Penipu Berlian yang Bikin Pusing Interpol, Korbannya Kebanyakan Yahudi Ortodoks
Moh. Habib Asyhad April 26, 2026 04:34 PM

[Cerita Kriminal] Sepasang penipu berlian yang bikin repot interpol sampai melibatkan FBI. Mangsanya para saudagar berlian Yahudi.

Pernah tayang di rubrik Perkara Kriminal Majalah Intisari edisi Juli 1985 dengan judul "Seorang Korbannya Maharaja dari India"

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Dari jendela kantornya Marcel Sicot memandang ke langit kelabu yang memayungi kota Paris. Cuaca sedang sesuram hatinya. Sudah hampir setahun ia memangku jabatan sebagai sekretaris jenderal Interpol, namun yang mengesankan cuma nama jabatannya itu saja, selebihnya serba morat-marit.

Kantornya sempit dan penyekat-penyekatnya dibuat dari karton. Setiap ada orang bersin agak keras, ia khawatir semua dinding penyekat itu ambruk.

Sebelum memangku jabatan baru ini Sicot adalah direktur dan inspektur jenderal Surete Nationale, yaitu Kepolisian Nasional Prancis. Kadang-kadang Sicot berpikir, apakah ia tidak salah pilih ketika meninggalkan Surete untuk memegang jabatan baru ini?

Kantornya terletak dalam gedung darurat, yang dibangun terburu-buru setelah perang selesai. Letaknya di Porte Maillot, jauh dari pusat kota.

Di kantor yang disediakan oleh Kementerian Dalam Negeri itu ia hanya mempunyai tiga lemari arsip. Mana mungkin dia bisa membentuk sistem arsip di tempat itu? Padahal ia memiliki sekitar sepuluh ribu perangkat sidik jari.

Anggaran yang diperolehnya pun kecil. Bagaimana Interpol akan dianggap serius, kalau pesan-pesan mereka ke 35 negara anggota cuma dikirim dengan pos biasa?

Pikiran-pikiran semacam itu terus mengganggu Sicot, karena ia bukan polisi yang biasa-biasa saja. Ia memiliki visi dan ia sangat cerdas.

Penipunya sama terus

Pagi ini ia merasa risau, karena mengingat serangkaian kejahatan internasional yang seharusnya ditangani oleh Interpol. Ketika itu terjadi penipuan permata di pelbagai negara dan setiap kali penipu yang mempunyai kecekatan tangan seperti ahh sulap itu lenyap tanpa bisa diketahui ke mana perginya.

Cara penipu mendekati pedagang permata memberi kesan ia paham betul seluk-beluk bidang benda berharga itu.

Laporan yang tertera pada kartu-kartu indeks Interpol hanya singkat saja. Laporan pertama datang dari Zurich.

Kejahatan itu dilakukan bulan Oktober 1947, jadi sudah lima tahun yang lalu. Di situ dijelaskan bahwa seseorang yang mengaku bernama Wyeber berhasil menukarkan permata asli dengan permata palsu, sehingga seorang pedagang permata dirugikan.

Dari laporan-laporan berikutnya, diperoleh gambaran yang sama mengenai rupa penipu. Ia berumur kira-kira 35 tahun, bertubuh pendek tetapi kekar.

Rambutnya yang coklat itu berombak dan kumisnya terpelihara baik. Ia mengenakan kacamata.

Tingkah lakunya menunjukkan ia bukan orang sembarangan dan ia juga terpelajar. Ia bisa berbahasa Spanyol, Hongaria, Ibrani, Rusia, Jerman dan Yiddish. Cirinya yang lain ialah: ia sangat pandai menarik hati orang lain.

Korban mula-mula tertarik pada si penipu berpakaian rapi itu, karena sikapnya yang tidak tercela dan keterpelajarannya. Pokoknya ia memberi kesan seorang manusia yang sama sekali tidak perlu dicurigai.

Kemudian ia akan lenyap dengan membawa serta sekantung permata milik korban. Mungkinkah penipuan-penipuan yang polanya mirip itu dilakukan oleh satu orang saja?

Marcel Sicot merenung. Tiba-tiba ia menegakkan kepala dan mengetuk penyekat tipis di belakang tempat duduknya.

Sesaat kemudian muncul sekretarisnya yang tampak kelelahan, karena harus mengerjakan pekerjaan yang mestinya dilaksanakan oleh beberapa sekretaris.

"Saya ingin meminjam tiga tenaga yang cakap dari Surete Nationale untuk menangkap penipu," katanya. Sicot pun mendiktekan surat yang isinya bertujuan meyakinkan polisi akan pentingnya permintaannya itu.

Suratnya itu tidak bertele-tele, namun fakta-fakta dikemukakan secara cermat.

Seperti tukang sulap

Beberapa hari kemudian muncul tiga detektif yang diminta: Raymond Brigandat, Roger Haffa, dan Maurice Renault. Mereka harus berdesak-desakan dalam kantor Sicot, karena tempat itu sempit.

