SURYA.co.id – Harapan publik untuk melihat penuntasan kasus penyiraman air keras terhadap aktivis HAM Andrie Yunus kini berubah menjadi gelombang kritik.
Pada 2026, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) secara terbuka menagih janji Prabowo Subianto yang sebelumnya berkomitmen membongkar dalang di balik serangan tersebut.
Saat, siapa, dan bagaimana kasus ini bergulir menjadi sorotan: serangan brutal terhadap aktivis HAM, janji politik untuk mengungkap aktor intelektual, hingga fakta bahwa proses hukum kini justru dinilai mandek.
Harapan yang dulu menjadi angin segar bagi demokrasi, kini dianggap sebatas retorika.
“Berarti Prabowo gagal meyakinkan atau menjalankan ucapannya sendiri. Prabowo gagal memenuhi ucapannya untuk membongkar siapa aktor pelaku dan bahkan bohirnya,” kata Muhamad Isnur kepada wartawan, Sabtu (25/4/2026), dikutip SURYA.co.id dari Tribunnews.
YLBHI menegaskan bahwa keadilan tidak boleh berhenti pada pelaku lapangan semata.
Kritik diarahkan pada lambatnya, bahkan stagnannya, pengungkapan aktor intelektual di balik kasus tersebut.
"Kami ini sudah berusaha secara maksimal. Kami sudah demo, kami sudah mendorong ke pemerintah, sudah datangi Setneg minta TGPF, sudah kemudian datang ke DPR Komisi III. Semua ruang yang mungkin kami lakukan sebagai masyarakat sipil sudah kami lakukan," tegasnya.
Menurut Isnur, seluruh jalur yang tersedia telah ditempuh, termasuk dorongan pembentukan tim independen hingga langkah hukum melalui Mahkamah Konstitusi.
Namun, hasilnya belum mampu menjawab tuntutan utama publik: siapa dalang di balik serangan tersebut.
Baca juga: Pesan Menohok Andrie Yunus untuk Pelaku Penyiraman Air Keras: Kalian Pengecut, Saya Takkan Kalah
Alih-alih menemukan titik terang, kasus ini justru dibawa ke peradilan militer, sebuah langkah yang menuai kritik karena dinilai berpotensi mengurangi transparansi.
"Apa lagi yang harus kami lakukan? Pertanggungjawabannya di Presiden, di DPR, mereka yang punya kewajiban," tutur Isnur.
"Tinggal negara yang memenuhi kewajibannya, Presiden, DPR, Panglima TNI, Kapolri, penuhi kewajibannya. Memberikan rasa keadilan buat masyarakat. Mengungkapkan agar tidak terjadi impunitas buat para pimpinannya," pungkasnya.
Di sisi lain, Prabowo Subianto sebelumnya telah menyatakan komitmennya untuk mengusut tuntas kasus ini, termasuk membuka kemungkinan pembentukan tim independen.
“Kita bisa pertimbangkan (pembentukan tim pencari fakta independen), asal independen ya, jangan semua LSM-LSM yang sudah apriori benci dengan pemerintah yang dapat uang dari luar negeri,” kata Prabowo, Kamis (19/3/2026).
Namun hingga kini, publik belum melihat langkah konkret yang mampu menjawab janji tersebut.
Mandeknya pengungkapan aktor intelektual dalam kasus Andrie Yunus tak hanya berdampak domestik, tetapi juga berpotensi memengaruhi citra Indonesia di mata dunia.
Kasus ini menjadi indikator penting dalam menilai komitmen negara terhadap penegakan hukum dan perlindungan HAM.
Ketidakmampuan mengungkap dalang utama bisa memperburuk persepsi global terhadap sistem hukum Indonesia, terutama dalam isu impunitas.
Lebih jauh, penuntasan kasus ini dipandang sebagai simbol apakah negara benar-benar hadir melindungi warga negaranya, atau justru gagal menjamin keadilan bagi korban pelanggaran HAM.
Kritik keras dari YLBHI menjadi alarm bahwa isu keadilan tidak akan padam selama aktor utama belum terungkap.
Kini, semua mata tertuju pada Prabowo Subianto. Apakah ia akan mengambil langkah luar biasa untuk menuntaskan kasus ini, atau membiarkannya terkubur sebagai janji politik yang tak pernah terwujud.
Kondisi Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus sudah mulai membaik dan bisa beraktivitas normal.
Hal itu disampaikan Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya dalam diskusi 'Militerisme, Kekerasan, dan Impunitas ' di Rumah Belajar ICW, Jakarta Selatan, Jumat (24/4/2026).
"Alhamdulillah kondisinya sudah berangsur membaik. Artinya Andrie sebagai manusia sudah beraktivitas dengan normal kembali," kata Dimas.
Andrie juga sudah menjalani beberapa kali terapi fisioterapi.
"Tapi yang jelas kondisi fisiknya berangsur membaik, berangsur seperti sedia kala," ujar Dimas.
Namun untuk mata kanan Andrie yang terkena air keras, Dimas masih belum punya informasi terbaru yang signifikan.
Sebab, sejak operasi keempat, tim RSCM menyatakan ada penetrasi dari cairan air keras yang melelehkan dinding bola matanya.
"Kemarin tim dokter juga berusaha meyakinkan akan melakukan kerja-kerja maksimal," tutur Dimas.
"Semaksimal mungkin tim dokter Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo agar supaya bentuk bola matanya itu bisa kembali utuh dan juga fungsi penglihatannya juga bisa kembali maksimal," pungkasnya.
Di satu sisi, hingga saat ini Andrie masih belum bisa dijenguk oleh khalayak banyak. Hanya terbatas pada keluarga dan rekan-rekan kerjanya di KontraS.