TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR – Sejumlah pekerja tampak memasukan selang besar ke sejumlah lubang di Jalan Raya Sambahan, Kelurahan/Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali, Minggu 26 April 2026.
Mereka tengah bekerja membuat utilitas kabel provider, sebagai salah satu program Bupati Gianyar, I Made Mahayastra dalam menata kabel semrawut dengan sistem tanam.
Hal ini sudah sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat Ubud.
Sebab selama ini, kabel provider telah menimbulkan banyak hal negatif.
Baca juga: ASTAGA! Pekerja Tersengat Listrik Saat Pasang Reklame di Ubud, Alami Luka Bakar 65 Persen
Selain merusak estetika, juga kerap menghalangi aktivitas adat, seperti pemasangan Penjor hingga upacara Putra Yadnya.
Dalam proyek penanaman kabel ini, Pemkab Gianyar mendapatkan pembiayaan dari Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi.
Tokoh Ubud, Tjokorda Gde Asmara Putra Sukawati, yang juga Wakil Ketua DPRD Bangli itu mengapresiasi program kolaborasi antara Pemkab Gianyar dan Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi itu.
Cok Asmara menilai proyek ini sebagai langkah strategis dalam mempercantik kawasan pariwisata sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat.
Baca juga: Lansia Hilang di Ubud Gianyar Bali, Diduga Terjatuh Ke Jurang, Memiliki Riwayat Anemia
Menurutnya, kebijakan penanaman kabel telekomunikasi di bawah tanah menjadi solusi efektif untuk mengatasi kesemrawutan kabel udara yang selama ini mengganggu tampilan lingkungan.
Menurutnya, selain menghadirkan kesan lebih rapi dan tertata, langkah ini juga meningkatkan kenyamanan, terutama di wilayah wisata yang menjadi andalan Bali.
“Kami melihat ini sebagai komitmen nyata pemerintah daerah dalam memenuhi harapan masyarakat. Tidak hanya untuk Gianyar, ke depan diharapkan bisa diterapkan lebih luas di Bali,” ujarnya.
Baca juga: Jadi Ikon Pariwisata, Trotoar di Ubud Banyak Rusak, Kapan Akan Dibenahi?
Ia menjelaskan, keberadaan kabel udara selama ini tidak hanya berdampak pada estetika, tetapi juga kerap menghambat aktivitas adat dan keagamaan.
Dengan sistem bawah tanah, pelaksanaan kegiatan budaya dapat berlangsung lebih lancar tanpa kendala teknis.
Salah satu contoh yang disorot adalah prosesi Ngaben. Dalam upacara tersebut, penggunaan bade berukuran tinggi seringkali terganggu kabel yang melintang di jalan.
Kondisi ini tak jarang menyebabkan kerusakan sarana upacara serta menambah beban biaya bagi masyarakat.
“Dengan kabel yang kini ditanam di bawah tanah, prosesi adat bisa berjalan lebih leluasa tanpa harus khawatir tersangkut kabel. Ini tentu sangat membantu masyarakat,” jelasnya.
Dari sisi pariwisata, kata dia, penataan ini juga membawa dampak positif terhadap citra Bali sebagai destinasi dunia.
Wisatawan dapat menikmati arsitektur khas Bali, tanpa harus terhalang kabel.
Pihaknya berharap sinergi antara pemerintah daerah dan pihak terkait dapat terus diperkuat, sehingga program penataan infrastruktur serupa dapat diperluas ke berbagai wilayah lain.
"Langkah ini penting untuk menciptakan lingkungan yang nyaman, indah, serta tetap selaras dengan nilai-nilai budaya lokal," tegasnya. (*)