Sicot segera memberi keterangan yang diketahuinya mengenai si penipu.

“Ia sangat profesional," katanya. "Untuk mengerti bagaimana ia beraksi, kalian harus mengerti cara kerja pasaran intan internasional."

Kata Sicot, pasaran intan dikuasai oleh orang Yahudi ortodoks. Hanya dengan menjadi bagian dari mereka, si penipu bisa berhasil mengakali korbannya.

Di pasaran itu tidak ada kontrak-kontrak berdasarkan hukum ataupun tanda terima. Semuanya dilaksanakan atas dasar kepercayaan.

"Intan berlainan dengan emas. Ia tidak mempunyai harga yang pasti. Setiap calon pembeli bisa mempunyai penilaian yang berbeda tentang sebutir intan. Jadi harganya tergantung dari selera si pembeli."

"Selain itu bisnis intan merupakan dunia yang penuh rahasia. Jual-beli dirahasiakan dari petugas pajak dan polisi. Biasanya pembelian dilakukan dengan uang kontan atau tukar tambah. Penjual maupun pembeli harus mengandalkan naluri dan intuisinya, supaya jangan tertipu."

"Bisa diduga bahwa penipuan-penipuan di dunia perdagangan intan jarang dilaporkan kepada yang berwajib. Kejahatan yang akan kita usut ini biasanya dilaksanakan setelah batu-batu permata diperiksa dan tercapai kesepakatan harga. Menurut kebiasaan, batu-batu yang akan dijual itu ditaruh di atas dua lapis kertas intan. Kertas itu dilipat dengan cara yang khas beberapa kali dan pada sebuah ujungnya dituliskan jumlah karat dari batu itu. Bungkusan itu dimasukkan ke sebuah sampul yang kemudian dilipat. Harga yang sudah disetujui ditulis di sampul itu. Kedua pihak, yaitu pembeli dan penjual, menaruh inisialnya di sampul dan sampul itu pun disegel dengan lilin."

"Penipu yang ingin kita tangkap itu ternyata pandai menukarkan batu yang asli dengan batu yang palsu di depan hidung pemilik batu asli. Ia sudah berbekal sampul yang sama dengan yang asli. Sampul itu juga sudah ditandatangani dan disegel dengan lilin. Kalau ia bertindak sebagai penjual, amplop yang dibekalnya itu berisi permata palsu. Kalau ia bertindak sebagai pembeli, amplop itu isinya uang-uangan."

Sampul itu ditukarnya dengan yang ada di meja. Jadi ia membeli intan asli dengan uang palsu dan mendapat uang asli untuk intan palsu.

"Menurut perjanjian, sampul itu baru boleh dibuka kalau penjual dan pembeli bertemu kembali, umpamanya keesokan harinya. Si penipu bisa saja memberi alasan bahwa ia masih memiliki intan lagi atau uang di rumah untuk ditambahkan dan benda itu akan ia bawa keesokan harinya. Kalau keesokan harinya ia tidak muncul, barulah korban curiga dan bergegas membuka amplop. Saat itulah biasanya mereka baru insaf bahwa mereka ditipu," demikian keterangan Sicot.

Satu set sidik jari di kaca

Ia juga menjelaskan bahwa menurut perkiraannya, penipuan itu dilakukan oleh satu orang, karena Interpol menerima keterangan yang sama terus mengenai si pelaku dari para korban di pelbagai tempat. Penipu itu ahli Talmud, bahasa Ibraninya baik sekali dan murni, ia ahli intan, dan biasanya berkenalan dengan korban di sinagoga.

Rasanya tidak mungkin ada sejumlah orang yang mempunyai gambaran yang sama dengan gambaran itu. Sicot juga menambahkan kepada para detektif itu bahwa mereka harus bepergian jauh untuk melacak si penipu.

Minggu berikutnya Renault pergi ke London, Zurich dan Wina untuk meneliti lebih saksama dokumen-dokumen polisi mengenai peristiwa itu. Brigandat dan Haffa melakukan penyelidikan di gang-gang kecil di Montmartre, Paris, tempat bisnis intan dilakukan.

Pada saat Marcel Sicot menerima laporan tebal dari tiga detektif itu, ia juga sudah mendapat kabar perihal beberapa pencurian intan yang dilakukan secara nekat di pelbagai bagian dunia. Dengan cermat dibacanya laporan para detektif untuk lebih memahami lagi dunia perdagangan intan dan cara penipu menjelaskan kejahatannya.

Sayangnya, tidak ada satu sidik jari si penipu pun yang tiba ke tempatnya.

Sicot merasa hatinya bergejolak, ketika bulan Juli 1952 Detektif Haffa melaporkan satu kasus penipuan intan lagi. "Caranya sama dan dilakukan oleh dua orang," lapor Haffa.

Penipuan itu dilakukan di Meksiko dan salah seorang dari penipu itu meninggalkan satu set sidik jari!

