Harga LPG Non Subsidi Naik, UMKM Kerupuk Jangek di Bengkulu Tertekan
Hendrik Budiman April 26, 2026 02:54 PM

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Jiafni Rismawarni 

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Kenaikan harga LPG non subsidi turut berdampak pada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Bengkulu.

Salah satunya usaha Kerupuk Jangek Sinar Bintang yang kini harus menghadapi lonjakan biaya produksi di tengah penurunan daya beli masyarakat.

Owner Kerupuk Jangek Sinar Bintang, Amelia, mengatakan kenaikan harga gas memberi dampak signifikan terhadap operasional usahanya.

Biaya modal meningkat, sementara penjualan justru mengalami penurunan.

“Pasti lah ada dampaknya, semua kenaikan ini memberi banyak dampak negatif buat kami para UMKM ini. Salah satunya meningkatnya nilai modal, dan ada pengaruh terhadap penjualan, lumayan menurun,” ujar Amelia kepada TribunBengkulu.com, Minggu (26/4/2026).

Penjualan Ikut Menurun

Amelia menjelaskan, turunnya penjualan tidak terlepas dari kondisi ekonomi masyarakat yang ikut tertekan.

Menurutnya, konsumen yang membeli produknya tidak hanya masyarakat umum, tetapi juga pedagang lain yang bergantung pada perputaran usaha.

“Yang belanja ini kan bukan sekadar orang kerja, tapi juga banyak orang jualan. Kalau jualan mereka terdampak, pasti mereka juga mikir untuk belanja,” jelasnya.

Kondisi ini membuat omzet usaha ikut tergerus, meski produksi tetap berjalan untuk memenuhi permintaan pasar.

Strategi Bertahan Siasati Kenaikan LPG non subsidi 

Untuk menyiasati kenaikan biaya produksi, Amelia menerapkan dua strategi agar usaha tetap bertahan.

Pertama, mempertahankan harga dengan mengurangi isi produk.

Kedua, menjaga jumlah isi namun dengan menaikkan harga jual.

“Ada dua alternatif, tergantung keinginan pelanggan. Ada harga sama tapi isi berkurang, ada juga isi sama tapi harga naik,” katanya.

Tidak Bisa Gunakan LPG Subsidi

Di tengah kenaikan harga, Amelia mengaku tidak bisa beralih menggunakan LPG subsidi 3 kilogram.

Ia menilai penggunaan gas subsidi justru memengaruhi kualitas kerupuk jangek yang dihasilkan.

“Kalau jangek tidak bisa pakai LPG 3 kilo, karena berpengaruh ke hasil gorengan. Bisa bantat hasilnya,” ungkapnya.

Selain itu, proses produksi membutuhkan panas tinggi dalam waktu singkat.

Dalam satu kali penggorengan, usahanya menggunakan minyak hingga 10–12 liter dengan kuali berukuran besar.

“Selain lama panasnya, kami sekali goreng pakai minyak 10 sampai 12 liter,” tambahnya.

Dengan kondisi tersebut, ia berharap agar untuk pelaku UMKM ada kebijakan yang dapat menekan harga LPG non subsidi agar tidak semakin membebani biaya produksi dan menjaga keberlangsungan usaha.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.