Laporan Wartawan Serambi Indonesia,Yarmen Dinamika I Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM - Pengurus Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Inggris SMA Kota Banda Aceh Periode 2026–2028 resmi dilantik dalam kegiatan serah terima jabatan yang berlangsung di Cafe Pondok Cahaya, kawasan Ulee Lheue, Banda Aceh, Sabtu (25/4/2026).
Pelantikan dilakukan oleh Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Aceh, Murthalamuddin SPd, MSP dan dihadiri oleh Pengawas Pembina, Samsul Bahri SPd, MEd.
Pelatikan ini sekaligus menandai berakhirnya masa jabatan pengurus sebelumnya yang telah mengemban amanah selama dua periode.
Adapun pengurus baru MGMP Bahasa Inggris SMA Kota Banda Aceh periode 2026–2028 dijabat oleh Kamarullah SPdI, MPd., Gr sebagai ketua menggantikan ketua lama, Jhonny SPdI; Rizki Nuzul Ridha SPd sebagai wakil ketua; Nurul Hikmah SPdI, MA sebagai sekretaris; dan Diyana Dewie Astutie SPd, MPd sebagai bendahara.
Baca juga: 87 Kepala Sekolah di Aceh Utara Teken Perjanjian Kinerja, Kadisdik Aceh Beri Apresiasi
Dalam sambutannya, Kadisdik Aceh mengangkat kisah tentang kebijaksanaan Rasulullah dalam mengambil ilmu, termasuk dari pihak luar.
Ia menyinggung peristiwa Perang Badar, di mana para tawanan perang diperbolehkan menebus diri dengan harta, atau dengan mengajarkan ilmu bagi yang tidak mampu.
“Dari kisah ini kita belajar bahwa mengambil ilmu, bahkan dari pihak luar, adalah hal yang penting. Guru bahasa Inggris harus mengambil sebanyak-banyaknya ilmu dari bangsa asing untuk memajukan Aceh,” ujar Murthalamuddin.
Kadisdik Aceh menekankan pentingnya peran strategis guru bahasa Inggris dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di era global.
"Bahasa Inggris tidak hanya kebutuhan akademik, tetapi juga pintu masuk untuk mengakses ilmu pengetahuan dan teknologi,” ujarnya.
Kadisdik mengajak para guru untuk mendorong budaya literasi melalui berbagai pendekatan kreatif, termasuk membiasakan diri dan para murid menulis cerita dalam bahasa Inggris, baik berupa kisah sejarah sederhana, cerita inspiratif, maupun pengalaman keseharian.
Baca juga: IGI Aceh Audiensi dengan Kadisdik, Minta Rekrutmen Kepsek Berbasis Kompetensi
Selain itu, Murthalamuddin menegaskan bahwa pembelajaran bahasa Inggris tidak seharusnya hanya berfokus pada tata bahasa belaka.
“Jangan terlalu fokus pada grammar, tapi ajaklah murid untuk berani berbicara. Conversation itu yang paling penting,” ujarnya.
Salah satu strategi yang dapat dilakukan guru, lanjut Murthala, adalah membentuk 'english club' di setiap sekolah.
“Harus ada 'english club' di semua sekolah. Di sana murid-murid bisa praktik langsung dan lebih percaya diri menggunakan bahasa Inggris,” tegasnya.
Kadisdik Aceh juga menyoroti masih banyaknya peluang beasiswa luar negeri yang belum dimanfaatkan secara optimal oleh siswa dan guru-guru di Aceh.
"Banyak beasiswa tersedia, terutama di bidang sains, ilmu terapan dan teknologi, tapi belum dimanfaatkan dengan baik,” ungkapnya.
Ia tambahkan, penguasaan bahasa Inggris akan sangat membantu murid dalam meraih peluang tersebut.
Di bidang literasi, ia mengajak guru untuk memperbarui koleksi buku di perpustakaan sekolah agar lebih menarik dan relevan untuk meningkatkan minat baca siswa.
Ia juga menekankan pentingnya membangun kemampuan berpikir kritis siswa melalui kebiasaan membaca dan menulis.
Selain aspek akademik, Murthalamuddin juga menekankan pentingnya membentuk karakter murid agar mandiri dan berani menghadapi tantangan global.
“Dorong anak-anak untuk berani keluar, belajar ke luar negeri, dan menjadi mandiri,” ujarnya.
Pemerintah Aceh sendiri, lanjutnya, telah berkomitmen untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan dengan membuka lebih banyak peluang studi ke luar negeri bagi peserta didik.
Di akhir sambutannya, Kadisdik Aceh berharap para guru bahasa Inggris di Aceh dapat menjadi agen perubahan dalam melahirkan generasi yang cerdas dan berdaya saing global.
“Semoga ini menjadi amal ibadah dan membawa manfaat bagi kemajuan negeri dan agama,” pungkasnya. (*)