Haffa bercerita kepada Sicot:

"Dua orang pria masuk ke toko permata di kota kecil Baja California. Mereka ingin membeli sejumlah permata. Seorang di antaranya mengaku bernama Fabian Blas-Chande y Rossano. Sebelum pergi ia meninggalkan seperangkat sidik jari di kaca meja tempat ia dilayani. Ketika kemudian ternyata mereka menipu, polisi yang menyelidiki peristiwa itu mengambil sidik jari tersebut."

Haffa membawa contoh sidik jari itu dan anak buah Sicot pun repot mengakurkannya dengan sidik jari yang ada dalam arsip mereka. Karena pada masa itu belum dipakai peralatan secanggih sekarang, baru beberapa jam kemudian mereka menemukan sidik jari yang cocok. Ternyata sidik jari itu sama dengan yang dimiliki seseorang bernama Hersz Chazan.

Sicot lantas memanggil tiga orang detektif andalannya dan bersama-sama mereka memeriksa berkas tentang Chazan. Ternyata pria itu pertama kali tercatat melakukan kejahatan tahun 1949.

Di Lisboa, Portugal, ia menipu seorang pemilik toko permata dan membawa kabur intan seharga 20.000 dolar. Diketahui pula ia beberapa kali melakukan kejahatan dengan nama Chande.

Ia baru tertangkap tahun itu di Israel, di bawah nama Pedro Cambo. Untuk kejahatan melakukan penipuan kecil di Israel itu ia mendapat hukuman ringan, namun sidik jarinya dan fotonya dikirimkan ke Interpol.

Dari keterangan itu diketahui bahwa Cambo itu sama dengan Chande dan nama aslinya Chazan. Sejak waktu itu tidak ada lagi laporan kejahatan yang dibuatnya.

Apakah ia berhenti berbuat kejahatan selama itu ataukah kejahatannya luput dari berkas Interpol? Apakah ia orang yang dicari oleh Sicot ataukah ia cuma sekadar membantu?

Orang sekampung

Ternyata penipuan yang dijalankan oleh dua orang yang berpasangan itu makin sering terjadi. Paling sedikit satu penipuan besar mereka lakukan setiap bulan dan mereka selalu lolos.

September 1952 dua pria yang mirip dengan gambaran Chazan dan temannya melarikan permata senilai 2.000 dolar dari sebuah toko di Jenewa. Setelah membaca detail tentang mereka, Sicot yakin bahwa teman Chazan yang mengaku sebagai Goldberg itu tidak lain dari orang yang ia cari.

Menurut laporan, seorang penjual permata bernama Moshe Gross pergi bersembahyang ke sinagoga pada suatu sore. Tahu-tahu ia didekati seorang asing yang menyatakan baru datang ke tempat itu. Orang itu mengaku bernama Goldberg, berasal dari Khust di daerah yang sekarang merupakan bagian dari Ukraina.

Mereka ternyata mengenal beberapa orang yang sama dari Khust, sehingga asyik-lah keduanya mengingat-ingat masa lalu. Gross begitu terpesona oleh Goldberg, sehingga ketika mengetahui orang asing itu tidak mempunyai kenalan di Jenewa, ia dengan tulus mengajak Goldberg makan malam di rumahnya.

Sesudah menikmati makanan lezat yang dimasak oleh istri Gross, keduanya mengobrol lagi. Ternyata Goldberg itu tahu betul hukum Yahudi, sehingga Gross lebih terpukau lagi. Gross kemudian berkata bahwa ia menjual arloji dan kain halus buatan Swis.

Ia memperlihatkan beberapa contoh dan berdua mereka mengaguminya. Kata Goldberg, temannya, Horowitz, yang akan tiba di jenewa keesokan harinya, mungkin mau membeli barang dagangan Gross. Kalau Gross tidak keberatan, ia akan membawa Horowitz ke tempat Gross. Tentu saja Gross mau.

Setelah mengobrol lagi, Goldberg menyatakan ia membawa sejumlah besar dolar Amerika. Uang itu pernah hilang, tetapi berhasil kembali utuh, padahal ia sudah tidak berani mengharapkannya lagi. Sesuai dengan tradisi, ia ingin menyumbangkan sebagian sebagai tanda terima kasih.

Kini, karena ia tinggal di hotel kecil, ia khawatir uang itu lenyap untuk kedua kalinya. Ia bertanya apakah malam itu uangnya bisa dititipkan kepada Gross.

Gross tidak keberatan. Belum pernah ia bertemu orang yang menaruh kepercayaan begitu besar kepadanya. Gross merasa mendapat kehormatan besar dari tamunya.

Goldberg menyerahkan uang itu — yang ternyata asli — tanpa menghitung jumlahnya yang tepat dan tanpa meminta tanda terima.

Ketawa yang mahal

Keesokan paginya Goldberg kembali membawa Horowitz. Horowitz ternyata ingin membeli beberapa arloji yang dijual Gross, tetapi ia ingin menjual dulu tiga butir intan lepas dan dua cincin intan.

