanya luka fisik, dampak kesehatan serius juga muncul. Selain biaya bulanan berkisar Rp900 ribu hingga di atas Rp1 juta, para orang tua justru harus menanggung biaya medis karena anak-anak mereka jatuh sakit secara beruntun.
“Nah ternyata yang kena pneumonia tidak hanya anak saya, tapi ternyata ada beberapa anak juga Pneumonia,” ungkap Noorman lesu.
Kisah pedih serupa disampaikan Choirunisa (34).
Ia baru menyadari kondisi sebenarnya saat menjemput anaknya pada Jumat sore dan melihat lokasi sudah dijaga pihak kepolisian.
Anaknya yang berusia 1,5 tahun kini mengalami penurunan berat badan dan sakit berkepanjangan.
“Dia pilek sampai sekarang belum sembuh. Terus batuk, biasanya nggak pernah batuk. Batuknya sampai mutah-mutah terus. Berat badannya juga dari hampir sembilan, jadi turun sampai delapan. Lukanya, ini ada fotonya. Ini semalam,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
Choirunisa juga menunjukkan bukti tangan anaknya yang melepuh, yang sebelumnya diklaim pihak daycare sebagai cacar air.
“Kayak gini (melepuh) ini pas hari Jumat juga, dua minggu lalu. Bilangnya kena cacar air atau gimana. Tapi kalau kena cacar air, itu cuma bagian tangan sini sampai ini saja. Itu tangan dua-duanya, seperti melepuh,” ujarnya.
Hal yang paling menyesakkan adalah trauma psikis yang terbawa ke rumah. Akibat sering dipaksa tidur di lantai tanpa alas di daycare, anak Choirunisa kini mengalami gangguan perilaku saat istirahat.
“Dia menangis minta tidur di bawah, kebiasan di daycare ternyata tidurnya di bawah,” terangnya.
Kasus ini sebelumnya terungkap setelah polisi melakukan penggrebekan ke lokasi daycare yang berada di Umbulharjo tersebut.
Polisi kemudian memasang garis polisi di lokasi daycare.
Saat ini dugaan adanya penganiayaan dan tindakan tidak manusiawi dari pegawai daycare masih dalam penyelidikan aparat kepolisian.
(Tribun Jogja/Miftahul Huda) (Tribunnews.com/Facundo Chrysnha Pradipha) (Bangkapos.com)