Terlena Rayuan Biaya Murah Daycare Little Aresha Jogja, Penyesalan Orangtua dan Rintihan Anak-anak
Sinta Darmastri April 26, 2026 08:44 AM

 

Terlena Rayuan Biaya Murah dan Sikap Manis

Sejak 1,5 tahun lalu, Aldewa menitipkan anaknya yang kini berusia tiga tahun di tempat tersebut. Ia mengaku awalnya merasa tenang karena sambutan pihak yayasan yang tampak sangat profesional dan penuh kasih sayang.

Ketua yayasan berinisial D beserta para pengasuh lainnya berhasil membangun kepercayaan orang tua melalui sikap yang terlihat santun. "Begitu sopan, halus, dan lemah lembut," tambahnya mengenang masa-masa awal pendaftaran.

Baca juga: Peran Eks Karyawan Bongkar Ngerinya di Daycare Jogja: 103 Anak Jadi Korban, Kaki dan Tangan Diikat!

Laporan Harian Sempurna yang Mencurigakan

Setiap hari, Aldewa menerima laporan rutin yang isinya selalu indah, anak makan dengan lahap, tidur teratur, dan beraktivitas normal. Namun, naluri orang tua mulai terusik saat melihat fisik sang anak tak sejalan dengan laporan di atas kertas.

Meski bekal diklaim selalu habis, berat badan sang anak justru jalan di tempat selama tiga bulan terakhir. Kejanggalan ini mencapai puncaknya saat ia menemukan luka fisik pada tubuh anaknya.

"Sekira seminggu yang lalu, paha kiri anak saya lebam. Saya kira mungkin jatuh karena tidak ada laporan perihal itu dari pihak DC (daycare)," tuturnya.

Tangisan Pilu: "Please Ayah Mama, Adek Gak Mau Sekolah"

Trauma psikis rupanya lebih dulu berbicara. Sang anak kerap menunjukkan ketakutan hebat setiap kali akan diantar ke penitipan. Kalimat menyayat hati seperti, "Please ayah mama, adek gak mau sekolah," sering terucap sambil menangis histeris.

Sayangnya, saat itu Aldewa masih menganggap hal tersebut sebagai bentuk manja sang anak yang enggan berpisah dari orang tua.

Baca juga: Fakta Meita Irianty, Guru Daycare Terekam Siksa Balita, Padahal Profesi Influencer Parenting

Skala Kekerasan yang Mengejutkan

Kasus ini meledak setelah polisi melakukan penggerebekan pada Jumat (24/4/2026). Fakta yang ditemukan Satreskrim Polresta Yogyakarta sangat mencengangkan. Dari 103 anak yang terdaftar, lebih dari separuhnya diduga kuat menjadi korban kekerasan.

Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Rizki Adrian, mengungkapkan bahwa 53 anak terindikasi mengalami tindakan kekerasan, mayoritas adalah balita di bawah usia 2 tahun. Polisi kini telah mengamankan 30 orang, termasuk ketua yayasan dan 25 pengasuh, untuk pemeriksaan lebih lanjut secara maraton oleh Unit PPA.

Kini, ruangan sempit yang diduga menjadi saksi bisu penderitaan puluhan anak tersebut telah dipasangi garis polisi, menyisakan tanya besar bagi para orang tua yang selama ini hanya melihat "topeng" kebaikan dari balik layar ponsel.

(TribunStyle.com/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.