"Saya bukan ahli intan," kata Gross. "Saya tidak mungkin memberi tahu nilai intan itu, tapi dengan senang hati saya bisa menanyakan kepada teman saya."

Goldberg dan Horowitz setuju. Mereka meninggalkan intan itu pada Gross dengan janji akan kembali kemudian. Gross menanyakan harga intan itu kepada temannya, yang memberi harga sekitar 12.000 dolar.

Ketika Goldberg, Horowitz dan Gross bertemu lagi di apartemen Gross, Horowitz berkata bahwa harga yang disebutkan itu cukup pantas, tetapi ia ingin berpikir dulu.

"Sebaiknya memang dipikir dulu baik-baik," kata Gross. "Jangan terburu-buru."

Horowitz perlu berbelanja. "Apakah anda tidak keberatan untuk memberi uang muka dulu sedikit?" tanyanya kepada Gross. "Sebagai jaminan, intan itu saya tinggalkan dan juga sebuah cek."

Horowitz menulis cek untuk 2.000 dolar dan Gross memberinya uang dalam bentuk frank Swis. Ia juga mengundang dua orang itu untuk datang nanti malam ke rumahnya, menikmati masakan istrinya.

Mereka setuju dan Goldberg menganjurkan agar sebelumnya mereka bertemu dulu di sinagoga. Gross setuju.

Gross menunjukkan bahwa ia menaruh intan dan cek dalam sebuah jambangan dekat dinding di kamar makan. "Uang Anda saya taruh di sini juga," katanya.

Tempat itu tidak akan dikira maling sebagai tempat menaruh barang berharga. Goldberg dan Horowitz berdiri juga dekat jambangan itu, ketika Goldberg membuat lelucon yang membuat mereka bertiga tertawa terbahak-bahak.

Setelah itu dua tamu tersebut minta diri untuk pergi berbelanja. Sorenya Gross pergi ke sinagoga.

Ia menunggu-nunggu kedatangan tamu-tamunya, tetapi mereka tidak muncul. Pukul 20.30 ia pulang dengan waswas. Diperiksanya jambangan. Ternyata intan dan uang titipan sudah lenyap.

Rupanya dicomot penipu pada saat Gross terbahak-bahak mendengar lelucon. Cek yang ditinggalkan sudah tentu cek kosong.

Sebulan sesudah peristiwa penipuan di Jenewa itu, Sicot menerima laporan dari Scotland Yard. Chazan dan partner-nya melarikan intan seharga 600 poundsterling di Leeds, Inggris. Bagaimana ia bisa malang melintang di pelbagai negara, walaupun Interpol sudah berulang-ulang memberi peringatan kepada yang berwajib di pelbagai bagian dunia?

Dicegat di Belgia

Tidak lama setelah itu, Komisaris Jenderal Kepolisian Belgia Firmin Franssen (kemudian ia menjadi ketua Interpol) menerima bisikan bahwa dua maling intan yang terkenal kelicinannya sedang dalam perjalanan menuju ke Belgia.

Antwerpen di Belgia merupakan salah satu pusat intan yang paling penting di dunia. Di sana uang dalam jumlah besar berganti tangan setiap hari dalam dunia perdagangan intan. Polisi Belgia pun menyiapkan pengawasan dan perlindungan khusus di kota itu.

Menurut desas-desus, salah seorang maling itu bernama Chande. Yang seorang lagi bernama Simonetti.

Simonetti itu bertubuh kecil dan berkacamata. Ia terpelajar, pandai bicara. Jadi cocok dengan gambaran yang diberikan Interpol. Konon keduanya pernah melakukan kejahatan di Meksiko dan New York.

Cepat-cepat Franssen menyurati Edgar Hoover, Direktur FBI di Washington, D.C. sambil melampirkan foto Chande dan gambaran tentang Simonetti. Franssen mengharapkan Hoover bisa memberi keterangan lebih banyak tentang kedua orang itu, karena ketika itu FBI mempunyai arsip sidik jari yang paling baik.

Tanggal 23 Desember Hoover menjawab. Ia memberi keterangan mendetail tentang kejahatan yang dilakukan dua orang itu di Meksiko dan New York, namun menyatakan tidak mempunyai sidik jari Simonetti.

Seandainya punya pun mereka sudah terlambat memberi tahu Franssen, sebab sebelum surat itu datang, kedua penipu itu sudah berhasil menggaet batu permata di Antwerpen.

Tanggal 10 Desember seorang pria yang mengaku bernama Benyamin Rabinowitz masuk ke sinagoga yang penuh orang. Mula-mula ia cuma menjadi pendengar diskusi mengenai hukum-hukum Yahudi seperti yang termuat dalam Talmud.

Lalu dengan cara yang simpatik ia ikut menyuntikkan pendapatnya. Tidak lama kemudian ia sudah terlibat dalam diskusi itu.

