Ulang Tahun ke-13, Tribun Jateng dan Rimbaga Tanam 130 Bibit di Puncak Suroloyo Kabupaten Semarang
rival al manaf April 25, 2026 11:10 PM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG — Suasana pagi di lereng Gunung Ungaran diramaikan oleh puluhan karyawan Tribun Jateng yang telah bersiap dengan cangkul, sekop, dan seratusan bibit tanaman. 

Di ketinggian sekitar 850 mdpl, tepatnya di Dusun Ngaglik, Desa Nyatnyono, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, mereka menanam seratusan bibit tanaman berbagai jenis.

Kegiatan bertajuk Reboisasi Hutan Lindung tersebut digelar di kawasan Puncak Suroloyo, satu dari tiga puncak utama Gunung Ungaran selain Puncak Botak dan Puncak Banteng/Raiders. 

Bekerja sama dengan organisasi Rimbaga (Rimba Gunung Ungaran), para peserta menanam sedikitnya 130 bibit berbagai jenis tanaman, mulai dari jambu, matoa, alpukat, tabebuya, hingga balsa (jenis kayu ringan yang kerap dimanfaatkan untuk aeromodelling).

General Manager (GM) Bisnis Tribun Jateng, Heru Budi Kuncara, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan ulang tahun ke-13 Tribun Jateng yang jatuh pada 29 April 2026 mendatang.

“Teman-teman Tribun Jateng hari ini mengadakan reboisasi dengan menanam lebih dari 130 tanaman. 

Harapannya kita ikut berperan dalam menjaga kelestarian alam. 

Mudah-mudahan ke depan alam terjaga dengan baik dan manusia juga terlibat di dalamnya,” kata Heru seusai kegiatan.

Menurut dia, kegiatan ulang tahun kali ini sengaja difokuskan pada aksi nyata di alam terbuka, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang lebih banyak digelar di kawasan perkotaan.

“Kalau (peringatan ulang tahun) sebelumnya lebih ke kota, sekarang kita coba ke daerah dengan melestarikan alam yang sudah ada,” imbuh dia.

Dengan semangat “Salam Lestari”, Tribun Jateng bersama Rimbaga berupaya menunjukkan bahwa menjaga alam bukan hanya tanggung jawab segelintir pihak, melainkan gerakan bersama yang dimulai dari langkah menanam pohon.

Pulihkan Lahan Longsor, Cegah Konflik Satwa

Sementara itu, Ketua Rimbaga, Panca Budhiarto, menjelaskan bahwa lokasi penanaman itu mencakup area sekitar 1.200 meter persegi.

Sisa bibit yang belum ditanam akan dilanjutkan di titik-titik kritis lainnya hingga ketinggian sekitar 1.000 mdpl, termasuk di jalur setelah pos 1 pendakian.

Dia menekankan bahwa pemilihan jenis tanaman bukan tanpa alasan. 

Selain untuk penghijauan, tanaman buah seperti alpukat dan jambu juga berfungsi sebagai “buffer alami” bagi satwa liar, termasuk kera ekor panjang.

“Kalau pakan di atas sulit, satwa biasanya turun ke pemukiman. 

Dengan adanya tanaman buah di sini, itu bisa jadi barrier alami untuk mengantisipasi konflik dengan warga dan perkebunan mereka,” jelas Panca.

Sementara itu, tanaman keras seperti balsa dan tabebuya, lanjut Panca, berperan penting dalam menjaga struktur tanah.

“Fungsinya untuk mengikat tanah, menyimpan air, seperti spons untuk resapan. 

Ini penting apalagi kawasan ini sebelumnya sempat terdampak longsor,” lanjut dia.

Menariknya, hasil tanaman nantinya tidak dibatasi untuk kelompok tertentu. 

Baik warga, pendaki, maupun satwa liar dapat memanfaatkan buah yang tumbuh secara alami di kawasan tersebut.

Anggota tim Rimbaga, Kay, menyebut kegiatan itu sebagai langkah kecil dengan dampak besar bagi masa depan lingkungan, terutama di wilayah Semarang yang kerap dilanda banjir.

Dia lebih menyoroti dan menyayangkan adanya aksi pembalakan liar oleh orang-orang tidak bertanggung jawab yang menyebabkan resapan air berkurang.

“Akibatnya daerah bawah sering banjir. 

Reboisasi seperti ini penting banget, walaupun hasilnya tidak instan, tapi anak cucu kita nanti yang akan merasakan,” harap dia.

Kay juga menyoroti pentingnya menjaga ekosistem Gunung Ungaran dari ancaman perburuan liar dan kerusakan habitat.

“Dulu kami sering menemukan tanda-tanda perburuan, bahkan bulu burung langka. 

Dari situ muncul keresahan untuk menjaga kawasan ini,” katanya.

Tentang Lingkungan Alam Puncak Suroloyo

Tak hanya fokus pada penanaman, Rimbaga juga mengembangkan konsep edukasi berbasis konservasi melalui basecamp mereka di Nyatnyono. 

Satu di antara inovasinya adalah “rumah bibit”, tempat siapa saja bisa menyumbang atau mengambil bibit untuk ditanam saat mendaki.

“Ke depan kami ingin pendaki tidak hanya naik gunung, tapi juga ikut menanam. 

Jadi konsepnya mendaki sambil menanam pohon,” ujar Kai.

Jalur pendakian via Rimbaga sendiri dikenal relatif singkat namun menantang, dengan estimasi waktu sekitar 2,5 hingga 3,5 jam menuju Puncak Suroloyo. 

Sepanjang perjalanan, pendaki akan melewati perkebunan kopi warga hingga hutan lindung yang masih asri, dengan panorama Kota Semarang dan pesisir utara dari ketinggian.

Selain itu, kawasan ini juga memiliki nilai budaya dan spiritual, dengan keberadaan situs-situs seperti makam tokoh leluhur dan sumber mata air yang dijaga kelestariannya.

“Kami ingin lingkungan kami tetap lestari, penikmat alam seharusnya juga mencintai lingkungannya.

Harapannya tidak ada sampah lagi di sini, sampah sekecil apapun tetap harus dibuang ke tempat sampah yang dibawa oleh pengunjung,” pungkas Kay. (rez)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.