Lama-kelamaan orang lain asyik menjadi pendengarnya. Mereka terpesona akan pengetahuannya mengenai isi Talmud. Dari caranya berbicara Yiddish, salah seorang di antara mereka merasa yakin ia berasal dari Hongaria, dekat perbatasan Rumania.

Sesudah diskusi selesai, Rabinowitz diundang minum teh ke rumah Pincus Rubin. Mereka ternyata mengenal beberapa orang yang sama di kamp Nazi, sehingga mereka mengobrol tentang nasib teman-teman tersebut kemudian.

Setelah mengobrol kira-kira satu jam, Rabinowitz secara sambil lalu berkata bahwa ia mempunyai beberapa intan dan perhiasan yang ingin ia jual. Ia bertanya, apakah tuan rumah mengenal orang yang bisa dipercaya, yang berniat membeli benda-benda itu?

Rubin memandang batu-batu yang diperlihatkan Rabinowitz, lalu mengusulkan beberapa nama. Ia bahkan memberikan kartu namanya untuk dipakai sebagai 'pembuka pintu'.

Rabinowitz kembali ke sinagoga. Ketika itu kepandaiannya sudah diketahui teman-teman Pincus Rubin. Jadi mudah saja baginya mendapat kepercayaan seseorang bernama Silberstein.

Kepada orang itu Rabinowitz menyatakan ingin menjual dua buah intan dan ingin membeli seuntai kalung permata untuk istrinya. Ephraim Silberstein mengundang Rabinowitz ke apartemennya yang sempit di Large Kievit-straat no. 5.

Silberstein seperti banyak orang lain yang kena tipu sebelumnya, bukanlah pedagang besar intan, melainkan pedagang kecil yang umumnya hidup dari komisi.

Seperti halnya pembicaraan bisnis lain, mula-mula mereka mengobrol dulu tentang hal lain. Rabinowitz mengaku pedagang tekstil di Negeri Belanda.

Setelah itu barulah ia mengeluarkan kedua intannya yang diperiksa di bawah lup oleh Silberstein. Kedua intan yang besarnya di atas dua karat itu dinilai bagus dan Silberstein menawarkan diri untuk membawanya pada Beurs untuk dinilai harganya.

Ia juga akan sekalian membawa kalung permata untuk dilihat oleh Rabinowitz. Silberstein merasa mendapat kehormatan, karena Rabinowitz begitu percaya padanya.

Wanita memang susah

Menurut Beurs, harga intan-intan Rabinowitz itu sekitar seperempat juta franc Belgia atau kira-kira 5.000 dolar waktu itu. Silberstein memilih dari temannya seuntai kalung yang anggun, bukan yang mencolok, sebab orang terpelajar seperti Rabinowitz diperkirakannya tidak suka barang-barang yang norak.

Kalung itu terdiri atas seratus intan kecil dan sedang yang diikat dengan platina. Kalau kalung itu laku dijual pada Rabinowitz, ia akan menerima komisi dari penjual.

Rabinowitz datang ke apartemen Silberstein sekitar pukul 14.00. Tamu itu membawa seorang teman yang diperkenalkan sebagai Blas. Mereka disambut hangat. Nyonya rumah, Esther, dan pembantunya yang bernama Rosa, sibuk menyediakan suguhan.

Silberstein menyerahkan dua intan Rabinowitz dan mengeluarkan juga kalung permata yang anggun. Esther dan Rosa yang kebetulan ada dekat pintu ruangan sampai terpukau melihat keindahannya.

Rabinowitz membawanya ke dekat jendela untuk dipandangi dan berkata kepada temannya, Blas: "Ah, cantiknya! Bagaimana pendapatmu? Apakah Rebecca akan menyukainya?"

"Wanita memang susah," jawab Blas. "Diberi topi dia ingin sepatu. Diberi sepatu dia ingin mantel."

"Ah, mustahil barang seindah ini tidak ia sukai," kata Rabinowitz.

"Eh, rasanya Rebecca tidak pernah memakai kalung. Apa kau ingat ia pernah memakai kalung? Dia senang bros 'kan?"

Wajah Rabinowitz tiba-tiba berubah. "Kau benar," katanya seperti orang kecewa. "Ia selalu memakai bros."

Lalu ia berkata kepada Silberstein. "Tuan Silberstein, saya minta maaf, karena merepotkan Anda. Bisakah saya dibawakan bros saja? Bros yang seindah kalung ini?"

Silberstein agak kecewa juga, namun ia menyanggupi. Ia bilang ia akan buru-buru pergi ke kantornya untuk mengambil beberapa bros. Ia minta tamu-tamu itu bersabar menunggunya.

Rabinowitz sekali lagi minta maaf, karena merepotkan dan Silberstein luluh hatinya, karena sikap Rabinowitz yang tampak betul-betul menyesal. Silberstein bermaksud membawa pergi kalung permata yang sudah ditolak itu, tetapi Rabinowitz meminta agar kalung itu ditinggal dulu agar keindahannya bisa ia nikmati lebih lama.

"Ini benar-benar hasil seni," katanya.

Silberstein senang, karena pilihannya dihargai begitu tinggi, jadi benda berharga itu ditinggalkannya di atas meja. Agar Silberstein merasa tidak curiga, Rabinowitz menawarkan diri untuk menemani Silberstein pergi ke kantornya dengan Blas.

"Bagaimana, Blas?" tanyanya.

Blas menguap dan menyatakan ia lelah sekali. Jadi mereka berdua tidak jadi ikut dengan Silberstein.

Hampir semaput

Silberstein sendiri merasa senang kedua tamu itu tidak jadi ikut. Ia tidak mau keduanya tahu bahwa ia cuma pedagang kecil yang hidup dari komisi.

Sebelum berangkat dicomotnya dua intan milik Rabinowitz yang ada di meja, untuk dimasukkan ke dompetnya. Namun ketika ia akan melangkah ke luar, Rabinowitz bertanya apakah Silberstein tidak takut dicopet?

Silberstein berpikir bahwa intan itu masih milik Rabinowitz, jadi ia tidak bisa lain daripada mengeluarkannya lagi dari dompet untuk ditinggalkan di meja bersama kalung.

Sesudah suaminya pergi, Esther minta diri untuk meneruskan pekerjaannya di dapur. Rabinowitz mengikutinya dan berdiri mengalangi pintu untuk bercerita mengenai bisnis tekstilnya di Negeri Belanda. Ia juga minta nasihat Esther perihal kalung dan bros.

Kemudian Blas minta izin pergi ke WC. Di apartemen seperti itu WC hanya bisa dicapai lewat dapur. Rabinowitz pun kembali duduk di dekat meja makan, tempat intan dan kalung ditaruh.

Waktu Blas kembali dari WC ia berdiri agak lama di dapur dan mengalangi pandangan Esther ke kamar makan. Kemudian Rabinowitz berkata kepada Esther bahwa tampaknya Silberstein pergi agak lama. Ia minta izin untuk berbelanja sebentar.

"Maklum kalau saya pulang anak-anak biasanya bukan menyambut karena rindu, tetapi karena ingin oleh-oleh," katanya.

Kedua orang itu pun pergi. Setelah mereka keluar dari apartemen, Esther merasa waswas. Jangan-jangan nanti suaminya marah, karena ia membiarkan tamu-tamu itu pergi.

Benar saja! Tidak lama kemudian Silberstein yang kembali membawa bros merasa kaget sekali mendapati kedua tamunya sudah lenyap. "Esther, Esther, mana mereka? Mana kalung itu?" Kalung dan intan-intan di meja sudah lenyap.

Silberstein terhenyak di kursi. Ia tidak bisa berbicara apa-apa lagi, walaupun diguncang-guncang oleh istrinya. "Polisi! Cepat, polisi!" teriak Esther. Bertiga dengan Rosa mereka berlari ke jalan.

Yang diperoleh polisi dari rumah Silberstein hanyalah sidik jari kedua maling itu. Sidik jari itu tertera dengan jelas di gelas minum mereka.

Sore itu foto sidik jari mereka dikirim ke Marcel Sicot di Interpol. Blas tidak lain dari Chazan. Chazan kita ketahui dikenal pula sebagai Fabian Blas Chande y Rossano.

Menurut FBI, Rabinowitz mungkin Luis Simonetti. Ia memiliki paspor dengan nama Simonetti dan pernah masuk AS dengan visa atas nama itu.

Nama aslinya mungkin Weider. Ia mempergunakan juga banyak alias, antara lain Shapiro.

Nama Shapiro dipakainya di Meksiko untuk menggaet intan dan perhiasan senilai 6.000 dolar. Di New York dengan nama Weider ia pergi bersama Chande ke toko perhiasan untuk menjual enam buah intan yang dihargai 6.000 dolar. Pemilik toko setuju membelinya, namun hanya memiliki uang kontan 4.000 dolar.

Weider dan Chande bersedia meninggalkan intan itu dan akan kembali mengambil sisanya 2.000 dolar lagi. Intan itu dimasukkan ke amplop dan disegel menurut cara yang biasa. Saat itu Weider minta rokok dan ketika ditinggal sebentar, ia menukarkan isi amplop itu dengan beling biasa.

Dibantu FBI

J. Edgar Hoover dari FBI melampirkan foto Weider dan Chande berikut sidik jari mereka yang diambil di Kedubes AS di Meksiko waktu meminta visa. Ketika visa itu diminta, polisi AS belum tahu bahwa Weider alias Shapiro itu bepergian dengan paspor atas nama Simonetti.

Marcel Sicot senang sekali mendapat keterangan yang berharga itu. Setelah memeriksa foto, sidik jari dan sebagainya, ia dan rekan-rekannya sependapat bahwa Simonetti adalah pria yang mereka cari dan Chazan merupakan pembantunya. Sicot yakin, kalau saja Simonetti masuk ke Prancis, ia akan tertangkap.

Sicot menunggu laporan dari tempat-tempat pemeriksaan paspor di perbatasan. Beberapa minggu kemudian ia menerima laporan, tetapi bukan yang diharapkannya. Simonetti sudah masuk Prancis, tetapi sudah keluar lagi dengan selamat.

Di Nice Simonetti menipu petugas gadai. Ia mengaku bernama Basel Horowitz dan mendapat pinjaman sejuta franc dengan jaminan kalung yang gambarannya mirip sekali dengan kalung yang dicuri dari Silberstein. Ketika keesokan harinya petugas gadai memeriksa kalung, ternyata benda itu cuma replika.

Beberapa hari kemudian Simonetti muncul di Paris dengan nama Steimer dan mengeduk intan seharga 600.000 franc. Berapa banyak paspor dimiliki Simonetti, pikir Sicot. Ia merasa tidak berdaya.

Laporan berikutnya datang dari Pretoria di Afrika Selatan. Tanggal 17 Maret 1953 dua pria yang digambarkan mirip betul Simonetti dan Chazan berhasil membawa kabur intan seharga 5.500 poundsterling. Sicot tambah sibuk menghubungi seluruh dunia. Ternyata di Port Louis, ibukota Mauritius, Chazan tertangkap.

Simonetti lolos. Sicot mengirim berita ke pelbagai pelabuhan udara di Eropa, untuk meminta mereka waspada, namun Simonetti lenyap entah ke mana.

Sepatunya ada di depan pintu

Suatu Minggu pagi, tanggal 29 Maret, ketika Sicot sedang tidur ia ditelepon oleh Detektif Haffa. Orang yang mereka cari ada di Paris!

Haffa dan Brigandat kini sedang memeriksa daftar tamu hotel-hotel. Masa itu tiap tamu hotel di Paris harus mengisi formulir dari polisi.

Semenit kemudian Sicot sudah selesai berpakaian. Ia melompat ke mobilnya untuk pergi ke kantornya. Ketika ia masuk teleponnya sedang berdering-dering.

Brigandat memberi tahu bahwa Simonetti terdaftar di Hotel St. Germain. Hotel itu diamat-amati sejak pukul 06.00.

Kata petugas hotel, Simonetti ada di kamarnya. Lama ia ditunggu-tunggu, tidak juga keluar.

Akhirnya Brigandat menghubungi manajer hotel. Mereka diberi tahu bahwa Simonetti menempati kamar no. 101. Seorang wanita pelayan tadi pagi membawakan teh baginya dan gelasnya masih belum dicuci.

Gelas itu diambil polisi. (Kemudian ternyata gelas itu memperlihatkan sidik jari Simonetti). Pelayan itu yakin Simonetti masih di kamarnya, sebab sepatu mahal milik pria itu masih belum diambil dari muka pintu setelah disemir oleh petugas penyemir sepatu tadi pagi.

Simonetti tidak keluar-keluar juga. Pukul 12.30 petugas yang berjaga di luar sudah biru, karena kedinginan.

Tahu-tahu muncullah seorang pria bertubuh kecil, bertopi anggun, bersetelan mahal dan bersepatu kulit buaya yang baru disemir. Di kancing jasnya terselip sekuntum anyelir merah.

Mula-mula Simonetti tampaknya ragu-ragu melangkah, tetapi kemudian berjalan cepat ke arah rue Bonaparte. Ia tidak curiga.

Tahu-tahu Detektif Renault sudah ada di sebelah kanannya dan Haffa di sebelah kirinya. Polisi-polisi kedinginan yang mengenakan pakaian preman pun siap.

"Monsieur Simonetti?" sapa Haffa.

"Oui? Anda perlu pertolongan saya?" tanyanya dengan agak tercengang.

"Anda ditangkap."

Tidak lama kemudian Sicot mendapat telepon.

"Orang yang kita buru sudah tertangkap, Pak," lapor Brigandat.

Menipu maharaja

Seperti yang sudah diduga, paspor Simonetti palsu. Ia mengaku bernama Belaargas. Ia mengeluarkan paspor Bolivia untuk membuktikannya.

Katanya, ia lahir tahun 1918 di Milan. Ternyata tidak ada catatan di Milan yang menyokong keterangannya.

Lalu ia mengaku lahir tahun 1917 di Odenburg, Austria. Ternyata itu pun tidak bisa dibuktikan, karena di daerah yang kini namanya Sopron dan termasuk wilayah Hongaria itu catatan lama sudah lenyap akibat perang.

Kata Bela, ia mengganti namanya menjadi Simonetti, karena ibunya menikah kembali dengan seseorang bernama Simonetti di La Paz, Bolivia, tahun 1922. Ketika dilacak ke sana, ternyata keterangannya bohong.

Lalu Bela mengaku membeli paspor itu dari orang Bolivia bernama Rodriguez seorang penyelundup emas. Selama sepuluh bulan diinterogasi, Bela memaksa polisi mondar-mandir ke pelbagai penjuru dunia. Pokoknya ia sangat mempersulit polisi.

Silberstein dan Gross yang dihadapkan sebagai saksi mengenalinya sebagai orang yang menipu mereka, tetapi Simonetti tenang saja. Ia juga terbukti penghibur yang pandai.

Ia menggoda polisi yang mengawalnya dengan cara mencuri arloji polisi itu tanpa sang polisi sadar, lalu mengembalikannya lagi. Ia mencopet isi amplop di depan hidung para detektif, lalu mengembalikannya lagi. Sicot dan para detektif menikmati percakapan dan gurauannya.

Nama asli Simonetti tetap tidak diketahui. Menurut salah satu pengakuannya yang dianggap paling masuk akal, ia lahir sebagai Bela Weinberger di Satu-Mare, Rumania Utara. Ayahnya pedagang tekstil yang kaya bernama Abraham Weider. Ibunya bernama Drezel Weinberger. Karena orang tuanya hanya menikah menurut upacara keagamaan, Bela dua belas bersaudara memakai nama ibunya.

Bela sangat cerdas. Ia bisa menjadi rabbi, namun tidak memilih jabatan itu. Karena tinggal di Eropa Tengah yang menjadi jalan persimpangan pelbagai bangsa, ia menguasai bermacam-macam bahasa.

Waktu perang hidupnya sangat sengsara di kamp, namun ia sempat belajar bahasa Rusia, Ceko, Polandia dan sulap dengan mengandalkan keterampilan dan menipu penjaga.

Sesudah keluar dari Kamp Auschwitz ia kembali ke Satu-Mare, menunggu anggota keluarganya yang lain. Ternyata tidak ada satu pun di antara mereka yang muncul. Mereka sudah tewas di kamp. Kesedihan Bela tidak terhiburkan.

Dia pergi mengembara tanpa paspor. Perbatasan demi perbatasan berhasil dilaluinya dengan menipu penjaga.

Ia pergi ke Wina dan menggaet permata dari orang-orang yang dicurigainya memperoleh permata itu secara tidak sah dari orang-orang Yahudi. Tahun 1948 ia ganti nama dan beremigrasi ke Argentina, yang sedang mencari tenaga kerja.

Di sanalah ia bertemu konconya, Hersz Chazan, ahli memalsukan cek. Mereka merasa cocok dan saling membutuhkan dan mulailah petualangan mereka keliling dunia.

Di Mumbai, mereka menipu seorang maharaja, lalu mereka pergi ke Australia, Hong Kong, Afrika Selatan dan tempat-tempat lain.

Sering ketemu lagi

Bela tidak menyimpan uangnya. Uang itu segera habis untuk pakaian anggun, makanan di restoran mahal, ongkos menginap di hotel mewah dan berjudi di kasino. Sebagian ia kirimkan untuk keluarga-keluarga miskin di Israel dan tempat-tempat lain.

Ia menipu karena merasa nikmat bisa mengecoh orang-orang yang tidak menaruh curiga kepadanya. Demikian antara lain pengakuan Bela.

Tanggal 1 Februari 1954 pengadilan Prancis menjatuhkan hukuman penjara tiga tahun padanya ditambah denda. Bela naik banding dan hukumannya dikurangi menjadi tiga puluh bulan penjara, sedangkan dendanya juga dikurangi.

Begitu selesai menjalani hukumannya, ia sudah ditunggu pengadilan negara-negara lain.

Mula-mula ia diekstradisi ke Belgia dan mendapat ganjaran tiga tahun penjara ditambah denda karena mencuri kalung dari Silberstein. Setelah itu ia diekstradisi ke Swis, sedangkan Inggris, Afrika Selatan, AS dll. memutuskan untuk tidak minta ekstradisi.

Sesudah selesai menjalani hukuman Bela tinggal dengan tenang selama enam tahun di Israel. Rupanya ia berubah menjadi orang baik-baik.

Namun dasar maling, kemudian ia mencuri lagi. Sekali ini pencurian-pencurian. yang dilakukannya hanya kecil-kecilan, namun cukup berarti untuk membawanya ke pelbagai penjara di banyak negara.

Setelah tertangkap oleh Sicot dkk. memang ia tidak bisa selicin belut lagi. Bulan Agustus 1980 ia kembali harus berhadapan dengan pengadilan Prancis, karena mencuri intan di sebuah toko kecil di Paris.

Ia mendapat hukuman dua tahun penjara. Nama resminya kini Bed Farcas. Menurut pengakuannya, ia sudah menjadi warga negara Uruguay.

Interpol yakin masih akan sering bertemu dengannya, walaupun kini kelincahannya mungkin sudah berkurang karena dimakan umur (Polly Toynbee)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.